Puisi-Puisi Remmy Novaris DM

http://www.suarakarya-online.com/
Sebatang Pohon

kau bercerita lagi tentang sebatang pohon
tanpa daun, akar dan ranting
sebatang pohon yang tumbuh dari celah batu
kau pun percaya kalau sebatang pohon itu
tidak pernah layu kecuali rapuh

diam-diam kau menyimpan akar,
daun dan ranting
pada seekor kupu-kupu yang selalu
dinyanyikan anak-anak
setiap kali berangkat menuju ke sekolah
kau pun melihat pohon itu tumbuh
di dalam mata anak-anak itu yang berkisah
selalu tentang ranting, daun dan akar,
tanpa sebatang pohon di dalamnya

sejak saat itu kau tak pernah bercerita lagi
tentang sebatang pohon
tetapi akar, daun dan ranting
kau pun kemudian menabunnya
di dalam tidur anak-anak itu
hanya sebagai sebuah dongeng
untuk dibakar dan tidak untuk dipercaya

2011

Klorofil

ada yang lindap pada selembar daun
tapi bukan embun, katamu
kamu pun mencari kisah sebutir air
yang menetes dari selembar daun
dan menggenangi seluruh dataran
itu laut, katamu, tanpa seekor ikan di dalamnya

sementara daun masih menyimpan embun
di telapaknya atau di punggungnya
tanpa pernah menetes menjadi sebutir air
tetapi menguap menjadi hujan dan badai
pada malam hari, ketika kamu bermimpi
mencecap sebutir embun dari selembar daun

2011

Gerimis di Kota Kau

masih basah dalam ingatanku
grimis di kotamu
menyisakan sebatang coklat di mulutku
: makanlah katamu!
tapi udara yang dingin membuatku menggigil
sebab kamu tak ingin kenangan itu
menjadi sebuah kolam yang dapat merendam
seluruh impian kanak-kanak
hanya karena kamu tak bisa berenang
dan menangkap seekor ikan di dalamnya

sudah mengering dalam ingatanku
ketika kau berlari menerobos gerimis
tanpa sehelai benang di tubuhmu
ketika aku mencoba memetik buah ceri
di puncuk buah dadamu
sekedar untuk menikmati ranumnya

gerimis di kotamu menuntunku kembali
ke dalam kabut yang membuatku tersesat
sebab tak kutemukan lagi wajahmu
yang tersimpan
di balik senyuman terakhir

2011

Bukan Perempuan Pilihan

ada yang tumbuh dalam kenangan
di sepanjang pelataran rumput
kini telah menjadi ilalang
menyemak dalam ingatan
sebab tak ada waktu memang
untuk sekedar mengulang

perempuan yang melenggang di balik malam
kini tak lagi melantunkan kebirahian
erangannya yang panjang
telah meruntuhkan seluruh bayangan
jika kau bukan perempuan pilihan

Purworejo-Jkt 2007- 2011

Dipetik Oleh Angin

Seperti daun yang dipetik oleh angin
Kau biarkan dirimu terlepas
dalam sebuah hembusan tanpa musim

pada sayap burung kau berharap
dapat menerbangkan seluruh keyakinan
menjadi sebuah ungkapan yang sederhana
tentang harum bunga
tetapi tetap tak bisa kau bedakan
bagaimana memetik melati atau mawar
apakah pada malam hari atau pagi hari
di mana burung-burung
menghamburkan cecapnya
di pucuk-pucuk dedaunan
di mana embun berkilau serupa permata
kemudian sirna sebelum jatuh menetes ke tanah

sejak saat itu, kau tak pernah lagi percaya
jika daun dipetik oleh musim
dari sayap seekor burung

2011