Surga Ada di Dekatmu

Ahmad Zaini

Hamparan kebun kelapa sawit tumbuh hijau di atas tanah milik saudagar kaya raya, Suparman. Puluhan pekerja setiap hari bekerja di kebun lelaki yang sangat disegani penduduk di daerah itu. Sementara sang majikan, Suparman, hanya duduk manis di atas kap mobil mewah yang diparkir di pinggir perkebunan sawit miliknya. Caping melingkar lebar di atas kepalanya separuh menutupi wajahnya yang dipenuhi jambang lebat. Terkadang penampilannya itu sampai mengelabui pekerjanya sendiri dikira pengusaha kepala sawit lain yang ingin bekerja sama dengan Suparman.

Hasil dari berkebun sawit Suparman memang di atas rata-rata. Jika yang lain dalam sekali panen dapat menghasilkan uang sekitar lima ratus juta, maka Suparman dapat menghasilkan dua kali lipat atau bahkan tiga kali lipat. Empat buah Mobil mewah yang diparkir di depan rumah itu juga dibeli dari hasil berkebun kelapa sawit.

“Pak, kelapa sawit yang berada di pekarangan sebelah kebun Sali sudah bisa dipanen dalam waktu seminggu lagi,” lapor salah satu pekerjanya.

“Baik. Persiapkan segala sesuatunya,” perintah sang majikan kepada pekerjanya. Kemudian Suparman menghisap asap cerutu yang sejak tadi dijepit dengan kedua jari kirinya yang hitam legam.

Tiupan angin siang sudah mulai menggerahkan badan. Suparman turun dari kap mobil mewahnya kemudian masuk ke dalam mobil itu. Tangan kekarnya menombol power AC yang berada dalam mobilnya. Tiga kancing baju bagian atas ia buka latas kepala disandarkan pada jok mobil depannya. Dinginnya hawa AC ternyata melelapkan mata sang majikan yang kaya raya tersebut.

“Bos, Bos! Bangun, Bos! Ada tamu,” kata Amir sopir pribadinya. Suparman terbangun lantas bergegas membuka daun pintu mobilnya. Ia melihat di belakang mobil seorang tamu dari Jawa.

“Wah, kamu Samsul. Apa kabar? Bagimana bisnis kelapa sawitmu?” tanya Suparman dengan merangkul pundak Samsul.

“Syukur, baik-baik saja. Terus bagaimana usahamu berkebun kelapa sawit?” Sambul balik bertanya.

“Ya, seperti yang Engaku lihat sendiri,” jawabnya dengan menunjuk ke arah perkebunan miliknya.

Dua orang pengusaha bertemu di area perkebunan rasanya kurang sempurna. Suparman kemudian mengajak Samsul untuk ke rumahnya. Jari-jarinya memencet ponsel yang selalu menemani ke mana dia berada.

“Bu, siapkan tempat dan makanan yang enak! Ini ada Pak Samsul rekan bisnis kepala sawit dari Jawa,” Suparman mengontak istrinya yang berada di rumah.

Kedua orang itu lantas masuk ke mobil mewah yang tak lama kemudian mobil tersebut lenyap di balik rimbun pepohonan sawit.

Rumah megah berinterior mahal ala eropa berdiri di sebuah lahan seluas satu hektar. Di kanan kiri rumah terdapat taman dengan aneka bunga yang indah. Setiap mata yang melihat rumah dan pekarangan yang seperti itu tentu saja ngiler.

“Benar-benar edan rumahmu!” kata Samsul takjub dengan bangunan rumah yang super megah.

“Ya. Rumah itu saya bangun dengan dana 1 milyar, lho!” kata Suparman.

Samsul hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala seperti tak percaya dengan semua yang dilihat.

“Bu, ini Pak Samsul. Dulu ketika masih di Jawa dia teman akrabku,” kata Suparman memperkenalkan Samsul kepada istrinya yang cantik jelita itu.

