Pusat Bahasa Luncurkan 10 Novel Indonesia

Yurnaldi
http://www1.kompas.com/

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamis (22/10), di Jakarta, meluncurkan 10 novel berbahasa Indonesia, karya 10 novelis terkemuka. Namun, dalam novel itu ditemukan banyak kesalahan berbahasa, kesalahan ejaan, dan kesalahan kata, sehingga Pusat Bahasa dinilai gagal jadi polisi bahasa.

“Padahal, karya sastra berbobot sangat ditentukan oleh kemampuan berbahasa tertib. Sebab, di situ dikaji hubungannya dengan kemampuan berpikir logis meliputi deduksi nalar dan analisis. Bukan bahasa yang centang perenang,” kata sastrawan dan pengamat bahasa Remy Sylado, yang dengan kritis mencermati halaman per halaman buku novel yang diluncurkan.

Sepuluh novel yang diluncurkan tersebut adalah Gandamayu Cinta Perempuan Terkutuk karya Putu Fajar Arcana, Arjunawijaya karya Hamsad Rangkuti, Kakawin Gajah Mada karya Kurnia Effendi, Mundinglaya Dikusumah karya Gola Gong, Kisah Tuhu dari Tanah Melayu karya Abidah El Khalieqy, Kundagdya karya Oka Rusmini, Rara Beruk karya Suyono Suyatno, Janji yang Teringkari karya Imam Budi Utomo, dan Lubdaka yang Berkelebut karya Yanusa Nugraha.

Remy Sylado yang agak detail menyelisik kesalahan standar bahasa Indonesia yang tepat dan indah dalam novel-novel yang dibacanya, mengatakan, yang menyolok adalah justru hadirnya contoh ejaan centang perenang, tidak konsisten, diskordan, terlepas kontinuitas, dan hilang uniformitas.

Dengan banyaknya kesalahan ia meragukan Pusat Bahasa sebagai polisi bahasa terhadap bahasa Indonesia.

Menurut Remy Sylado, tiga dari 10 novel yang dibacanya dengan detail itu sulit dijadikan sebagai contoh ideal bahasa Indonesia yang tertib, yang memenuhi isyarat tepat dan indah.

Sedangkan sastrawan Veven Sp Wardana yang mengkaji novel-novel terbitan Pusat Bahasa itu dari sisi cerita lama dan industri kreatif mengatakan, novel-novel yang diluncurkan Pusat Bahasa kurang bisa bersaing dengan novel-novel terbitan penerbit swasta.

“Saya perlihatkan novel-novel terbitan Pusat Bahasa kepada anak, pertanyaan yang muncul dari anak saya kemudian adalah, ini buku terbitan tahun berapa? Apakah kemasan seperti sekarang sebagai gambaran cerita lama, saya tak tahu. Pokoknya, tampilan kulit novel itu kurang menarik,” katanya.

Kritikus sastra Prof Dr Riris KT Sarumpaet mengaku kesal membaca satu novel di antara 10 novel itu, karena jorok sekali. “Mestinya penulis harus punya pertimbangan yang khas. Karya sastra harus dilihat sebagai alat pendidikan. Berikanlah yang bermanfaat. Ada juga cerpen yang penuh informasi, akibatnya ia bukan sebagai cerita lagi,” tandasnya.

Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda, salah seorang editor novel-novel tersebut mengatakan, pihaknya sedari awal sudah dengan jeli melakukan koreksi kata demi kata di naskah hard copy. “Kenapa masih terjadi banyak kesalahan kata, bahasa, dan sebagainya seperti yang dikritisi Remy Sylado, mungkin pencetak tidak melakukan perubahan, karena yang ada pada dia itu softcopy. Penerbitan selanjutnya akan diperbaiki semua kesalahan,” katanya.

Terlepas dari persoalan kesalahan berbahasa dalam novel-novel itu, Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono berharap novel yang diuntukkan buat anak-anak Indonesia maupun bukan anak Indonesia itu dapat memperkaya pengetahuan kita tentang kehidupan masa lalu, yang dapat dimanfaatkan dalam menyikapi perkembangan kehidupan masa kini dan masa depan.

22 Oktober 2009