”Dick”, (Ketika bahasa Indonesia menjadi kasar, cemar, barbar, dan vulgar)

Arswendo Atmowiloto*
Seputar Indonesia, 11 Mei 2008

PROKLAMASI untuk menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan 17 tahun lebih awal dari proklamasi kemerdekaan Negara Indonesia. Secara resmi pun bahasa Indonesia lebih tua usianya dibandingkan dengan negara kesatuan.

Namun ternyata, dalam hal tertentu,khususnya istilah seks, penggunaannya belum sepenuhnya merdeka. Bahkan, untuk kata ganti alat kelamin yang dibukukan dalam kamus pun dihindarkan penggunaannya, diganti dengan bahasa asing. Sebab, pemakaian bahasa Indonesia yang resmi, yang baik dan benar, terkesan menjadi kasar, cemar, barbar, dan vulgar.

Judul film Namaku Dick akan ditolak sensor jika misalnya dituliskan Namaku Titit atau Namaku Kon***, maaf di sini pun tak bisa dituliskan lengkap. Demikian pula judul pementasan teater Vagina Monolog dan bukan monolog yang lebih kita miliki. Seakan dengan menyebutkan Dick, atau Mr Happy, atau Vagina, atau Mrs Cheerful,pembicaraan menjadi sopan, menjadi santun, anggun,lebih berkelas,lebih beradab.

Sebaliknya, penggunaan memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar malah menjadi biadab. Kenapa begini ya? Tommy F Awuy, budayawan, pianis, juga dosen filsafat seni, mencoba menjabarkan bahwa tekanan moral menduduki peringkat pertama dalam sistem nilai kehidupan bersama. Ini diucapkan spontan dalam diskusi ”Mencari Wajah Film Indonesia” yang diadakan di sanggar Teater Populer di Jakarta, Minggu lalu (4 Mei 2008).

Kalau ini benar dan sedikit banyak menggambarkan tata nilai dan tata krama kehidupan bersama, tak bisa lain kita masih akan selalu berada dalam tatanan penuh basa basi yang mudah bias. Celakanya, bias yang terjadi makin tidak jelas dan bermain dalam batas-batas yang subjektif. Sebagai contoh sederhana, dari judul film saja, karya Teguh Karya Di Balik Kelambu, pada zamannya menuai protes keras dan cukup ganas pada masa itu. Imajinasi dari kalimat itu dianggap lebih berbahaya dibandingkan judul 9 Janda Genit,atau Namaku Dick,atau Maaf, Saya Menghamili Istri Anda, atau Ekstra Largepada masa sekarang ini.

Tapi, pada saat yang sama, kecemasan bisa meninggi ketika ada judul Buruan Cium Gue.Dalam perbandingan lain, judul Ayat-ayat Cinta lebih teduh dibandingkan judul Berbagi Suamiyang gaduh. Agaknya situasi kebiasaan hidup dalam kebiasaan masih akan berlangsung tanpa ukuran yang pasti dan bisa diterima banyak pihak. Ada kalanya dianggap kebablasan, ada kalanya diterima ”blas”, tidak ada apa-apa.

Pada kesempatan itu, saya mengemukakan bahwa sebenarnya nenek moyang kita pada suatu ketika tak terlalu menghindari penyebutanpenyebutan itu dan tidak terasa kasar. Sebut saja kata ”gamblis”, yang menunjuk kepada rambut yang tumbuh antara dubur dan kemaluan, yang mungkin tak ada padanannya dalam bahasa lain.

Kekayaan bahasa, juga keakraban dalam penggunaan, pastilah juga menunjukkan kelebihan dan kegunaan menamai rambut tersebut. Dalam pendekatan budaya, kadang terpikir untuk membandingkan. Ketika masyarakat Yahudi menghindarkan sebutan untuk Sang Mahatinggi dengan huruf-huruf YHWH, yang kemudian menjadi ”Yahweh”, kemudian—bagi komunitas tertentu— menjadi ”Bapa”.

Ada dinamika yang menggetarkan, juga membuahkan sesuatu,sebagaimana menghindarkan penderitaan bagi bangsa kulit hitam ke dalam dunia musik sehingga kita mengenal jazz atau blues, dengan berbagai anak cabang dan anak rantingnya. Lalu,apa ujung dari penghindaran kita dalam bahasa Indonesia untuk menyebutkan alat kelamin?

Barangkali baru menunjukkan kegelisahan kita akan tata nilai dan tata krama yang mencerminkan ”buruk muka cermin dibelah”, barangkali karena kita justru merasa aman, merasa sebagai bangsa yang sopan dengan tetap tak berani mengakui bahasa persatuan kita sendiri.

Analog—dari kata anal, yang dianggap identik dengan lubang di depannya— dengan itu, agaknya kita menggadaikan kembali kemerdekaan berbahasa Indonesia yang disuarakan lebih awal. Kita menggadaikan dan belum tahu kapan berani menebusnya.

*) Arswendo Atmowiloto, Budayawan
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/05/dick-ketika-bahasa-indonesia-menjadi.html