Telanjur Seniman!

Bandung Mawardi
http://www.suarakarya-online.com/

“Baiklah, saya tidak akan mengatakan bahwa ia telanjur jadi seniman karena ia akan sedia berkelahi dengan siapa saja yang mengatakan soal telanjur itu,” kata seorang tokoh dalam cerita Nasihat untuk Para Seniman garapan Misbach Yusa Biran.

Kalimat itu ditujukan untuk seniman melarat tapi memiliki “harga diri” dalam laku seni. Petikan itu menggoda: satire atas sosok dan makna seniman. Pengajuan ihwal “telanjur jadi seniman” mengandung kesan ganjil. Misbach memang sengaja memberi sindiran, mengisahkan keganjilan hidup dalam “ketelanjuran” disebabkan klaim sebagai seniman di Pasar Senen (Jakarta).

Kita masih temukan pendefinisian, kelakar, dan kritik di dunia seniman itu dalam cerita Nanggap Seniman. Misbach mengajukan humor getir dan satire, menempatkan dan menggambarkan seniman dalam dilema. Di sebuah pesta, seorang perempuan mengajukan tanya: “Wat is dat toch seniman, Mince?”

Seorang lelaki enteng memberi jawab: “Itu, orang-orang yang suka pakai jenggot, met cangklong, en pakaian yang slordig.” Jawab ini menggemaskan tapi memang jadi kelakar dan penghiburan bagi mereka saat pesta. Di pesta kaum muda itu sengaja mengundang seniman.

Undangan untuk “manusia-seniman” demi tawa dan ramai. Seniman itu makhluk aneh, lucu, dan unik. Jadi, pantas jadi hiburan.

Misbach juga sodorkan definisi dan gagasan seniman dalam cerita Kalau Bung Seniman, Jangan Tinggal di Kampung. Kita bisa simak dari kutipan pertemuan dua “seniman”, di suatu malam, di Pasar Senen: “Dari cara duduk yang semaunya itu, dari semula sudah saya duga bahwa anak ini tentunya termasuk bangsa-bangsa seniman. Oleh karena malam itu, saya mengenakan baju yang siangnya saya pakai tidur, lecek, maka saya pun tidak menyalahkan kalau dia sebaliknya mengira saya seniman pula.” Dua orang itu saling mengira, saling “menerima” pengakuan diri sebagai seniman. Definisi itu muncul melalu cara duduk dan pakaian lecek. Sepele!

Di tengah cerita, pengakuan sebagai seniman dibenturkan dengan anggapan umum. Seniman itu sesumbar-mengeluh: “Bagaimana saya bisa menjelaskan pada mereka bahwa pekerjaan seorang seniman tidak sama dengan pegawai-pegawai biasa yang pernah mereka kenal?” Seniman itu menuntut ada “keharusan” membedakan diri, meminta pengakuan-pemakluman masyarakat. Ironis!

Tiga cerita tentang seniman itu adalah taburan cerita-situasi Pasar Senen di tahun 1950-an dan 1960-an. Gairah mengisahkan seniman begitu impresif dan representatif. Cerita-cerita itu memang digarap Misbach kala membaur diri dalam geliat dunia seniman di Pasar Senen. Jadi, segala humor, satire, kritik, atau pujian atas sosok seniman merupakan tanggapan dari dunia dalam.

Pandangan tentang seniman memang fasih diceritakan oleh Misbach. Hal ini mengartikan ada episode-episode pembentuk citra-diri seniman dalam tautan estetika, politik, ekonomi, kota, pendidikan. Masa 1950-an menentukan pendefinisian dan pemaknaan seniman, terawetkan melalui pewarisan dari masa ke masa. Citra-diri seniman itu mungkin masih terakui sampai hari ini. Ada sebagai definisi lawas-klise tapi susah terbantah.

Sudjojono, pelukis kondang, diakui sebagai sosok penting untuk memopulerkan istilah seniman sejak 1930-an. Gambaran tentang seniman justru kerap membesar dalam arus sastra dan seni pertunjukan. Jejak pendefinisian seniman dalam drama bisa kita temukan di naskah Liburan Seniman (1944) garapan Usmar Ismail. Seniman identik dengan alienasi, pengucilan, uang, asmara, keluarga, hiburan, nasionalisme, dan moral masyarakat. Eksistensi seniman bergerak oleh tegangan konflik, utopia, resistansi, konfrontasi dalam ide-imajinasi dan praktik hidup keseharian.

Perbincangan ihwal seniman memang menggeliat di tahun 1940-an dengan ketokohan Chairil Anwar, si pujangga legendaris. Anggapan atas seniman perlahan diperkarakan dengan konteks sosial. Urusan ini mengental melalui tulisan Anas Ma’ruf, Fungsi Sosial Seniman, 1950. Perbincangan tentang seniman juga menukik ke gagasan besar Indonesia berkaitan politik-kultural.

Hal itu termaktub dalam Surat Kepertjaan “Gelanggang Seniman Merdeka” Indonesia, 18 Februari 1950. Anas Ma’ruf di awal tulisan menggambarkan situasi 1950-an: “Waktu belakangan ini banjak orang mengutik-utik soal fungsi soal seniman dalam masjarakat.” Jenis kalimat ini bakal terus berulang sampai hari ini dan hari esok. Sekian jawab telah diberikan tapi kerap mengabur, samar oleh gerak jiwa zaman.

Semua rujukan dan penghadiran ihwal seniman itu memang sengaja untuk merefleksikan kesanggupan kita mengurusi definisi dan makna seniman. Seniman di 1930-an, 1940-an, 1950-an memang nostalgia tapi masih dipandang sebagai orientasi para seniman mutakhir. Definisi seniman seolah menjauh dari urusan telanjur tapi ada dalam imperatif dan godaan keprofesian. Anutan atas keprofesian ala diskursus kerja abad di XXI ini kadang malah memudarkan etos dan iman kesenimanan. Keprofesian itu rentan bias oleh uang, jabatan, dan popularitas. Begitu.

*) Bandung Mawardi Pengelola Jagat Abjad Solo /19 November 2011