Eriyanti
Pikiran Rakyat, 23 Jan 2010

Genep Mangsa sakedet netra
Alloh nyipta dunya

Langit diluhurkeun
Ngagantung estu sampurna

Peuting dilanteraan
Ku gurilap bentang jeung bulan
….

Kun fayakun – kun fayakun

DEMIKIAN penggalan syair berjudul “Kun Fayakun” karya Ganjar Kurnia. Untaian rumpaka (kata) dalam syair itu sebenarnya terdiri atas beberapa bagian. Namun dengan hanyamenyimak satu bagian, muatan pesan yang ingin disampaikan penyair dalam rangkaian rumpaka itu, terasa beritu pekat muatan dakwahnya.

Sebagai sebuah karya sastra, syair berjudul “Kun Fayakun” ini, menggunakan diksi yang harmoni. Seperti pemilihan kata diluhurkeun ngagantung, dilanteraan gurilap.

Hal itu lebih dikuatkan lagi dengan pemakaian kata kun fayakun yang notabene merupakan bahasa Alquran dan sangat jarang digunakan dalam sebuah syair. Namun penyair justru sengaja menggunakan kata itu sebagai penegas dari muatan dakwah yang ingin disampaikannya.

Dia (penyair-red.) tidak menggunakan kata-kata bersayap ataupun analogi seperti pada kata-kata yang dirangkai sebelumnya. Akan tetapi, kata-kata yang semua pembaca mafhum bahwa kata itu hanya berarti satu. Kun fayakun (Jadi maka jadilah).

Fakta karya ini dikuatkan oleh realitas penyair. Ganjar Kurnia pada diskusi terbatas pengantar pementasan di Redaksi Galura, Senin (17/1) mendedahkan, posisi kesenian dalam konteks kepentingan dakwah telah lama diperdebatkan. Namun terlepas dari diskursus pro dan kontra tentang posisi kesenian dalam Islam, Ganjar mengaku dirinya sebagai salah satu orang yang pro dengan kesenian sebagai media dakwah.

Dalam “Sya`ir keur Syi`ar” ini Ganjar ingin memberikan warna baru dalam ranah musik Islami, yang selama ini notabene garapan warna musiknya lebih banyak terpengaruh musik Timur Tengah. “Jadi, cik atuh da Islam teh aya di mamana. Piraku di Sunda ge teu bisa aya musik nu islami,” ujarnya.

Pementasan “Sya`ir keur Syi`ar” akan digelar di Bale Rumawat, Minggu (23/1), mulai pukul 14.00 WIB. Pementasan ini dikemas Ubun R. Kubarsyah dalam bentuk kacapi patareman. Dengan menghadirkan para penembang petingan seperti Neneng Dinar, Elis Rosliani, Rosyanti, Dini Andriani, Novi Aksmiranti, Ujang Supriatna, Mustika Imam, dan Tedi Sudiarto. Pamirig dikerjakan Yusdiana, Gangan Gumilar, Iwan Mulyana, dan sebagai penata musik dikerjakan Yusdiana.

Selain “Kun Fayakun”, ada sembilan rumpaka syair lain karya Ganjar Kurnia yang akan dipersembahkan pada pergelaran ini, antara lain “Adzan Munggaran”, “Rosul Pinilih”, “Kalindih”, “Warta Ti Sidratul Muntaha”, “Tanceb Kayon”, “Sakaratul Maot”, “Titis Tulis”, “Qiyama”, dan “Tobat”.

Bagi Ubun, mengerjakan pertunjukan seperti ini, memang bukan hal pertama. Sebelumnya, penggagas Tembang Bandungan ini, bersama Eddy D. Iskandar dan Zahir Zachri telah menciptakan komposisi lagu dua karya syair Ganjar Kurnia berjudul “Sakaratul Maot” dan “Tanceb Kayon”.

Kedua lirik dalam syair tersebut, menurut Ubun, sangat pas untuk konsep musikal tembang bandungan. Tanpa ada perubahan apapun kecuali pandangan yang berbeda dalam hal menempatkan antara frase verbal dengan frase musikal yang kadang berbeda tafsir.