Saudagar yang kaya raya seperti Suparman memang tak kurang satu apa pun. Segala keinginan duniawinya selalu terpenuhi. Dengan harta kekayaan yang dia miliki dia mampu membeli apa saja yang ia mau. Seluruh perkebunan sawit di daerah itu hampir separo telah dibelinya. Namun sayang ada satu kekurangannya. Dia itu orang yang sangat pelit. Pelit kepada pekerjanya, pembantu rumah tangganya, bahkan kepada istrinya sendiri dia juga pelit. Untung istrinya termasuk orang yang sabar dan mengerti masalah agama. Andaikan istrinya itu orang yang judes dan tidak mengerti agama tentu sudah lari beberapa tahun yang lalu.

“Permisi, Pak!” kata Rahmah lemah lembut saat menghidangkan makanan di ruang tamu.

“Oh, iya. Terima kasih!” kata Samsul.

Berbagai jenis makanan tersaji di meja tamu. Namun Suparman diam saja tidak mempersilakan tamunya untuk makan atau sekedar mencicipi hidangan yang berada di depannya.

“Pak, kok, tidak dipersilakan tamunya?” tegur Rahmah saat melihat hidangan di meja masih untuh belum tersentuh.

Suparman kemudian mempersilakan Samsul untuk menikmati hidangan buatan Rahmah, istrinya.

Setelah negobrol beberapa jam sambil menikmati hidangan Samsul kemudian berpamitan kepada tuan rumah. Ia harus segera kembali ke Jawa setelah di telepon karyawannya bahwa pabrik pembuatan minyak kelapa sawit miliknya terbakar. Samsul tampak shok mendengar kejadian seperti itu. Namun rupanya dia pasrah dan mencoba untuk menenangkan dirinya.

Suparman menyuruh sopir pribadinya untuk mengantar Samsul ke bandara. Sedangkan dia hanya mengantar hingga ke pintu rumahnya. Dia diam tak mengucapkan terima kasih atau apa saja kepada tamunya yang jauh-jauh datang dari Jawa.

“Kasihan dia,” gerutunya dalam hati. Suparman kembali ke dalam rumah.
Hari mulai senja. Sinar matahari de sebelah barat sudah tampak kekuning-kuningan. Pertanda hari akan segera malam. Para pekerja Suparman juga sudah mulai datang dari tempat kerjanya. Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan yang khusus disediakan untuk para pekerja. Istri Suparman lantas membawa beberapa bakul nasi untuk persiapan makan malam mereka.

Setelah dipersiapkan kemudian mereka makan dengan lahap. Empat bakul nasi dan lauk-pauk serta lalapan ludes ditelan mereka. Maklumlah sehari hanya di jata makan dua kali. Yaitu pagi sebelem mereka berangkat ke kebun dan malam setelah mereka pulang. Usai makan malam kemudian mereka terlelap tidur.

Di ruang makan suami istri sedang makan malam. Mereka dikagetkan oleh suara ketukan pintu di depan. Suparman masih lahap menyantap masakan yang dibuat oleh istrinya. Rahmah memperhatikan suara ketukan pintu itu kemudian dia berdiri bergegas menuju ke ruang depan. Ada seorang lelaki yang memakai pakaian compang-camping yang berdiri di depan pintu. Rahmah lalu membukanya.

“Permisi Nyonya! Saya adalah pengemis yang kemalaman. Bolehkah saya menumpang nginap di rumah ini?” Lelaki berbadan kurus dan berpakaian lusuh mengiba kepada Rahmah. Ketika Rahmah akan menjawab permintaan dari laki-laki itu dari dalam suaminya berteriak.

“Siapa Rahmah yang di depan?” tanya Suparman kemudian dia muncul di tengah-tengah mereka.

“Dia pengemis yang kemalaman. Di sedang lapar dan ingin menumpang nginap di rumah kita,” jelas Rahmah.

“Cih, tak sudi! Rumah sebagus ini mau dimasuki orang semacam dia. Tidak, Rahmah. Tidak! Suruh dia keluar dan meninggalkan tempat ini dan jangan boleh kembali,” bentak Suparman.

“Jangan begitu, Pak! Kasihan dia. Tubuhnya kurus dan berpakaian compang-camping. Bagaimana dia nanti kalau masuk angin?”

