‘Papyrus’ yang Mampu Menyihir Penonton

Irwan Kelana
Republika, 31 Mei 2006

Jarang acara peluncuran buku puisi semeriah launching buku Papyrus karya Fatin Hamama itu.

Ketika Tuhan mengirimkan wahyu kepada kekasih-Nya, Muhammad Sang Rasul, berupa Surah Al-Hadid, yang artinya besi, tentu bukan tanpa maksud. Dengan sifat Rabbani-Nya, Allah SWT ingin mendidik hamba-hamba-Nya melalui berbagai kisah dan tamsil. Salah satunya adalah besi.

Dan di tangan Fatin Hamama, penyair lulusan Universitas Al Azhar, Cairo, Mesir, sepotong besi mampu memberikan simbol tentang peran dalam kehidupan. Sekaligus mengajarkan tentang arti kerendahan hati (tawadhu). Simak saja puisinya berikut ini yang berjudul Al Hadid: ”ketika sepotong besi jadi tombakbesi tak pernah tahu/ untuk apa dia dijadikan tombak ketika sepotong besi jadi pisau/ pisau tak pernah tahu/ untuk apa dia jadi pisau ketika sepotong besi jadi peniti/ peniti tak pernah tahu/ untuk apa dia jadi peniti …. ketika besi-besi menjadi senjata/ berubah fungsi/ diam-diam peniti mensyukuri/ ”Aku menjadi, penyemat baju/ seorang sufi setiap hari aku dibawa/ rukuk sujud dan mensyukuri/ nikmat Tuhan yang diberi/ aku tak ingin patah/ biar berkarat aku kini.

Puisi itulah yang sejak awal telah memesona KH Musthafa Bisri, seorang kiai yang juga penyair, ketika Fatin berjumpa dengannya pada tahun 2001 di Jakarta. Maka, lelaki yang akrab dipanggil Gus Mus itu pun menyempatkan diri untuk datang pada acara peluncuran dan baca puisi Papyrus karya Fatin Hamama yang diadakan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Selasa (23/5) malam.

Bahkan Gus Mus pun membacakan sajak berjudul Al Hadid itu dengan terlebih dahulu memberikan pengantar yang cukup panjang dan menarik tentang Fatin dan karya-karyanya. ”Tidak kuran dari 16 surah dalam Alquran yang mengilhami Papyrus karya Fatin Hamama, sejak Surah Al- Fatihah hingga Al-Hadid,” papar Gus Mus.

Ia menambahkan, banyak orang yang mempunyai semangat keberagamaan terlalu besar tanpa diimbangi dengan pemahaman keberagamaan itu sendiri, sehingga jadi masalah. Seharusnya semangat keberagamaan diiringi dengan kerendahan hati untuk belajar mengenai agama itu sendiri. Semangat itulah yang ada pada diri Fatin Hamama,” tandasnya.

Jarang acara peluncuran buku puisi semeriah launching buku Papyrus karya Fatin Hamama itu. Selain diadakan di ruangan mewah dan didahului dengan makan malam, serta ditutup dengan sate padang, acara itu dihadiri oleh banyak sekali tokoh penting. Tak kurang dari Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan dan mantan Menteri Agama A Malik Fajar, serta Pejabat Dubes RI di Mesir, datang dan tetap setia menyimak sampai acara usai.

Pembacaan puisinya pun dimeriahkan oleh para sastrawan terkemuka dan tokoh-tokoh terkenal, seperti Sutardji Calzoum Bachri yang tampil membaca puisi Fatin sambil bertelekan di podium, Taufiq Ismail, Emha Ainun Nadjib, Novia Kolopaling, Leon Agusta, Ahmadun Yosi Herfanda, Diah Hadaning, Anneke Putri, dan Dirut RRI Parni Hadi.

Bahkan kritikus sastra Indonesia asal Australia, Harry Aveling juga tampil di panggung. ”Malam ini saya membawa salam dari penyair dan warga negara Australia untuk orang Indonesia,” kata Harry Aveling yang disambut tepuk tangan penonton yang memadati lantai satu dan lantai dua Teater Kecil TIM.

Para tokoh itu tampil membawakan puisi karya Fatin dengan caranya masing-masing. Sutardji Calzoum Bachari sambil memainkan harmonika dan bertelekan di podium, Emha Ainun Nadjib sambil diiringi musik dan salawat, dan Diah Hadaning sambil dipadukan dengan tari dan lagu.

Namun, tak bisa dipungkiri adalah kepiawaian Fatin Hamama membacakan puisi-puisi karyanya. Penyair yang amat dikagumi oleh sastrawan Malaysia, Baha Zein karena kemerduan dan kebeningan suaranya itu membawakan tiga puisi. Puisi pembuka berjudul Papyrus, sebuah puisi panjang yang berkisah tentang romantika cinta di negeri para Nabi, Mesir. Baju rona merah jambu yang dikenakan oleh Fatin sangat cocok dengan suasana yang dibangun dalam puisi tersebut.

Di pertengahan acara, Fatin sambil mengenakan gaun warna hitam membawakan puisi panjang (sembilan halaman) berjudul Samira dan Sariyem. Puisi itu mengisahkan nasib dua anak manusia, yakni Samira (mantan penari perut yang terbuang, padahal selama ini ia berjasa mendatangkan devisa bagi negaranya); dan Sariyem, TKW asal Indonesia yang hidupnya merana di negeri orang dan tak mendapatkan perlindungan yang pantas walaupun ia telah menyumbangkan tetesan keringat bahkan darahnya untuk Pertiwi tercinta.

Takdir kehidupan yang menyayat hati dan dibawakan dengan penuh penghayatan oleh Fatin membuat sejumlah penonton menitikkan air mata. Tak terkecuali mantan peragawati, Ratih Sanggarwati yang malam itu menjadi pembawa acara. Sebagai puisi penutup, Fatin melantunkan puisi Aku Arus dan Kau Tepian Itu yang mengisahkan kekecewaan seorang gadis karena ternyata lelaki yang dicintainya tak pernah betul-betul mengerti tentang dirinya.

Lelaki itu hanya mengenal atribut dan penampilan luarnya. Puisi yang berlatar belakang daerah Padang Panjang di Sumatera Barat itu terasa makin menusuk kalbu lantaran diiringi dengan musik salung khas Minangkabau. Apalagi Fatin kelahiran Padang Panjang, 15 November 1967 pun mengenakan selendang di kepalanya, yang membuatnya betul-betul tampil sebagai perempuan Minangkabau.

Dijumput dari: http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=Vl9UC1FTC1EH

Istilah pencarian yang masuk: