Dua Cermin dari Kematian Moncelli-Khadafi

Salman Rusydie Anwar

Sungguh miris hatiku mendengar kematian Khadafi dan Simoncelli, yang barangkali kematian keduanya tidak pernah disangka-sangka sebelumnya, baik oleh orang lain maupun oleh yang bersangkutan. Memang aku tidak kenal siapa Simoncelli dan Khadafi selain keduanya adalah dua manusia yang sering menjadi berita oleh profesi mereka sebagai pembalap dan presiden.

Tetapi, betapapun itu Moncelli dan Khadafi adalah dua tokoh tak terjangkau dalam sehari-hari kehidupanku, tidak sebagaimana si Toyo, Tatot, Yayo, Agus, Buzairi, namun kepergiannya sanggup menggedor kesadaranku akan batas usia yang selama ini seringkali aku abaikan dengan amat sengaja.

Yah. Betapa rapuhnya memang manusia itu meski dalam tangannya tergenggam kekuasaan, kekuatan, kepiawaian, popularitas dan juga uang. Moncelli tewas seketika saat kepiawaiannya membalap tak mampu mengimbangi dan menghindar dari laju takdir kematian yang mengejarnya.

Pun juga dengan Khadafi. Dia boleh saja memahami dengan amat mahir bagaimana menyelematkan kursi kekuasaan yang ia duduki selama empat puluh tahun atas negara kaya minyak, Libya. Bahkan sah-sah saja Khadafi membentuk pasukan pengaman terlatih yang akan selalu melindungi dirinya dari berbagai macam ancaman yang membahayakan.

Namun Khadafi memang hanya Khadafi. Kekuasaan yang amat begitu lama ia rengkuh pada akhirnya tetap tidak bisa menguasai nasibnya sendiri. Ia harus takluk oleh nasib kematian yang justru menjemputnya dengan amat tragis. Harta berlimpah yang ia miliki tidak sanggup untuk mengganti sejengkal ketentuan yang digariskan Tuhan bahwa ia harus berakhir di sebuah tempat yang barangkali selama ini sangat ia benci dan jauhi, saluran air kotor, got.

Lalu bagaimana denganku? Dengan cara apa kehidupanku akan berakhir? Tak ada yang bisa memastikan apakah kehidupanku akan berakhir dengan amat nyaman, tenang, tanpa melahirkan sekian ribu kemirisan di hati orang-orang terdekatku?

Kematian memang merupakan salah satu rahasia terbesar yang manusia sejenius Einstein saja tak bakalan mampu memahaminya meski ia otak-atik lagi rumus E=mc²-nya yang kesohor itu. Tuhan memang sengaja merahasiakan peristiwa yang tak seorangpun di dunia ini bakal melewatinya dengan tujuan agar manusia berusaha mempersiapkan dengan lebih baik berdasarkan kesadarannya sendiri.

Namun lagi-lagi, ya itu. Manusia memang memiliki ingatan berjangka pendek untuk urusan kematian yang konon kematian itu sendiri adalah gerbang menuju perjalanan berjangka panjang. Bahkan tampa ambang. Begitu halnya dengan diriku. Kematian menempati urutan ke 9.000.000.000 dalam ingatanku sehingga sehari-hari aku selalu sibuk dengan tawa-tiwi sebagai ekspresi kebanggaan atas harta, jabatan, popularitas yang aku miliki.

Apakah keadaan ini merupakan sebuah masalah bagi hidupku?

Jika pertanyaan ini aku ajukan kepada seorang ustadz, maka sangat mungkin sekali ia akan mengatakan itu sebagai sebuah masalah mengingat Kanjeng Nabi Muhammad sendiri sering mewasiatkan agar kita sering-sering mengingat mati.

“Cara terbaik mengingat kematian adalah dengan melakukan persiapan-persiapan untuk menghadapi kejadian yang tak dinyana itu.”

Wow! Kalau begitu berarti caraku mengingat kematian selama ini tidak termasuk cara terbaik. Sebab aku baru ingat mati ketika ada orang meninggal, baik dengan cara mati, kecelakaan atau dibunuh macam Moncelli dan Khadafi itu.

Masalahnya adalah, ketika aku menyaksikan kematian Moncelli dan Khadafi, aku tidak melihat peristiwa itu sebagai sebuah cerminan bahwa mungkin saja suatu ketika aku akan mengalami kematian serupa dengan mereka. Kematian mereka hadir dalam penglihatanku sebagai sebuah tayangan yang menghibur, yang sesudahnya aku akan segera melupakan setelah berganti dengan tayangan-tayangan baru semacam lawak, gosip, musik, kuliner dan entah apalagi.

Dan karenanya aku jadi teringat dengan temuan para ilmuwan di Skotlandia yang menyatakan bahwa seseorang yang menghabiskan waktu di depan televisi dua jam sampai empat jam sehari, maka hal itu akan meningkatkan risiko serangan penyakit jantung dan kematian dini. Aku tertarik dengan istilah “kematian dini” ini karena menurut tafsirku kematian dini itu bisa saja berupa hilangnya kemampuan untuk mengingat mati yang hal ini tidak mungkin terjadi saat seseorang duduk anteng di depan tivi menyaksikan lawakan-lawakan, gosip-gosip, sinetron-sinetron.

Maka kematian dua orang “berprestasi” macam Moncelli dan Khadafi kali ini kembali menyentak kesadaranku bahwa maut itu ternyata amak mudah melibas kepiawaian si Super Sic Moncelli dan sekaligus amat gampang menggusur kekekaran si Singa Tua Khadafi.

Kebumen, 24 Oktober 2011