WARISAN CHAIRIL; SIKAP DAN ‘FASHION’ PENYAIR

Syam Sdp
http://www.kompasiana.com/syamsdp

SEBAGAI penyair yang dianggap penting dan besar, Chairil Anwar boleh dikata kurang produktif. Karyanya sedikit, karir kepenyairannya selama enam setengah tahun (1942- 1949) hanya menghasilkan 70 puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli dan 4 prosa terjemahan. Total karya yang dihasilkan hanya 94 buah (HB. Jassin: Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45, 1956).

Tapi rupanya, besar tidaknya suatu karya bukan terletak pada kuantitas, namun pada kualitas, pencapaian estetiknya. Adalah Hans Badudu Jassin, seorang putra Gorontalo yang kemudian dikenal sebagai paus sastra Indonesia, menahbiskan Chairil sebagai pelopor puisi modern Indonesia.

Dami N Toda, juga menempatkan Chairil sebagai contoh seniman yang mampu menciptakan satu tradisi kepenyairan. Menurut dia, tiap seniman besar ditandai dengan kempauan menciptakan tradisi kepenyairan tersebut, yang bisa berkembang lebih melembaga menjadi satu mazhab (schola). (Horison No.4-April 1985). Goenawan Mohammad, Jurnalis cum Penyair yang terkenal dengan puisi lirisnya itu, juga mengaku belajar dari tradisi persajakan Chairil Anwar (Penyair muda sebagai Si Malinkundang,1972) .

Sejak di bangku SD, kita mengenal karya Chairil. Sebut saja puisi ‘Aku’, ‘Karawang Bekasi’ yang juga kerap dikumandangkan pada momen tertentu, hari pahlawan atau di atas panggung tujuhbelasan. Petikan puisinya juga sudah terlanjur menjadi milik umum, siapa tak kenal ungkapan “aku mau hidup seribu tahun lagi (aku-semangat, Maret 1943) “kau kembang, aku kumbang” (puisi Taman, Maret 1943), hidup hanya menunda kekalahan ( yang terempas dan yang putus 1949) sekali berarti sudah itu mati (Diponegro , Februari 1943). Sayang, banyak di antara kita yang justru tak mengenal ungkapan populer itu berasal dari Chairil.

Bagi saya, warisan terpenting Chairil bukan hanya karyanya semata, namun lebih jauh adalah sikap kepenyairannya. Dia menegaskan hal ini dalam salah satu pidatonya:

“Tiap seniman harus seorang perintis jalan! Tidak segan memasuki hutan rimba penuh binatang buas, mengarungi lautan lebar tak bertepi, seniman adalah tanda dari hidup yang melepas bebas. Jangan salah sangka, bukan lepas bebas tercapai gapai tak menentu, bukan pula menceraikan diri dari penghidupan bersendiri! Bukan, bukan sekali-kali bukan! Bukan yang begini akibatnya mati sendiri, dan tak ada yang menguburkan. Hanya kemauan, inti hidup, itu yang merdeka,”. (A. Teew , Pokok dan Tokoh dalam Kesusasteraan Baru Indonesia 1953:185)

Chairil tak percaya, pada apa yang disebutnya sebagai “hukum wahyu” dalam proses kreatif. bahwa inspirasi akan datang sendiri pada penyair untuk minta ditulis. Pemahaman demikian oleh Chairil disebut dangkal dan picik, tak lebih dari angin lalu saja. pernyataanya di atas, menandakan bahwa Chairil adalah penyair organik, lebur dalam realitas hidupnya.

Meski demikian, tak sedikit yang menilai bahwa Chairil dan karyanya jauh dari kehidupan masyarakatnya, oleh Subagio Sastrowardoyo, “si binatang jalang” ini disebut sebagai manusia perbatasan (Mestizo Culture), kebarat-baratan. Agak masuk diakal memang, mengingat dia hidup dalam situasi suramnyanya perang dunia kedua yang mengoyak kemanusiaan, mengingat keterpengaruhannya terhadap banyak sastrawan dunia yang mengemuka kala itu, Nietzche, Marsmann, Du Peron, Slauerhoff, Reiner Maria Rilke, dst.

Terlepas dari itu, nama Chairil Anwar terlanjur melegenda dalam kamus perpuisian modern Indonesia, banyak penyair generasi berikutnya yang berkiblat pada tradisi puisi yang dirintisnya. Tak sedikit pula pekerja seni yang hanya mampu mengikuti “fashion” (baca: gaya hidup) Chairil; urakan, tak punya uang, tapi punya banyak kekasih. agaknya semakin berlaku eksentrik, makan semakin nyeniman kelihatannya. Andakah seniman itu ?
________________
Tulisan disampaikan sebagai pengantar diskusi kebudayaan perdana di rumah buku , Kota Gorontalo, Kamis Malam, 9 juni 2011.