Sepotong Kue Ulang Tahun

Ahmad Zaini*

Setetes air hujan menyentuh bibir saat kuterbaring di bangku tua pada sebuah taman. Kutatap langit hitam menggumpal seakan segera tertumpah di atas bumi raya ini. Kilat bersabung di angkasa mencekamkan suasana senja. Sementara kulihat kanan kiri taman ini sudah sepi. Hanya terlihat petugas kebersihan taman sedang memunguti daun-daun yang luruh tertempa angin.

Rintik hujan semakin kerap. Aku terpaksa melindungi diri dengan mantel yang kuselipkan di bawah jok motor. Bau penguk mantel yang sejak kubeli belum pernah kucuci hampir membuat diriku muntah. Untung hujan deras segera mengguyur sehingga baunya sudah tak menyengat seperti sebelumnya.

Bercak-bercak air memenuhi lubang tanah kusapu dengan roda motor. Airnya memercik hingga mengotori sepatu yang kupakai. Harga sepatu yang tidak seberapa mahal akhirnya kukorbankan berlepotan lumpur yang penting diriku segera sampai ke rumah Yulia.

Jam tangan yang tertutup mantel kuintip. Ternyata jarum jam sudah menunjuk angka 5 sore. Padahal Yulia mengundangku untuk ikut merayakan ulang tahunnya pukul 6.30 malam. Perjalanan sampai ke rumahnya kuperkirakan satu jam lagi. Itu pun kalau cuaca sedang mendukung. Sedangkan sore ini rupanya cuaca tidak bersahabat sehingga aku tak berani memacu motorku lebih kencang seperti biasanya.

“Eit, hampir saja!”

Sebuah lubang di tengah jalan raya hampir mencelakakanku. Untung aku sempat berkelit menghindarinya. Andaikan aku tak waspada mungkin akan seperti temanku yang dua tahun lalu terjatuh dari motor gara-gara terperosok ke dalam lubang di jalan ini.

Semenjak daerah ini sering dilanda banjir, banyak jalan yang rusak dan berlubang. Maka semua pengendara motor harus ekstra hati-hati dan waspada. Mungkin pihak yang terkait dengan infrastruktur jalan raya yang seperti itu sudah bosan memperbaikinya. Bagaimana tidak bosan? Setiap kali jalan raya itu baru selesai diperbaiki, dalam waktu dua hari sudah rusak lagi karena tergenang air.

“Hai, bangsat!”

Umpat kenek truk yang hampir menyenggol sepedaku.

“Bangsat sendiri!” balasku.

Ya, dasar kenek truk. Bisanya hanya mengagetkan orang saja. Dikira jalan raya ini milik kakek-neneknya kali!

“Hargai, dong, pengguna jalan raya! Jangan karena berkendaraan besar, lantas yang kecil-kecil diabaikan,” gerutuku.

Lampu penerang jalan raya sudah menyala semua. Sementara hujan masih mengguyur bumi. Semakin lama hujan ini tampaknya semakin lebat. Aku harus segera sampai ke rumah Yulia. Malu jika nanti saya ketinggalan acara. Motor kupacu dengan kencang tak peduli jalan licin dan berlubang. Berkali-kali aku hampir terpelanting gara-gara aku tak waspada dengan jalan berlubang.

Di perempatan jalan aku hampir saja menabrak seseorang yang melintasi jalan karena ia tak membawa rambu-rambu apapun.

“Maaf, Mas! Aku tak tahu kalau ada motor,” katanya.

“Ya, sama-sama. Saya juga minta maaf yang hampir saja menabrak Bapak. Tapi lain kali kalau mau menyabrang hati-hati dan tengok kanan kiri.

Hari sudah gelap. Lampu motor kunyalakan. Sepanjang jalan tampak beberapa orang dengan membawa bingkisan berjalan di trotoar jalan raya. Mereka menggunakan payung untuk melindungi tubuh dan bingkisannya agar tak kehujanan. Laju motor kuperlambat karena rumah Yulia sudah tampak di depan. Saat kubelok dan masuk halaman rumahnya ternyata orang-orang yang berjalan dan membawa payung itu juga ikut ke rumah Yulia.

“Aduh, Her untung kamu cepat datang! Yulia tidak mau keluar kamar. Ia menunggu kedatanganmu. Ayo cepat segera temui Yulia!” ajak Bu Tarti, bibinya, sambil menyeret tenganku ke kamar Yulia.

“Malam, Yulia!” sapaku.

Yulia kaget mendengar suaraku. Ia kemudian memandang ke arahku dengan mata yang sedikit memerah. Rupanya ia kuatir apabila aku tidak datang memenuhi undangannya.

“Mas Heru, akhirnya kamu datang juga!” ucapnya sembari tersenyum bahagia.

Tak lama kemudian para tamu dan undangan sudah berkumpul di ruang depan rumah Yulia. Mereka memeperhatikan diriku yang berjalan dengan menggandeng tangan Yulia. Ruangan tempat pesta ulang tahun Yulia sedikit tegang. Bola mata para undangan seakan mau melompat keluar. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara ibu Yulia memanggilnya.

“Sini kamu Yulia! Dia itu siapa?”bisik ibunya ke telinga Yulia.

“Dia itu Mas Heru, pacar Yulia, Bu,” jawab Yulia dengan lirih.

