Nawal El-Saadawi: Petarung Tangguh Dari Mesir

Qaris Tajudin
Koran Tempo, 30 Mei 2001

Keteguhan Nawal El-Saadawi mempertahankan perkawinan terasa berbeda dengan karya-karyanya yang kerap menggugat lembaga perkawinan itu. Nawal melihat banyak perkawinan yang justru menyengsarakan perempuan.

Bagi Nawal El-Saadawi, feminis dan novelis Mesir, menggugat perkawinan di dunia Arab dengan nada kritis dan tegas adalah hal biasa. Dalam berbagai wawancara, artikel dan novelnya, ia kerap mengungkapkan kegeramannya terhadap ketidakadilan dalam lembaga perkawinan.

Namun kini keadaan tengah berbalik. Pertengahan bulan depan sebuah sidang akan digelar untuk memutuskan nasib perkawinan Nawal. Ya, kini giliran perkawinan Nawal yang sedang digugat. Ada “orang ketiga” yang ingin memisahkan Nawal dengan suaminya, Dr. Sherif Hatata.

Tapi jangan berburuk sangka dulu. Walau ada orang ketiga, namun tidak ada masalah perselingkuhan dalam kasus ini. Orang ketiga yang dimaksud adalah seorang pengacara Mesir bernama Nabil al-Wash yang mungkin belum pernah secara fisik bertemu dengan Nawal atau suaminya. April lalu al-Wash mengajukan permohonan kepada pengadilan Kairo untuk membatalkan ikatan pernikahan Nawal.

Alasan yang dipakai Al-Wash untuk membatalkan perkawinan tersebut karena ia menilai Nawal telah murtad. Dan karena dalam Islam seorang murtad tidak diperkenankan mengikat perkawinan dengan seorang muslim, maka Nawal harus dipisahkan dari suaminya yang muslim itu.

Hal yang sama pernah terjadi pada seorang akademisi Mesir lainnya, Dr. Nasr Abu Zeid, Dosen di Jurusan Filsafat Fakultas Sastra Universitas Kairo ini pada 1996 juga mengalami hal yang sama. Bahkan pengadilan sudah memutuskan bahwa penulis sekuler ini harus berpisah dari isterinya karena dianggap telah murtad. Abu Zeid dan isterinya akhirnya terbang ke Belanda untuk mempertahankan perkawinan mereka.

Tapi nampaknya Nawal tidak akan mengulangi kepasrahan Abu Zeid. Wanita berusia 70 tahun ini berjanji akan terus berjuang dan melawan. “Mereka ingin saya diam, atau ingin saya hidup di pengasingan. Tidak ada yang dapat membuat kami meninggalkan Mesir. Saya tak takut dibunuh,” kata penulis 35 karya sastra ini.

Walau semua rambut Nawal telah memutih dan punggung Hatatah telah bongkok, namun Nawal tetap bertekad untuk mempertahankan kebersamaan mereka. “Tidak ada satu kekuatan pun yang dapat memisahkan kami,” katanya mantap.

Semua jalan ditempuh untuk menyelamatkan perkawinannya. Pada 18 Mei Nawal mengajukan permohonan kpada pengadilan agar gugatan al-Wash yang menurutnya “sakit jiwa’ itu dibatalkan saja. Jaksa Agung Mesir pun setuju dan mengatakan bahwa tidak ada satupun tulisan Nawal yang membuatnya patut dianggap murtad. Tapi pengadilan berkata lain dan Nawal tetap harus berjuang pada 18 Juni mendatang.

Bagi pencinta karya-karya Nawal, keteguhannya mempertahankan perkawinan terasa berbeda dengan karya-karyanya yang kerap menggugat lembaga perkawinan itu, “Istri adalah pelacur yang dibayar paling murah,” kata salah seorang tokoh dalam Novelnya, al-Mar’ah inda Noktah al-Shifr (Perempuan di Titik Nol). Nawal melihat banyak perkawinan yang justru menyengsarakan perempuan. Bahkan pada 1972 ia menulis buku berjudul al-Mar’ah wa al-Jins (Wanita dan Seks) tentang kesengsaraan wanita Mesir dalam perkawinan.

Tapi sejatinya Nawal tidak demikian. Sebenarnya ia tidak menolak lembaga perkawinan, tapi yang ia tolak adalah pemaksaan dan dominasi pria dalam kebersamaan itu. Wanita yang lahir di Kafr Tahla, pinggiran kota Kairo, pada 1931, ini justru menjunjung tinggi perkawinan dan kesetiaan yang didasari oleh cinta.

Bahkan ia menganggap dirinya seperti Isis, tokoh dalam mitologi Mesir kuno yang amat setia kepada suaminya. Otobiografinya pun ia beri judul The Daughter of Isis. Isis adalah isteri seorang Firaun bernama Osiris.

Konon, saudara Osiris bernama Set iri dengan keberhasilan Osiris. Ia pun membunuh Osiris, mencincang mayatnya dan menebarnya ke seluruh pelosok Mesir. Duka dan tangisan Isis yang tiada henti membuat iba Ra, dewa agung Mesir kuno. Dewa Ra pun mengirim Anubis, dewa serigala yang mempunyai kekuatan luar biasa, untuk membantuk Isis mengumpulkan serpihan tubuh suaminya dan membalas dendam kepada Set.

Sidang pengadilan bulan depan bagi Nawal adalah kerikil kecil. Ia pernah mengalami hari-hari yang jauh lebih buruk. Halangan awal perjuangannya adalah pelarangan buku al-Mar’ah wa al-Jins pada 1970-an. Hal itu tak membuatnya jera. Nawal di kemudian hari justru nekat menjadi oposisi independen yang membuatnya meringkuk dalam penjara Anwar Sadat pada 1981.

Setelah keluar dari penjara ia mendirikan Arab Women’s Solidarity Association (ASWA). Namun, itu pun tak kekal. Saat Perang Teluk berkecamuk, Nawal justru menentang Amerika dan memilih terbang ke Irak. Ini tentu saja membuat berang Presiden Mubarak. Akhirnya ASWA ditutup dan majalah Nuun miliknya dibredel.

Jera? Tentu saja tidak. Ia justru kian giat menulis untuk membela hak-hak kaum wanita. Saat ini 22 dari 35 karyanya telah diterbitkan. Kerajinan Nawal membuat gerah kelompok militan. Kelompok fundamentalis, baik dari Islam maupun Kristen, mengancam akan membunuhnya. Ia pun untuk sementara “mengungsi” ke luar negeri. “Saya menerima tawaran dari Universitas Duke untuk mengajar di sana, di samping untuk menyelamatkan diri dari pembunuhan yang direncanakan oleh kelompok Islam dan Kristen garis keras,” kata puteri dari seorang Sufi lulusan Universitas Al-Azhar ini kepada Majalah Tempo.

Masa-masa tersulit telah dilaluinya. Kini tak ada yang mampu membuatnya takut. “Di usia 70 tahun, Sadaawi yang beruban masih tetap seorang petarung,” kata sebuah koran. Ia kini bukan lagi bertarung untuk harga dirinya dan hak-hak wanita, ia bertarung untuk sesuatu yang kadang dikritiknya keras-keras.

Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=199058480123025