White Horse, Oktober 2211

Tandi Skober
http://www.lampungpost.com/

Libya, Oktober 2011

“Tarian tirani itu terhenti Sirte,” tulis saya di sebuah mal berdebu. Pesawat NATO di atas Libya bagaikan laba-laba berserabut ribuan pelor, di darat para pejuang Dewan Transisi Nasional (NTC) merangsek masuk terbakar mesiu, dan Mu’ammar al-Qadhdhafi terpuruk merenda hari terakhir di dalam gorong-gorong pembuangan air. Ia melukis sisa kekuasaan di ruang sempit bercahaya matahari mesiu yang sunyi. Saya dekati Khadafi. Saya bacakan sajak Kwatrin-Kwatrin Musim Gugur Goenawan Mohamad, “Di udara ungu proses pun mulai. Senja membereskan daun-daun. Menyiapkan ranjang mati.”

***

White Horse, Oktober 2211

Saya berdiri di atas mimbar cahaya tertelikung jaringan situs CghK. Ini membuat mataku berkerjap-kerjap. Seraya membetulkan letak jasku, saya coba menenangkan diri. Cahaya aneh kemilau itu sangat menyiksa. Tapi ini kudu kulalui dengan tabah. Ini adalah temu pers perdanaku seusai lima jam yang lalu saya dilantik menjadi presiden Amerika.

Sesaat saya tersenyum. “Republik ini,” ucapku usai menarik napas panjang, “bukan lagi batu nisan raksasa yang merekayasa demokrasi melalui fatwa-fatwa kultural dari peradaban kuno yang aneh. Bukan itu. Juga bukan nyanyian sunyi sebuah negeri yang meletakan hak-hak rakyat pada perbincangan involusi. Juga republik ini bukan lautan air mata yang menaruh matahari raksasa di setiap bilik-bilik ketakutan.”

Sesaat kuhela napas. Lantas kembali kuluncurkan tutur kataku, “Republik ini kudu meletakkan peradaban dalam lanskap keserasian, keselarasan, dan keseimbangan yang penuh dan menyejarah. Sebagai presiden Amerika, saya akan meletakan humanisme kinasih sebagai wajah baru madani Amerika”

“Tuan Presiden,” tiba-tiba seseorang nyeletuk, “Anda itu sosok Indonesianis yang nyaris tidak memiliki apa-apa, kecuali mimpi-mimpi tirani yang masih tersisa dari abad paling busuk. Anda diragukan memiliki partikel terkendali berkualitas Amerika. Saya tidak yakin Anda bisa membawa Amerika lebih baik dari periode Hampu.”

“Seorang Indonesia menjadi presiden Amerika? Mengapa tidak? Indonesia adalah republik ‘Pancur Kaapit Sendang’ diapit dua samudera, juga ‘Sendang Kaapit Pancur’ diapit dua benua. Indonesia diapit cincin api (ring of fire) dan sabuk Alpide. Ini tentu pertanda alam bahwa Indonesia tercipta untuk menjadi negara padang obore di mana dalam banyak hal patut diteladani. Sejak abad 20 hingga 21, dunia melihat Indonesia seperti melihat malaikat penyelamat peradaban. Dan wajar bila Prof Dr. Chuky di akhir abad lalu memosisikan Indonesia sebagai pusat peradaban politika global paling santun.”

“Anda ngaco, Tuan Presiden,” sanggah wartawan lagi, “Chuky itu spesialis demokrasi gaya Asia.”

Saya tersenyum, “Demokrasi itu bermula dari impian muram Eropa ketika peradaban memasuki areal petengt dedet. Dari album sejarah sekitar akhir abad ke-20 orang menempatkan Indonesia masih terjebak perumitan demokratisasi. Tapi Anda bisa catat, kini Amerika, Afrika, Australia, hingga ke ujung lancip Eropa melihat Indonesia pada ruang yang lebih benderang. Anda tahu, Raja Inggris dan rakyatnya baru saja melamar Ki Mardiah, Indonesianis dari Cerbon agar berkenan menjadi perdana menteri lima tahun mendatang. Lantas Australia…”

“Ini Amerika, Tuan Presiden. Anda memang berhasil menjadi presiden lima hingga tujuh periode di sebuah negara kecil di sudut barat Afrika. Lantas Anda dimutasikan menjadi pemimpin Amerika Tengah hingga tahun 2187. Dan untuk pertama kali seorang Indonesianis memimpin Amerika.”

