Religiusitas dalam Sastra

Lilis Indrawati
http://www.kompasiana.com/Lis_Indra

“Ada kerendahan untuk kemahatinggian dalam puisi Berwudlu Air Murni karya Emha Ainun Najib”

Sebagai hasil peristiwa seni yang estetis, karya sastra pada hakikatnya berfungsi sebagai media yang menyenangkan dan berguna. Melalui karya sastra, seseorang dapat memperoleh kesenangan dan bermacam-macam pandangan filsafat, agama, serta cara pandang terhadap diri sendiri, orang lain, dan Tuhan. Dengan adanya korelasi antara sastra dan religiusitas maka lahirlah sastra transendental, yaitu sastra yang membebaskan diri dari aktualitas indrawi manusia. Sastra transendental memasuki dunia hakikat untuk menguak fenomena yang bersemayam di balik realita dan membumikan ayat–ayat Illahiyah untuk menembus dimensi material dalam kehidupan.

Karya sastra (dalam hal ini puisi konvensional) merupakan ekspresi jiwa dan perasaan yang terlahir dari koneksitas vertikal dan horisontal dalam kehidupan penyair. Menurut perspektif Emha Ainun Najib, untuk membedakan antara sastra religius dan tidak, cukup dengan satu pertanyaan: Apakah menemukan keagungan Tuhan dan menuju kepada Tuhan atau tidak?

Emha Ainun Najib (penyair yang berpandangan ”mbanyu mili” di sungai Allah), mengisyaratkan tentang keikhlasan dan ketaatan pemeluk Islam menjalankan ibadah shalat. Keikhlasan untuk mendapat ridho Allah swt. Agar suatu saat nanti dapat menyatu dengan Rosulullah saw dengan kedamaian hakiki dalam telaga Haudl, Al-Kautsar, dan diakui sebagai umatnya.

Wudlu (dalam konteks puisi ini) merupakan bentuk pensucian diri sebelum melakukan shalat.

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (Al Maa’idah: 6)

Ibarat cermin, sholat dapat merefleksikan satu objek menjadi dua arah pantulan. Satu sisi merupakan pantulan duniawi dan sisi yang lain pantulan ukhrowi. Dengan sholat manusia menjadi insan yang bermutu secara mental dan fisik, dengan sholat juga manusia mendapatkan cinta Rosul dan rahmat Illahi.

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Quran dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Al ‘Ankabuut:45)

Dalam puisi ” Berwudlu Air Murni”, penyair menghadirkan pencitraan visual dan gerak untuk memberi efek konkret pada larik-lariknya. Pencitraan (imajery) tersebut juga ”menghidupkan” setiap peristiwa yang terungkap dalam kata-kata. Betapa mesranya antara umat – Rosul dalam kenikmatan abadi, laksana buah surga yang dipetik dari pohon bernama ibadah.

Berwudlu Air Murni
Emha Ainun Najib

Telaga Haudl
Al-Kautsar tercinta
Tempat perjanjian
Muhammad dengan kita
Memadu kasih mesra

Siapa kita siapa bukan kita
Bagaimana Sang Nabi membedakannya?
”O, amatlah mudahnya!” beliau berkata
”Dari wajah kalian memancar cahaya
Berkat wudlu dan sujud yang mengkesima”

Sujud kerendahan kepada kemahatinggian
Sujud ke tanah
Debu menempel di kening
Segala kotoran sirna diserapnya

Berwudlu air murni
Dari hari ke hari
Membasuh kepalsuan
Dengan kesejatian
Mencuci luka di kolam Tuhan

Telaga haudl
Al-Kautsar tercinta
Kita peluk Muhammad tanpa sia
Di air bening telaga
Ma’rifat segala-galanya.

____________
27 September 2011
*) Lilis Indrawati, Guru SMA di Kota Malang
Dijumput dari: http://bahasa.kompasiana.com/2011/09/27/religiusitas-dalam-sastra/

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/