Perempuan Gembel Debleng

Jusuf AN
__Majalah Esquere, Apri 2011

Bagaimana mungkin? Bawuk, perempuan paling cantik di kampung itu, yang telah sekian lama hidup di kota, ternyata memiliki rambut gembel, rambut kusut yang seolah membeku—beratus helai menyatu menjadi gumpalan-gumpalan—berwarna coklat kemerah-merahan, tak sejuk dipandang. Warga di daerah itu percaya rambut gembel tak boleh dipangkas sekehendak hati. Konon, selain rambut serupa akan tumbuh lagi, si empunya juga akan diserang sakit yang tak remeh.

Tetapi rambut gembel Bawuk punya cerita lain.[1] Betapa tidak, tiga kali ruwatan telah dilaksanakan, rambut serupa bulu domba yang tumbuh di ubun-ubunnya—gembel debleng (semua huruf “e”-nya dieja seperti ketika kau melafalkan kata “emosi”), begitu warga menyebutnya—selalu tumbuh kembali. Berkali-kali pula Bawuk memangkas rambutnya sendiri, nyatanya ia tak diserang sakit apa-apa. Betapa anehnya!

“Semoga ruwatan keempat kali nanti bisa memulihkan rambutnya,” demikian Tamrin, bapaknya Bawuk berharap.

“Tetapi semua syarat dan tertib ruwat mesti dipenuhi dan dilaksanakan lebih hati-hati,” lanjut Sukmi.

Ya, tentu. Bukankah seorang pemuda gagah dari kota akan datang melamar Bawuk. Sungguh, Tamrin dan Sukmi tak ingin anak gadisnya terlunta menjadi janda hanya karena suaminya jijik dengan rambut gembel-nya. Siapa lelaki sudi beristri perempuan berambut gembel? Apalagi calon suami Bawuk berasal dari kota, sulit dipercaya ia akan terima.

Maka, demikianlah, tanpa panjang pikir lagi Sukmi dan Tamrin memanggil Bawuk ke ruang tengah untuk dijelaskan rencana ruwatan esok hari. Sebagaimana yang sudah menjadi tradisi turun-temurun di daerah itu, sebelum dilangsungkan ruwatan potong gembel sang anak akan ditanya apa yang menjadi permintaannya. Inilah saat yang sesungguhnya paling mendebarkan bagi orang tua. Sebab, apa pun yang diminta oleh sang anak wajiblah dirututi. Sekali lagi apa pun maunya. Jika tidak dituruti maka ruwatan pun sia-sia belaka, rambut gembel akan tumbuh kembali, begitu warga percaya berdasar banyak bukti yang telah terjadi.

Senja perlahan turun. Angin bangkit. Kabut berpendaran membagikan dingin. Bawuk keluar dari kamarnya, lalu duduk di sofa empuk. Kepalanya menunduk. Ditanya apa yang diminta, ia diam tak menjawab; tak senyum tak bergerak. Baru setelah Tamrin mendesak, dan Sukmi mengelus tengkuknya penuh kasih sayang, Bawuk menjawab pula, meski dengan suara serak terbata: Bawuk meminta mati[2], sebuah permintaaan yang tak pernah diduga Tamrin dan Sukmi!

***

“Kiai Kaladete[3] menyukai anak kita, Pak,” ujar Sukmi, ketika pertama kali melihat rambut Bawuk yang tadinya berombak menjadi seperti bulu biri-biri.

“Semoga gembel Bawuk membawa berkah dari Kiai Kolodete, bukannya petaka,” Tamrin bergumam, atau lebih tepatnya berdoa.

Sebelum masuk Sekolah Dasar, untuk pertama kali gembel Bawuk diruwat. Sehari sebelum ruwatan dilangsungkan, Sukmi menanyakan apa yang menjadi permintaannya. Pelan dan hati-hati Sukmi bertanya. Lantang dan lugu Bawuk menjawab: “Pesawat terbang. Pesawat terbang.” Sembari berjingkrak-jingkrak girang. Ah, mungkin Bawuk terlalu sering mendengar dongeng Ratu Sima yang bisa terbang melayang-layang di uadara.

“Ratu Sima terbang dengan selendang, bukan pesawat,” jelas Sukmi pelan.

“Apa aku juga bisa terbang dengan selendang?”

“Tentu saja.”

“Bisa?”

“Tapi nanti kalau sudah besar.”

“Aku ingin terbang sekarang, tak mau nunggu besar.”

“Itu gampang, Wuk. Nanti Emak akan ajarkan.”

“Mak bisa?”

Sukmi mengangguk. “Tapi untuk ruwatan rambutmu, tak boleh kau minta pesawat?”

