Tuti, Dharta, dan Hari Esok

Eka Budianta*
Kompas, 11 Feb 2007

INDONESIA dikaruniai jiwa-jiwa yang teguh dan pikiran brilian. Itulah kekayaan termahal bangsa ini yang tidak boleh dilupakan. Kepergian dua penyair “paruh waktu”, Tuti Gintini (45) dan AS Dharta (83), pada awal Februari 2007 dengan jelas mencatatkan hal ini. Mengapa terpaksa disebut “penyair paruh waktu”? Karena kepenyairan mereka menumpang pada predikat lain yang lebih mapan.

Tuti Gintini lebih dikenal sebagai wartawati dan produser MetroTV. Ia pernah meraih Hadiah Adinegoro, lambang supremasi wartawan di negeri ini. Tuti adalah seorang penulis pariwisata terbaik untuk Indonesia. Wartawan senior Rosihan Anwar memujinya karena, untuk menuliskan keindahan Tanah Airnya, Tuti menyelam ke dasar lautan. Padahal, penyair yang berjiwa halus ini bukan penyelam. Naik motor dan menyetir mobil pun tidak berani.

Tokoh satu lagi, AS Dharta, adalah pendiri dan sekretaris pertama Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). “Ia lebih banyak berperan sebagai orang partai ketimbang sebagai sastrawan,” kata penyair senior, Taufiq Ismail. Padahal, Dharta—yang akrab dengan Rendra dan dianggap guru oleh mendiang Pramoedya Ananta Toer—sepanjang 1950-an banyak memproduksi esei dan puisi dengan berbagai nama samaran: antara lain Klara Akustia, Kelana Asmara, Yogiswara, dan Rodji.

AS Dharta sendiri semacam singkatan yang menyamar. Aslinya adalah Adi Sidharta, lahir di Cibeber, Cianjur, Jawa Barat, 27 Maret 1924. Adapun Tuti Gintini lahir dengan nama Tan Siau Gin, 26 Januari 1962 di Kemantran, Tegal, Jawa Tengah. Ada banyak alasan mengapa keduanya perlu dikenang dalam sebuah refleksi. Pertama, karena mereka wafat pada hari yang berurutan. Mula-mula Dharta pada hari Rabu, 7 Februari; kemudian Tuti pada Kamis tanggal 8.

Dharta meninggal karena usia lanjut, setelah dirawat di Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta, sedangkan Tuti wafat di klinik Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, menjelang berangkat berobat ke Singapura. Tuti menderita kanker antara jantung dan paru-paru. Mestinya ia berangkat 2 Februari, tetapi batal karena banjir nyaris merendam seluruh Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan rumahnya di Bekasi.

Kegetiran dan penderitaan

Alasan kedua, baik Tuti maupun Dharta mempunyai kepedulian yang mendalam terhadap urusan sosial. “Saya tidak menyangka Tuti telah menjadi penulis dan wartawan yang menyuarakan kepentingan rakyat kecil,” kata Ibundanya, Tjioe Wie Kiauw, yang populer dengan panggilan Ibu Yuliani. Dalam usia 77 tahun, perempuan yang melahirkan Tuti itu terdengar tulus bicaranya dan jernih pikirannya.

“Tuti itu anak mama. Sama sekali tidak mengenal kasih sayang ayah. Ia yatim sejak kecil. Suami saya, Tan Ek Tjioe, tidak mewariskan apa-apa selain lima orang anak yang masih kecil-kecil,” kata Ibu Yuliani. Nadanya getir, sedih, tetapi dibuat humor. Ayahanda Tuti seorang aktivis, tidak pernah pulang sesudah peristiwa 1965. Saudara-saudaranya cuma berani menyebut kata “tersangkut”. Selebihnya hanya penderitaan dalam diam.

Dengan susah payah, berdagang kelontong, Yuliani membesarkan lima anaknya. Tuti yang bungsu. “Kami ini orang susah, tetapi anak-anak saya malah memilih jadi seniman. Bagaimana? Apakah mau jadi lebih melarat lagi?” ia bertanya kepada Dadang Christanto, kakak Tuti.

“Biarin, Ma!” kata Yuliani menirukan anaknya. “Eh, sekarang Dadang jadi pelukis dan pematung terkenal, tinggal di Brisbane, Australia. Kok bisa ya?” Dia juga ingat, Tuti berangkat kuliah ke Jakarta berbekal setumpuk daster untuk dijual. Hingga mendekati ajalnya pun, Tuti gemar berjualan aksesori perempuan, termasuk kalung mote. Kesulitan hidup telah membuatnya ulet dan terus berjuang.

“Musim hujan tidak juga menolongku dari kabut-kabut yang membujukku bersatu dengan luka-luka”. Begitu bunyi satu sajak Tuti Gintini yang paling terkenal. Disiarkan dalam harian Sinar Harapan, 23 Januari 1982, genap seperempat abad sebelum meninggal. Ibu Yuliani heran. “Saya tidak pernah bercerita apa-apa tentang ayah mereka. Tetapi, dalam karya-karya Dadang dan Tuti terasa sakit hati yang tidak berkesudahan,” katanya.