“Lintas mutasi presiden antarnegara adalah sah! Konvensi Dermayu tahun 2162 mengatakan begitu. Perlu lintas mutasi presiden antarnegara. Ini seharusnya Anda catat sebagai pencerahan pola politika global. Ketika tahun 2160 hingga 2200 hampir selama 40 tahun saya menjadi presiden Uganda atau sebelumnya hingga dua dasawarsa memimpin Jepang, maka yang ada adalah pembenaran-pembenaran Konvensi Dermayu 2162 itu. Hasilnya? Anda catat sepanjang 40 tahun Negeri Matahari itu mampu memetakan proyeksi ekonomi hingga ke gugusan manjuah-juah di sebelah selatan Mars.”

“Amerika bukan Asia, Tuan Presiden?”

“Amerika kudu belajar demokrasi Asia.” potong saya.

***

XCimona, Mars 2212

Saya baru saja menikmati jakjazz klasik Ramsey Lewis dan Dave Koz (1977) abad ke-21 Tumba Goreng, ketika jaringan SMM di layar XHj78R tampilkan Chan Go Koch dari Tianmensturasi, China. Ia lemparkan senyum khas yang paling saya sukai. “Ada pesan Tianmensturasi, Tuan Presiden. Hmm, maksud saya, China berharap Tuan Presiden berkenan menjadi presiden kami untuk periode 2216 hingga 2223.”

Saya diam. Dan diam-diam saya merasa amat kesunyian. Terus-menerus menjadi presiden dari satu negara ke negara lain memang menyenangkan. Tapi, di puncak kekuasaan yang selalu kudapatkan adalah kolam kelam kesunyian. Selalu saja pada saat-saat tertentu hadir kerinduan untuk menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja. Selalu saja hadir kerinduan menimang cucu seraya menikmati lintasan jagad raya Bimasakti melalui kapsul yang terlontar dari pusat terminal angkasa luar GHK98M.

Saya menghela napas. Jaringan SMM of. Kini kusandarkan tubuhku agak dalam. Board elektronik memberi sinyal ada kabar dari Papua. Saya tak perduli. Berdiri. Melangkah ke jendela menatap hamparan Amerika yang temaram. Kulayangkan pandang pada perspektif langit yang melengkung. Beberapa kapsul FX15 melintas-lintas. Saya menunduk. Ah, kapsul FX15 itu mengingatkan saya pada cucuku, Ana Kiara Citra. Di kapsul FK202 yang melayang-layang di belahan Asia Tenggara, cucuku itu memijiti bahuku.

“Langit itu luas, Mbah?”

“Ya mahaluas. Seluas memorial nalar yang tak terbatas.”

“Dan Tuhan ada di antara kemahaluasan itu kan, Mbah?”

Saat itu saya terkejut. Ah, cucuku ternyata lebih arif.

“Mbah mau bersaing dengan Tuhan kan? Menjadi penguasa bumi terus-menerus?”

Suara risau cucuku ini mengingatkan file saya 20.12.2011:

Kursi kerap melahirkan tirani. Dan ini ada pada diri Qadhdhafi. Simak, selama 42 tahun, ia telah memosisikan diri menjadi penguasa terlama sebagai pemimpin nonkerajaan keempat sejak tahun 1900. Tarian tirani Qadhdhafi paling tidak kabarkan bahwa selalu saja dari sebuah ruang gelap akan lahir penguasa despostis sekaligus sosok sindrom superstar yang malang. Padahal, kekuasaan pada titik terjauh selalu membunuh dirinya sendiri. Keinginan bertahan untuk berkuasa hanyalah goresan sementara pada permukaan alam yang tak terbatas. Alam membiarkan hal itu bertahan sementara, kemudian menghapuskannya untuk memberi tempat kepada orang lain. “Lalu waktu, bukan giliranku,” tutur penyair Amir Hamzah.

“Lalu waktu, bukan giliranmu, wahai Mu’ammar al-Qadhdhafi,” bisik saya saat itu.

“Seharusnya Mbah tak menerima tawaran Amerika itu,” potong cucuku. Ia matikan panel eksplorer. Kapsul FK202 shut down, “Menjadi diri sendiri, dan sujud di hamparan rumput mahaluas, di bawah lanskap langit Mars merah jingga….”

Bandung, 23 Oktober 2012