Mengenang Wafatnya Pramoedya Ananta Toer 5 tahun

Surat-surat Pramoedya Ananta Toer dan Jendral Soeharto
Wandi Barboy Silaban *
http://www.kompasiana.com/wandibs

30 April 2006 di Karet, 5 tahun lalu tepatnya, kembali Indonesia berduka. Ya, di sana terbujurlah sang pengarang yang namanya beberapa kali dicalonkan meraih kandidat nobel di bidang kesusastraan dunia. Tapi, kandidat tinggallah kandidat. Hingga akhir hayatnya, nobel pun tak kunjung jatuh ke tangannya.

Pramoedya Ananta Toer yang akrab disapa Pram oleh rekan sejawatnya itu, memang selalu menjadi sosok kontroversial yang menimbulkan tanya baik pada pihak yang pro maupun pihak yang kontra. Sosoknya adalah sosok individualis yang menjulang setinggi-setingginya. Karya-karyanya yang bertebaran dimana-mana itulah yang memahami siapa dirinya. Pram menyebut karya-karyanya itu sebagai anak-anak ruhaninya. Boleh kita pandang dari satu sisi bahwa ia amat menghargai setiap karya yang telah dihasilkannya. Menulis baginya adalah jalan sunyi untuk berbakti. Ya, berbakti kepada jiwa yang masih murni dengan kemanusiaan. Begitulah.

Pada anak ruhaninya Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (NSSB) diungkap bahwa Presiden Soeharto pernah secara khusus mengirimkan surat kepada Pramoedya Ananta Toer. Berikut saya cuplik kembali dari buku NSSB itu:

Presiden
Republik Indonesia

Kepada:
Sdr. Pramoedya Ananta Toer
di Tefaat Pulau Buru

Saya telah menerima laporan dari PANGKOPKAMTIB Jendral TNI Soemitro tentang keadaan saudara-saudara.

Kekhilafan bagi seorang manusia adalah wajar, namun kewajaran itu harus pula ada kelanjutannya yang wajar. Yakni: Kejujuran, keberanian dan kemampuan untuk menemukan kembali jalan yang benar dan dibenarkan”.

Semoga Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Kasih memberi perlindungan dan bimbingan di dalam Saudara menemukan kembali jalan tersebut. Amin.

Berusaha dan bermohonlah kepadaNya.

Jakarta, 10 Nopember 1973

Presiden Republik Indonesia
(tanda tangan)

Soeharto
Jendral TNI

Dan berikut jawaban tahanan pulau Buru no.641 Pramoedya Ananta Toer:

Kepada Yth.
Bapak Presiden Republik Indonesia

Jendral Soeharto

Dengan hormat,
Terkejut dan terharulah saya menerima surat dari Bapak Presiden, karena tak pernah terkira-kirakan seorang tahanan politik akan mendapat kehormatan yang sedemikian besarnya. Beribu terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas waktu yang sangat berharga dan perhatian Bapak Presiden yang telah dilimpahkan pada saya.

Adalah besar sekali tulisan Bapak Presiden dalam surat tertanggal 10 November 1973 itu bahwa “Kekhilafan bagi manusia adalah wajar” dan “harus pula ada kelanjutannya yang wajar.”

Bapak Presiden RI yang terhormat,

Orang tua saya, dan barangkali demikian juga orang tua umumnya, mendidik saya untuk selalu mencintai kebenaran, keadilan dan keindahan, ilmu pengetahuan, nusa dan bangsa. Dengan pesangon itu saya memasuki dunia dan meninggalkan tapak-tapak kaki bekas perjalanan, yang dapat dinilai oleh siapapun. Maka karenanya surat Bapak Presiden RI yang berseru tentang “Kejujuran, keberanian, dan kemampuan untuk menemukan jalan kembali yang benar dan dibenarkan” adalah seakan-akan seruan dari orang tua sendiri yang selalu mencerlangkan nilai-nilai pesangon tersebut. Jiwa besar memaafkan kekhilafan dan tangan kuat diulurkan pada yang lemah.

Beribu terima kasih atas doa Bapak Presiden RI yang dipanjatkan kepada TYME, karena tak adalah perlindungan dan bimbingan yang benar diluarNya.

Berusaha dan memohon selalu.

Hormat dan salam
dari tahanan politik no.641

Pramoedya Ananta Toer
Wanapura, November 1973

Demikianlah sekilas tentang Pram. Semoga kita tidak melupakannya. Karena yang tertulis akan tetap mengabadi dan yang terucap akan berlalu.
_______________
*) Seorang yang tak bisa melepaskan diri dari dunia tulis-menulis
Dijumput dari: http://sejarah.kompasiana.com/2011/04/30/mengenang-wafatnya-pramoedya-ananta-toer-5-tahun/