Hal yang menarik di samping kekuatan pesan dalam rumpaka karya Ganjar, menurut Ubun, adanya ungkapan diksi baru yang jarang digunakan dalam khasanah rumpaka tembang maupun kawih sunda konvensional. Keberanian untuk memilih kata yang biasa digunakan dalam bentuk sajak, secara togmol digunakan pula untuk syair lagu. Hal ini bagi Ubun, menjadi tantangan baru untuk komposer dalam menciptakan lagu.

Puncak kolaborasi Ubun dengan Ganjar Kurnia hampir menemukan bentuknya pada garapan opera Sunda “Cisoca Singa Sahara”, ketika kekuatan penulis naskah dapat merangsang ekspresi musikalitas.

**

DALAM khazanah kesusastraan, syair sebetulnya tergolong ke dalam jenis puisi lama. Syair berasal dari Persia . Kata syair berasal dari bahasa Arab syu`ur yang berarti perasaan. Kata syu`ur berkembang menjadi kata syi`ru yang berarti puisi dalam pengertian umum.

Sedangkan syair dalam kesusastraan Melayu merujuk pada pengertian puisi secara umum. Namun dalam perkembangannya syair tersebut mengalami perubahan dan modifikasi sehingga menjadi khas Melayu, tidak lagi mengacu pada tradisi sastra syair di negeri Arab.

Sebagai penyair yang tergolong “nyleneh”, Ganjar mengubah sedemikian rupa batasan syair menjadi semacam puisi (sajak) seperti sekarang. Baik dalam pemilihan rumpaka maupun tipografi syair, syair karya Ganjar keluar dari pakem-pakem syair. Akan tetapi ia tetap berpegang teguh pada pesan (muatan) yang ingin disampaikan dari syair, yakni sebagai media dakwah.

Syair memang terbagi ke dalam berbagai macam, salah satunya adalah syair agama. Syair agama dibagi menjadi empat yaitu, syair sufi, syair tentang ajaran Islam, syair riwayat cerita nabi, dan syair nasihat. Jenis-jenis syair ini mempunyai pesan tertentu. Dan Ganjar menyampaikan semua pesan itu dalam bentuk syair “kekinian”.

Dengan spirit yang sama, sebelumnya, Ganjar juga telah mengerjakan gending karesmen bermuatan dakwah berjudul “Nyuuh I” dan “Nyuuh II”. Dalam gending karesmen ini, Ganjar “mengawinkan” bentuk teater modern dengan drama tradisional Sunda.

Pesan-pesan yang disampaikan pun lebih berbeda dengan pesan-pesan yang disampaikan gending karesmen pada umumnya. Pesan gending karesmen Ganjar, lebih menyentuh pada persoalan-persolan urban perkotaan yang sedang menjadi bagian dari fenomena kehidupan masyarakat Sunda saat ini.

Ubun R. Kubarsyah selaku musisi mengatakan, syair-syair Ganjar Kurnia memiliki karakteristik khas. Banyak diksi yang unik dan liar, tetapi isinya menyentuh pada persoalan mendasar. “Dari rumpaka yang liar dan unik ini, justru kita bisa menangkap pesan yang sarat pesan akan nilai-niali dakwah,” ujarnya.

Bila di dalam khazanah sastra Indonesia kita sering mendengar istilah musikalisasi puisi maka pada pergelaran “Sya`ir keur Syi`ar” ini, kita akan menikmati suguhan rumpaka tembang yang diketengahkan dalam pertunjukan kacapi patareman. Akankah keindahan suara penembang, lengking suling, dan rincik kacapi memberi nilai sakral pada pergelaran ini? Bagaimana seorang Rektor berkolaborasi dengan musisi dalam mengemas seni rumpaka dan tembang ini sebagai media dakwah? Akankah berhasil? Tampaknya, minggu pekan Anda akan rugi bila tidak menyaksikan pergelaran ini.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/01/syair-dan-syiar.html

Categories: Esai