Saat itu Bawuk memang tidak tahu apa itu ruwatan. Dari Sukmi, ia hanya diberi tahu bahwa rambut gembelnya hendak dipangkas dan ia disuruh meminta sesuatu selain pesawat. Maka setelah Sukmi berjanji akan mengajarkan ilmu terbang dengan selendang, Bawuk mengganti permintaannya dengan boneka yang sama sekali tak ia suka. Sukmi gembira. Tamrin yang diam-diam menyimak percakapan mereka keluar dari balik pintu dengan dada lega.

Duduk dipangkuan Sukmi, dinaungi payung sebagai simbol perlindungan dari kesialan Bawuk memandangi lampu templok yang menyala di depannya. Sesekali ia tersenyum, membayangkan dirinya akan bisa terbang seperti Ratu Sima. Kecuali Bawuk, sepuluhan orang yang duduk bersila sembari membaca doa dan mantra-mantra itu tentu tahu untuk apa tiga jenis tumpeng yang dijajarkan di lantai itu. Tumpeng berwarna putih merupakan persembahan untuk Bawuk, tumpeng kuning untuk Nabi Muhammad, dan tumpeng robyong, yang dihiasi taburan kelopak bebunga merupakan persembahan untuk Kiai Kolodete. Bersama tumpeng robyong itulah potongan rambut gembel Bawuk yang baru dipangkas oleh sesepuh kampung dilarung ke sungai Serayu, tak jauh dari kampung itu.

Itulah urutan ruwatan dan syarat yang mesti dipenuhi, selain juga harus tersedia segeluntung ayam panggang dan bermacam jajanan pasar, seperti kue lapis, apem, onde-onde, klepon, dan lainnya.

Setelah ruwatan selesai dan tamu-tamu pulang, Bawuk tergesa mengambil selendang Sukmi yang tersampir di kursi, lalu membebatkan di pinggang dan berlarian mengitari halaman. Ketika melihat Sukmi berdiri di ambang pintu Bawuk segera menghampiri, menagih janji. Dengan enteng Sukmi berujar, orang yang bisa terbang hanya ada dalam dongeng. Ah!

“Emak bohong! Bohong! Mhhe…mhhhe.. ”

Sukmi persetan dengan tangisan Bawuk. Sampai beberapa hari kemudian barulah Sukmi merasa sangat bersalah karena rambut gembel tumbuh kembali di kepala anaknya. Ini terjadi pastilah karena permintaan Bawuk yang tidak dituruti, pikirnya. Kiai Kolodete tak bisa dibohongi.

Ruwatan potong gembel yang kedua dilangsungkan ketika Bawuk naik kelas tiga sekolah dasar. Sebenarnya Tamrin tidak setuju. Ia menganggap rambut Bawuk telah membawa keberkahan. Buktinya, semenjak Bawuk berambut gembel, panen ladangnya kian melimpah. Tanaman kentangnya aman dari ancaman cacing gelang yang ditakutkan semua petani. Ya, Tamrin yakin, bahwa doanya ketika awal mula melihat gembel anaknya didengar oleh Tuhan.

Tetapi Sukmi tidak demikian. Ia mendesak Tamrin untuk segera meruwat rambut Bawuk. Sampai-sampai ia menolak bercinta, membiarkan suaminya dicekut dingin saban malam. “Isteri dosa menolak itu,” kata Tamrin. Ah, Sukmi seakan lebih memilih dosa ketimbang melihat rambut anaknya gembel memerihkan mata. Karena tak kuat bermalam-malam dicekut dingin berat hati akhirnya Tamrin menyetujui permintaan Sukmi.

Bawuk meminta dibelikan sepeda sebagai syarat ruwatan, dan dengan enteng Sukmi mengangguk menyetujui. Tapi, wajah Tamrin nampak tak ikhlas ketika mengeluarkan lembaran uang kertas di depan kasir toko sepeda, dan barangkali, sebagaimana yang Sukmi pikirkan, inilah penyebab gagalnya ruwatan Bawuk.

Tidak seperti Sukmi, Tamrin justru gembira meski tak tahu persis kenapa gembel anaknya tak pulih-pulih juga. Sementara Bawuk tak peduli itu semua. Hari Minggu ia kayuh sepedanya menuju Telaga Warna, kadang jauh ke timur dan ke tenggara. Tamrin sering memaki-maki Sukmi ketika senja pulang dari ladang dan tidak mendapati Bawuk ada di rumah. “Kalau Bawuk keracunan di kawah Sinila apa kau sanggup melahirkan anak lagi?” Sukmi lebih memilih diam, ketimbang diceraikan, meski ia sendiri tidak tahu pasti kenapa tak kunjung lahir anak kedua.