Kegetiran serupa juga dirasakan oleh keluarga AS Dharta. “Sepanjang hidupnya, kepada siapa pun, bapak selalu mendendangkan agar Pasal 33 UUD 45 segera dilaksanakan dengan benar,” kata Ira Dharta, putri semata wayang. Ira ikut merasakan keprihatinan ayahnya atas tidak terjaminnya kesejahteraan rakyat. “Kita harus mengutamakan perlakuan yang manusiawi.” tambah putri penulis buku puisi berjudul Rangsang Detik ini. Dharta pernah menjadi guru bahasa Inggris untuk guru taman kanak-kanak di Cianjur.

Sepanjang hayatnya, Dharta yang dimakamkan tidak jauh dari rumahnya adalah warga Cianjur, persisnya di Cibeber. Setengah abad silam ketika berjaya sebagai Sekretaris Pertama Lekra, Dharta memang banyak bepergian. Sebuah kartu pos bertanggal 20 Februari 1953 dikirimnya dari Wina, Austria, untuk musuh besar dan sahabatnya, HB Jassin. “Ini gambar tempat istirahat buruh di Rumania. Memang bukan suatu surga,” tulisnya bercanda.

Ditambahkan lagi, “Demam musim winter bikin saya rindu hawa panas dan kawan-kawan di Tanah Air.” Perdebatan sastra Indonesia saat itu diramaikan oleh penolakan Dharta terhadap Angkatan ’45 (terutama Chairil Anwar) dengan norma hidupnya. Dalam serangannya: Kepada Seniman “Universiil”, Dharta menulis: “Mengapa HB Jassin tidak mengupas djiwa korrup mereka. Sampai akhir hayatnya, Dharta terkenal suka bicara berapi-api. Prosais Martin Aleida membesuknya di RS UKI seminggu sebelum meninggal. “Cukup lihat dia dari jauh saja. Kalau mendekat, dia pasti bicara penuh semangat sampai dadanya tersengal-sengal,” kenang Martin.

Meski langit kelam

Dengan menggunakan nama Klara Akustia, Dharta menulis sajak-sajak yang heroik, patriotis, penuh semangat. “Tetapi, pada masa Orde Baru, karena takut, banyak kritikus sastra Indonesia sengaja menggelapkan sejarahnya sendiri,” tulis Korrie Layun Rampan, dengan SMS dari Kutai, Kalimantan Timur. Korrie menyatakan tetap kagum pada karya-karya Dharta. “Pengarang Lekra adalah sastrawan Indonesia,” tegasnya.

Ungkapan duka atas wafatnya Tuti dan Dharta bertaburan dari sejumlah seniman di berbagai penjuru. Pelukis Hardi di Jakarta mengenang Tuti sebagai penulis yang melayani dan membesarkan banyak seniman tanpa pamrih. Hal serupa dinyatakan deklamator terkenal, Jose Rizal, yang sedang berada di Tanjung Pinang. “Tuti bersikap familiar dan tidak pernah mengeluh,” katanya.

Dr Henri Supriyanto, pakar ludruk Jawa Timur, mengenang saat-saat menjelang koran tempat mereka bekerja, Sinar Harapan, dibreidel pada Agustus 1985. “Dalam pertemuan dalang di Nganjuk, Tuti bersikap sangat bersaudara, terbuka, dan membagi-bagikan uang saku tanpa arogan,” tulisnya. Tuti dikenang teman-temannya di Lampung, Cirebon, termasuk oleh bintang sinetron Jajang C Noer yang bilang: “Dengan segala kesederhanaan ia perempuan yang mandiri, bertanggung jawab atas keberadaan keluarganya.”

Pernyataan Jajang bahwa Tuti juga seorang ibu yang penuh kasih, dan istri yang penuh pengertian, sama sekali tidak berlebihan. Dalam upacara pelepasan jenazah di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jatibening, Bekasi, hal itu terbukti. Lala, remaja putri 16 tahun, dengan teguh bernyanyi solo di depan jenazah ibunya. Sidang perkabungan terharu mendengarnya.

Putri bungsu dari dua anak Tuti dengan Joseph Ginting itu menyelesaikan lagu dengan merdu dan khidmat: “Aku tahu ada hari esok/Meski langit kan kelam”.

Lala bernyanyi tentang keteguhan hati yang tak terlupakan. Hal serupa dilakukan oleh “anak angkat” Dharta, yaitu Budi Setiyono. Penulis lulusan Universitas Diponegoro, Semarang, itu sedang mengumpulkan esai, puisi, dan berbagai tulisan Dharta. Perlu diingat pikiran-pikiran cemerlang Dharta telah melahirkan cendekiawan baru dari dalam maupun luar negeri.

Itulah potensi pengarang di hari esok. Mereka adalah harta karun setiap bangsa. Karya-karya Tuti Gintini juga sedang dihimpun menjadi biografi dan kesaksian. Sobat kentalnya, Martha Sinaga, menyiapkan biografi Tuti sebagai manusia yang merdeka. Penyair, citra diri sang Maha Pencipta.

* Eka Budianta, Pekerja Budaya
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/02/esai-tuti-dharta-dan-hari-esok.html