“Apa? Pacar!? Tidak Yulia. Kamu tidak boleh berpacaran dengannya. Dia tidak boleh mendampingimu merayakan pesta ulang tahunmu ini. Ibu sudah mengundang Pak Hendardi sebagai pendampingmu. Dia itu orang kaya, berwibawa, dan berpendidikan. Dia sebentar lagi datang,” tegur ibunya.

Yulia kaget saat ibunya menyebut nama Pak Hendardi. Yang ia ketahui Pak Hendardi itu ayahnya Nita teman sekelasku. Memang setahun yang lalu istrinya meninggal dunia karena tersambar petir. Jadi dia itu seorang duda beranak satu, Nita. Dengan serta merta Yulia memberontak dan menolak yang dikatakan ibunya. Ia berlari menuju ke arahku. Kemudian ia menggandeng tanganku. Aku jadi tidak enak karena ibu Yulia tidak merestui hubunganku dengannya.

“Yul, lepaskan tanganku. Lihat tatapan mata ibumu itu! Saya jadi tidak enak pada ibumu,” bisikku.

Belum selesai aku berbisik pada Yulia, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tanganku dan memaksaku keluar dari tempat acara pesta ulang tahun Yulia.

“Pergi kamu! Dan jangan kembali lagi!” perintahnya.

Saat kaki kananku melangkah ingin meninggalkan tempat itu, Yulia berteriak memanggilku. Seketika itu pula langkah kakiku berhenti dan menoleh ke arah suara Yulia. Dia menangis dan memaksa diriku kembali ke tempat acara pesta ulang tahun.

“Jangan kau pedulikan ibuku. Dia itu materialistis! Ayo, kembali ke rumahku!” Yulia menyeret tangaku melewati kerumunan orang-orang yang menenteng tas berisi hidangan yang dibagikan oleh keluarga Yulia.

“Para Bapak, Ibu, dan hadirin sekalian! Acara ulang tahun Yulia yang ke-19 segera dimulai,” aba-aba dari panggung. Saat pemandu acara memanggil Yulia dan menyuruhnya ke panggung, ada seorang lelaki yang berjalan bersama ibu Yulia ke arah saya dan Yulia berdiri.

Dalam pikiranku, aku sepertinya pernah melihat dia? Ternyata dia lelaki yang melintas di perempatan jalan raya dan hampir saja tertabrak motorku. Tapi kenapa dia saat itu kok berjalan kaki? Padahal kata Ibu Yulia dia itu seorang yang berwibawa dan kaya raya. Ada yang tidak beres sepertinya.

“Para Hadirin, kita sambut Yulia yang akan merayakan ulang tahunnya yang ke-19. Dia kali ini tidak sendiri. Dia ditemani oleh calon pacar sekaligus calon suaminya. Kita tunggu… siapa dia calon suami Yulia…?”

Para hadirin terdiam dan terhenyak menantikan kejutan dalam pesta kali ini. Mata para undangan menyapu ke semua penjuru ruangan ini. Ia ingin tahu siapa sebenarnya calon suami Yulia. Betapa kagetnya hati para undangan ternyata calon suami Yulia jauh lebih tua dari dirinya.

Yulia melompat dari panggung, ia menangis sambil berlari menuju kamar. Sedangkan ibu Yulia panik melihat kejadian yang baru saja ia lihat. Mukanya merah padam menahan malu kepada para undangan khususnya kepada pak Hendardi. Ia berlari menyusul Yulia yang lebih dahulu tiba di kamar.

“Yulia, apa maksud semua ini?”

“Saya tidak mau dijodohkan dengan lelaki itu. Saya malu, Bu!”

“Kamu harus memikirkan masa depanmu. Pak Hendardi itu orang kaya yang sudah punya pekerjaan tetap. Ingat itu Yulia!” bentaknya.

“Saya sudah terlanjur cinta dengan Mas Heru, Bu,” kata Yulia.

“Apa yang kau andalkan darinya. Dia tak ubahnya seperti orang gelandangan yang setiap hari hidup di jalanan. Kamu mau jadi gelandangan, hah!” kata ibunya dengan mata melotot.

“Pokoknya saya tidak mau dengan dia. Aku memilih Mas Heru, titik!” putus Yulia.

Ibunya hanya terdiam tak mampu berkata-kata lagi. Ia malu kepada para undangan yang memenuhi ruangan tempat pesta. Pemandu acara kemudia meminta para undangan bersabar dan meminta maaf atas kejadian yang baru saja mereka lihat.

Di sela-sela kerumunan undangan aku duduk termenung seorang diri. Pada sebuah kursi aku menumpahkan segala keharuanku yang ternyata Yulia memang benar-benar mencintaiku.

Saya kaget saat Yulia berjalan mendekatiku dengan sepotong kue ulang tahun di tangannya. Perlahan tangannya bergerak kemudian menyuapi diriku dengan kue tersebut. Senyum manisnya mengundang keharuan para undangan. Kemudian ia menarik tanganku menyuruh kuberdiri. Perlahan-lahan aku bangkit dan berjalan mendampingi Yulia merayakan ulang tahunnya. Dia mengajakku naik ke panggung lalu memperkenalkan diriku pada para hadirin yang masih sabar menanti acara hingga usai.

*) Cerpenis beralamat di Wanar Pucuk Lamongan