“Pokoknya usir dia. Badan kurus, pakaian compang-camping, masuk angina, itu urusan dia. Mengapa kita ikut memikirkan. Semua itu salahnya sendiri. Dia malas tidak mau bekerja keras. Kerjanya hanya meminta-minta. Hai, pengemis! Saya bisa seperti ini karena hasil kerja keras saya. Mengerti kamu!?” Suara lantang Suparman begitu congkak di hadapan pengemis dan istrinya. Dengan serta merta tangan kekar Suparman menyeret paksa pengemis itu keluar dari rumahnya.

“Sana, pergi! Rasakan angin malam itu! Dasar pemalas!” umpatnya.

Pengemis itu kemudian meninggalkan rumah Suparman dengan hati yang sangat sakit. Walau dia hanya seorang pengemis namun dia juga mempunyai harga diri seperti kebanyak orang.

Sementara Rahmah tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menghela napas panjang dan mengelus dadanya. Rahmah sendiri heran dengan perangai suaminya yang seperti itu.

Setalah kejadian itu Rahmah selalu membayangkan nasib dari pengemis. Dia merasa ikut berdosa lantaran sikap suaminya. Setiap malam matanya sulit dipejamkan. Setiap terpejam bayangan peristiwa itu muncul lagi. Karena tak kuat menahan rasa kantuk Rahmah akhirnya tertidur pulas di samping suaminya yang mendengkur.

Seminggu telah berlalu dari kejadian tersebut. Bisnis Suparman seperti menemui masalah. Samsul yang biasanya membeli kelapa sawit miliknya kini sudah tak pernah lagi menghubunginya. Demikian juga pada pembeli yang lain. Suparman gelisah dengan penghasilan yang semakin lama semakin merosot. Usaha Suparman kini benar-benar kolap. Setiap malam dia tidak tidur-tidur menghitung neraca usahanya. Dia semakin tidak percaya ketika saldo usahanya kini malam minus. Ia menghela napas panjang dari balik meja kerjanya. Rambut yang separo telah beruban ia remas-remas. Sesekali kepalan tangannya menghantam meja kerjanya.

“Ada apa, Pak? Kalau capek, ya, tidur. Sudah larut malam,” Rahmah mengingatkan suaminya.

Suparman berdiri lantas menguak keras menggetarkan segala yang ada di rumahnya.

“Sialan…!” teriaknya lantas dia menjatuhkan tubuhnya di ranjangnya.

Rahmah tampak kasihan dengan suaminya yang capek memikirkan usahanya yang sedang kolap itu.

Pagi hari sebelum berangkat kerja, Suparman menyantap sarapan pagi ditemani istriinya. Dia seakan ingin mengungkapkan sesuatu kepada istrinya. Ia tampak salah tingkah dengen sendirinya.

“Ada apa, Pak? Sejak tadi saya perhatikan Bapak ini kok aneh. Ayo katakan saja! Aku ini istrimu, Pak. Ajaklah menyelesaikan masalah ini.”

“Begini, Rahmah. Usaha kita kini benar-benar bangkrut. Saya tak sanggup lagi membayar hutang yang semakin menumpuk. Saya tak sanggup lagi membayari pekerja-pekerja kita yang setiap hari membantu di kebun kelapa sawit. Untuk menutupi hutang-hutangku, terpaksa seluruh kebun kelapa sawit akan saya jual. Kita sudah tidak punya apa-apa. Saya juga tidak bisa menghidupimu. Maka hari ini kamu akan saya antar ke rumah orang tuamu. Kamu akan saya cerai. Ini adalah keputusanku yang tidak boleh diganggu gugat. Paham!?”

“Tapi, Pak?”

“Tidak ada tapi-tapian. Kemasi semua pakaianmu dan segera kita berangkat!”

Mendengar putusan Suparman yang seperti itu Rahmah lantas menangis. Dia tidak percaya dengan keputusan suaminya. Terlalu cepat menurutnya. Tapi apa boleh buat dia hanya seorang istri. Di harus menurut semua yang dikatakan suaminya walau terasa berat. Rahmah kemudian diantar ke rumah orang tuanya.

Lima bulan setelah dia dicerai suaminya, datanglah lelaki yang berhati baik ke rumah orang tuanya. Dia saudagar yang menginginkan Rahmah menjadi istrinya. Orang tua Rahmah menerima lamaran lelaki itu dan Rahmah pun menerima karena dia sudah sah cerai dari suami pertamanya.

