Harga Diri Ayam

Emha Ainun Nadjib

AYAM memang hewan atau binatang, tetapi tak sekadar hewan atau binatang, ia adalah juga ayam. Ia bahkan punya banyak identitas dan kemungkinan eksistensi yang lain.

Ayam juga makhluk dunia, warga dunia, bagian dari alam, peliharaan Pak Kardjo, temannya ayam lain, putra atau putrinya bapak ayam ibu ayam, penghuni kandang ayam pojok RT. Ayam adalah juga hewan, bukan bebek, bukan angsa, bukan burung bukan anjing, bahkan bukan manusia. Identitas mana yang primer mana yang sekunder, itu soal cara pandang. Continue reading “Harga Diri Ayam”

Wacana Konflik yang Memihak

Hasnan Bachtiar *

MENGAGETKAN tatkala membaca esai-esai lawas Soetjipto Wirosardjono yang bertajuk “Kesenjangan” dalam dimensi agama, negara dan rakyat. Sejak terbitnya buku Dialog Kekuasaan (Penerbit Mizan) pada 15 tahun silam, kolumnis kritis ini menegaskan bahwa pelbagai konflik sosial ternyata lebih tepat kalau dimaknai sebagai dampak dari kesenjangan sosial. Betapa jarak begitu jauh antara si kaya dan si miskin (1995: 253). Continue reading “Wacana Konflik yang Memihak”

Realitas Magis Han Gagas

Beni Setia *
suarakarya-online.com

TERMIN realisme ini merujuk ke konteks sastra, secara naif diartikan sebagai narasi deskripsif yang mengungkap aspek kehidupan riil/nyata secara langsung, lugas dan cermat. Meski sesungguhnya kenyataan obyektif tidak bisa utuh ditampilkan dan dikenali lagi seperti apa adanya, karena yang ditampilkan di dalam teks itu kenyataan yang telah diseleksi serta digarisbawahi kepentingan subyektif pengarang. Karena itu lahir sastra bercorak realisme psikis, realisme subyektif (James Joyce, Frans Kafka), atau bahkan realisme magis (Edgar Allan Poe). Continue reading “Realitas Magis Han Gagas”

Pencuci Piring

Salamet Wahedi *
Radar surabaya, 25 Juli 2010

Nama saya Wildanto. Tapi orang-orang selama ini selalu tidak begitu utuh memanggilnya. Bahkan sebagian besar teman-teman saya sering memplesetkannya. Ibu saya yang memberi nama itu, dengan logat desanya, memanggil Bhidanto. Ayah pun setali tiga uang. Nama saya utuh ketika adik saya memanggilnya. Maklum adik saya sudah mengecap bangku sekolah. Continue reading “Pencuci Piring”

Bahasa »