Ruwatan yang ketiga dilangsungkan atas permintaan Bawuk sendiri. Ia akan masuk SMP dan bosan memakai kerudung. Mulanya Tamrin tidak setuju. Betapa panen ladangnya kian meruah saja, ia merasa. Seperti warga sekitar, Tamrin juga telah menyulap hutan menjadi lahan pertanian. Maka dalam jangka singkat ia pun bisa membangun rumah dua tingkat, membeli sepeda motor, dan menabung sisanya untuk ziarah ke Mekah.

“Perempuan itu wajib pakai kerudung, Wuk,” begitu Tamrin coba merayu.

“Jika Bapak perempuan, apa mau?”

Karena kemudian Bawuk mengancam akan keluar sekolah dan Sukmi ada dipihak Bawuk akhirnya ruwatan potong gembel digelar. Bawuk tidak meminta sesuatu yang berlebihan, sebab sadar jika ia sendiri yang meminta ruwatan. Ia hanya meminta sepatu baru yang harganya tak lebih dari satu karung kentang, dan Tamrin tentu tak keberatan.

Bersama tumpeng robyong seharusnya potongan rambut gembel Bawuk dilarungkan ke sungai Serayu sebagai simbol permintaan dilepasnya titisan dan kesialan. Tetapi Tamrin, yang mendapat tugas dari sesepuh kampung untuk melarungkan potongan rambut anaknya, diam-diam malah membuangnya di sebuah sumur di tengah hamparan ladang kentang. Dan begitulah, hanya beberapa hari setelah ruwatan, gembel Bawuk nampak bersemi kembali.

***

Sejak kecil memelihara rambut gembel, Bawuk seolah menjadi terbiasa. Setidaknya dua hari sekali ia mengkramasi rambutnya meski itu tidak bisa merubah rambutnya menjadi normal, setidaknya bisa menghindari dari kutu. Dalam kamar terkunci, setiap sebulan sekali, Bawuk juga rajin memangkasi rambutnya sendiri, lalu membungkus potongan-potongannya dalam plastik dan membuangnya dengan hati-hati. Ya, Bawuk rajin melakukan itu, meski setelah potongan rambut gembel dibuang, kepalanya mendadak berat, tubuhnya panas seperti terserang demam. Tapi, Bawuk segera dapat mengatasi rasa sakitnya dengan cara mengalihkan rasa sakit dengan menikmati musik.

Setiap keluar dari rumah, bahkan setiap kali keluar dari kamar, rapat dan rapi kerudung membungkus kepala Bawuk. Hasilnya, selain Tamrin dan Sukmi, tak seorang pun tahu rahasia di balik kerudungnya.

Tidak seperti gadis-gadis lain di kampung ini, setamat SMA Bawuk merengek minta melanjutkan kuliah. Tamrin dan Sukmi tak setuju. Tetapi setelah berhari-hari Bawuk tak mau diajak bicara dan mengurung diri dalam kamar, dua orang tuanya akhirnya mengijinkan.

Semakin lama tinggal di kota penampilan Bawuk bertambah menggoda: pipinya putih semu kemerahan dan lekuk pinggulnya aduhai menawan. Sebulan sekali, biasanya hari Sabtu, Bawuk pulang kampung dan Minggu siang ia pamit berangkat. Pada saat-saat pamitan itulah Sukmi dan Tamrin akan memberondongi Bawuk dengan nasehat. Betapa mereka khawatir melihat perkembangan tubuh anak gadisnya. Dada sintal dan padat, dan aih, setiap kali Bawuk duduk celana dalamnya mengintip keluar, seolah melambai menawarkan kehangatan. Tentu saja Sukmi dan Tamrin tahu jika penampilan Bawuk tak serasi dengan kerudung yang selalu membungkus kepalanya. Tapi mereka berdua hanya bisa diam—setelah berkali-kali menasehati—memendam kecemasan yang sama, jika saja…

Hmm, dada mereka sungguh lega ketika kuliah Bawuk akhirnya selesai juga. Saat memboyong perabot dari kamar kos Bawuk, Tamrin menemukan foto seorang lelaki dalam pigura. Ia bertanya, apa lelaki itu kekasihnya. Bawuk mengangguk. Kenapa tidak pernah diajak ke rumah? Bawuk menjelaskan jika kekasihnya sibuk bekerja, dan tak lupa menambahkan, sekitar sebulan lagi kekasihnya akan datang melamar. Dan kelak, kau tentu masih ingat, Bawuk meminta mati sebagai syarat meruwat rambut gembel yang keempat kalinya![4]

Wonosobo, Maret-Juli 2007

Catatan:

[1] Sebenarnya, aku hanya merangkum cerita yang kudengar dari orang-orang, khususnya Pandi, lelaki tua yang sehari-hari mengurus taman kecil di halaman rumahku yang baru. Aku sendiri bukan asli warga daerah ini. Kebetulan oleh pimpinan perusahaan, aku ditugaskan mendampingi pengeboran gas alam yang melimpah, tak jauh dari rumahku yang baru. Sebenarnya pihak perusahaan sudah menyediakan penginapan khusus untukku. Tetapi manakala kudengar ada sebuah rumah akan dijual murah aku segera membelinya. Aku ajak isteri dan dua anakku yang masih kecil-kecil turut serta. Setelah proyek selesai aku bisa menjual lagi rumah dua tingkat itu—yang sepertinya sudah lama tak terhuni—dengan harga lebih tinggi. Sepertinya aku mesti banyak berterima kasih pada Pandi yang dulu menawarkan rumah ini.

Hampir keseluruhan cerita ini juga bersumber dari Pandi. Segala yang ada dikepalanya ia keluarkan untukku. Entah dari mana lelaki tua yang tak punya rumah itu tahu banyak hal perihal kehidupan Bawuk dan keluarganya. Tetapi bukan berarti aku tak mendapat keterangan dari warga lainnya. Ada, tetapi hanya sedikit—lebih sering hanya berupa anggukan dan gelengan.

[2] Yakinlah, aku tidak sedang bercanda. Semua warga yang kutanya mengakui bahwa dahulu ada seorang perempuan yang meminta mati sebagai syarat ruwatan potong gembel. Tetapi, seperti juga Pandi, warga tak mau menyebutkan nama asli perempuan itu. Di daerah ini, Bawuk—dalam bahasa Jawa berarti vagina—aku tahu, bukanlah nama seseorang, melainkan panggilan orang tua kepada anak gadisnya. Mungkin Pandi dan warga sengaja menyembunyikan nama aslinya padaku sehingga merasa tidak berdosa telah membeberkan cela orang lain. Uh!

Kau tahu, betapa cerita tentang Bawuk kini berkecamuk di kepalaku.

[3] Kiai Kolodete merupakan orang yang pertama berumah singgah di daerah ini. Warga percaya bahwa anak yang memiliki rambut gembel merupakan titisannya. Dahulu kala Kiai Koledete pernah bersumpah tak akan memotong rambutnya dan tak akan mandi sebelum desa yang dibukanya makmur, hingga rambutnya pun menjadi gembel. Dan kelak, ia mengatakan, keturunannya akan berambut gembel seperti dirinya. Begitulah yang dipercaya warga. Demi Tuhan, aku tak menambah-nambah!

[4] Tak kutemukan keterangan yang jelas tentang kenapa Bawuk meminta mati ketika Tamrin dan Sukmi berencana meruwat rambut gembel-nya. Aku hanya mendengar, seminggu sebelum meminta mati Bawuk selalu menyendiri dalam kamar. Ia juga sempat pergi selama tiga hari dan kembali lagi dengan mata bengkak serta wajah merah dan lusuh. Kudengar juga (suara Pandi terdengar berat saat mengisahkan ini) ketika Bawuk meminta mati Sukmi dan Tamrin seketika jatuh pingsan. Entah bagaimana selanjutnya, aku tak mendapat keterangan sama sekali.

Ah, barangkali setelah Tamrin dan Sukmi siuman (sebenarnya aku takut membayangkan ini) mereka kemudian mendapati Bawuk sudah menggantung diri di ambang pintu dengan sepasang mata menyembul dan lidah menjulur. Begitu saja aku menduga (kau juga boleh menduga-duga) Bawuk meminta mati karena patah hati. Ya, mungkin saja kekasih yang pernah berjanji akan melamarnya menghilang tiba-tiba, sementara sudah ada janin tertanam dalam rahimnya. Siapa sangka?

Dulu, sebelum aku beranak istri (ah, akhirnya aku kisahkan juga tentang ini padamu) pernah aku meninggalkan seorang gadis setelah aku diberitahu tentang kehamilannya. Aku tak pernah menyangka, percintaan nakal kami yang begitu singkat dan tergesa di sebuah WC umum di bioskop akan menyebabkannya hamil. Terkutuklah aku yang tak kuat membendung nafsu karena seringkali melihat pusarnya dibelai angin. Aku sendiri heran, kenapa ia—yang tak pernah melepas kerudungnya—juga bersedia kuajak bercinta. Bisa jadi ia sudi melakukannya karena begitu percaya dengan janjiku akan melamarnya bulan depan. Entahlah. Yang jelas, telah bertahun-tahun aku terbebas dari bayang perempuan itu. Sampai aku pindah ke rumah ini—siapa telah menuntunku ke rumah ini—satu-satunya rumah bertingkat dua di kampung ini.

Dijumput dari: http://jusufan.blogspot.com/2011/05/perempuan-gembel-debleng.html