Kedua pasangan itu akhirnya hidup bahagia dalam bahtera rumah tangganya. Pada suatu hari datanglah seorang pengemis. Di mengetuk-ngetuk pintu rumahnya. Si suami memerintahkan Rahmah membuka pintu itu.

“Bu, hari ini kita tahan dulu menikmati makanan ini. Jika yang datang itu adalah pengemis yang sedang kelaparan, berikanlah makanan ini kepadanya. Jika dia adalah gelandangan yang berpakaian compang-camping, maka berikanlah pakaian terbaik yang kita miliki. Jika dia adalah orang yang ingin istirahat di rumah ini, siapkanlah kamar kita untuk ditempatinya. Kita mengalah. Kita harus menghormati dan mengutamakan tamu siapa pun dia,” lelaki itu memberi penjelasan kepada Rahmah.

“Baik, Pak!” jawab Rahmah dengan lemah lembut.

Rahmah kemudian bergegas membukakan pintu depan. Betapa kagetnya dia ketika lelaki yang berpakaian compang-camping di hadapannya adalah Suparman, suami pertamanya. Rahmah berlari ke arah suaminya dan menangis berderai air mata.

“Kenapa kamu menangis, Bu?” tanya suaminya.

“Perlu Bapak ketahui bahwa lelaki pengemis yang berpakaian compang-camping di depan itu adalah suami pertamaku, Suparman!” jawabnya sambil menangis.

“Suruh dia masuk!” perintah suaminya.

Pengemis yang tak lain adalah Suparman itu kemudian masuk. Dia bersalaman dengan suami Rahmah dengan rasa malu yang tiada terkira. Kemudian suami Rahmah menyodorkan handuk kepada Suparman lalu menyuruhnya mandi. Pakaian yang bagus telah dipersiapkan suami Rahmah agar dipakai Suparman.

“Silakan dipakai pakaian itu, dan mari makan bersama-sama ke ruang makan!” ajak suami Rahmah.

Suparman memakan hidangan di meja makan dengan lahap karena terlalu lapar. Kemudian segelas air putih ia minum hingga tak tersisa walau hanya setetes. Rahmah kemudian membereskan semua perabot yang tersisa di atas meja makan.

Di ruang tamu mereka berkumpul. Di atas sofa yang bermotif bunga melati mereka duduk santai usai makan. Di atas meja tamu terdapat makanan ringan sebagai camilan saat mereka santai.

Saat mereka duduk-duduk Suami Rahmah ingin mengutarakan sesuatu. Namun, ia merasa berat mengutarakannya hingga beberapa kali ia harus memaksa mulutnya untuk tidak megatakannya.

“E.., begini, Bu. saya ingin mengatakan sesuatu yang belum Ibu ketahui,” kata suami Ramah.

“Sebenarnya saya ini adalah pengemis yang pernah datang ke rumahmu waktu itu. Karena saya adalah orang hina maka suamimu, Pak Suparman, ini mengusirku. Setelah saya pergi dari rumahmu itu kemudian saya menolong seseorang yang mengalami kecelakaan. Dengan sekuat tanaga saya membopong orang tersebut ke rumah sakit. Dan, saya bersyukur akhirnya orang tadi selamat. Ternyata dia adalah pengusaha kebun kelapa sawit yang kaya raya. Dia akhirnya memberiku separo dari kebun kelapa sawit yang dimilikinya sebagai ucapan terima kasih karena aku telah menolongnya. Sekarang usahaku berkembang seperti yang kamu ketahui sekarang ini.”

Mendengar cerita suami Rahmah, Rahmah yang kini menjadi istri lelaki itu terharu dan menahan rasa malu kepada suaminya sendiri. Ternyata dia adalah pengemis yang diusir suami pertamanya, Suparman. Karena Suami Rahmah adalah orang pemaaf, maka dia telah memaafkan semua yang telah diperbuat oleh Suparman kepada dirinya waktu itu yang kini menjadi pengemis. Dia bahkan menawari Suparman untuk berkeja di perkebunan kelapa sawit miliknya.***

05 Februari 2010