Yang Bernapas dengan Kata

Nurdin Kalim
http://majalah.tempointeraktif.com/

Tak…tak…tak…tak…tak…tak.

Bunyi mesin ketik Brother itu memecah malam. Di meja kerjanya, di sebuah pojok perpustakaan pribadinya, Remy Sylado bergulat dengan tulisan. Malam itu, di rumahnya di Cipinang Muara, Jakarta, Remy berpacu menulis novel terbarunya, sebuah novel yang berkisah tentang sebujur jalan di kota Paris. Novel yang direncanakan setebal sekitar 300 halaman, tapi baru selesai setengahnya. Wajahnya serius. “Saya sedang ngebut agar bisa selesai dalam satu atau dua pekan ke depan.”

Desember bulan yang sibuk. Malam itu ia ngebut, begitu juga dua malam sebelumnya, saat ia harus menyelesaikan dua makalah seminar kesenian dan sebuah esai. Ya, dari hari ke hari, Remy Sylado bergulat melawan waktu, berkelahi melawan deadline. Dan hasilnya luar biasa: lebih dari seribu puisi, 50 novel, 30 naskah drama, dan puluhan lagu. Ia juga menulis sejumlah buku teater dan musik. Buku kumpulan sajaknya Kerygma & Martyria setebal 1.056 halaman telah mengukuhkannya sebagai pengarang buku sajak tertebal versi Museum Rekor Indonesia.

Remy tidak muda lagi, enam bulan lagi usianya 60 tahun. Tapi menulis novel adalah aktivitas yang sudah dilakoni sejak remaja. Novel pertamanya, Inani Keke, selesai ditulis ketika umurnya belum mencapai 16 tahun. Sejak itu Remy tak terbendung: menulis cerpen, novel, puisi, naskah drama, esai, dan syair lagu. Bahkan ia tumbuh menjadi penulis yang biasa bertarung menghadapi sang waktu. Remy bisa tahan menulis dari pagi hingga malam, tanpa berhenti. Ia bisa menulis sekuel cerita bersambung atau kolom di media tak lebih dari satu jam.

Seorang redaktur surat kabar pernah menagih tulisan, satu bagian dari cerita bersambung yang dimuat di koran, permintaan yang membuat Remy tergencet. Ia tengah shooting film di Kediri, Jawa Timur, tapi tenggat tak bisa ditawar lagi. Ia memang kelabakan, tapi tuntutan itu dipenuhi. Dan satu jam berselang, senyumnya mengembang: naskah sepanjang tiga halaman selesai ditulis. Dari Remy sendiri kita mendapat penjelasannya simpel, tapi mungkin tak begitu sederhana bagi orang lain. “Itu bukan keajaiban. Semuanya bisa mengalir dengan mudah karena kerangka dan apa yang harus ditulis sudah tersimpan di kepala. Jadi saya tinggal menuliskannya,” ungkap pria yang lahir di Minahasa dengan nama Yapi Panda Abdiel Tambayong itu.

Remy menulis. Kecepatannya diperoleh dari pengalaman di media massa, imajinasinya dari aneka pengalaman plus bakat seni rupa dan musik. Sepanjang 1965-1966, ia wartawan Harian Tempo, harian di Semarang yang kemudian berganti nama menjadi Suluh Indonesia edisi Jawa Tengah. Setelah itu, berturut-turut ia bekerja di majalah Aktuil, majalah Top, majalah Jayagiri, dan majalah Fokus. Ia juga kontributor majalah Adam & Eva.

Jemari Remy terus bergerak di atas mesin ketik, demikian pula imajinasinya. “Imajinasi sangat berperan ketika saya menghidupkan suasana dan tokoh-tokoh dalam cerita itu,” katanya. Dalam Parisj van Java, misalnya, imajinasi sangat dibutuhkan ketika ia harus menghidupkan suasana Bandung pada 1920-an. “Saya butuh imajinasi, misalnya, untuk menghadirkan sebuah kereta kuda yang melintas di jalan-jalan Bandung waktu itu,” ujarnya. “Jadi, kekuatan imajinasi itu berperan dalam menghidupkan yang tidak ada menjadi ada.”

Imajinasi tak lahir sendiri. Imajinasi berpijak pada riset, juga pengamatan langsung ke lokasi yang akan dijadikan latar cerita. Bagi Remy, pengalaman langsung berada di tempat itu sangat perlu, karena nuansanya bisa lebih ditangkap. Ketika menulis cerita bersambung Parijs van Java, ia melakukan riset dan tinggal di Bandung dua bulan. Begitu pula dengan novel yang sedang digarapnya, novel tentang sebuah jalan di ibu kota Prancis. Sebelum menulis, ia melakukan observasi langsung ke lokasi itu.

Remy produktif dan menyimpan banyak bakat. Ia pintar melukis. Karena itu imajinasinya cepat berbuah jadi kata-kata yang bisa menggambarkan suasana, warna-warni obyek. Remy juga bermain dan memahami musik. Dari sinilah ia menguasai ritme sebuah karangan.

Dari seorang Remy, barangkali kita bisa menyimpulkan: menulis mungkin bakat, tapi juga akibat proses yang panjang. Remy kecil adalah anak yang gandrung bermain drama, telah mencoba membaca buku teologi sejak kelas 5 SD, dan suka membeli buku-buku berbahasa Inggris. Kepada Tempo ia melukiskan dirinya di waktu itu: suka membolos, berenang atau menangkap ikan di pantai. Tapi itulah juga Remy, seorang anak lelaki yang suka belajar sejarah yang di kemudian hari menulis Kerudung Merah Kirmizi, novelnya yang meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2002.

Remy tidak menggunakan komputer, tapi tak ketinggalan zaman. Ia meng-aku menemukan sebuah keajaiban kecil saat menulis dengan mesin ketik Brother itu. “Ketika saya salah ketik dan harus menghapusnya dengan Tipp-ex, di atas bekas hapusan itu saya justru kerap menemukan kata-kata baru yang menakjubkan”.

***

Usianya kini 60 tahun. Ia, Putu Wijaya. Kegiatan terakhirnya: sibuk menulis, sibuk menyesuaikan diri dengan zaman. Putu tidak menggunakan mesin ketik sebagaimana Remy. Putu menulis dengan komputer, menonton MTV dan film, mendengarkan obrolan anak-anak muda, dan cekatan menangkap istilah-istilah mereka yang terlontar.

Putu Wijaya, kita tahu produktivitasnya yang istimewa: sekitar 30 novel, 40 naskah drama, 1.000 cerpen, ratusan esai, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga telah menulis puluhan skenario film, antara lain Perawan Desa (memperoleh Piala Citra FFI 1980), Kembang Kertas (meraih Piala Citra FFI 1985), Ramadhan dan Ramona, Dokter Karmila, dan Telegram. Tak cuma itu. Ia aktif menulis skenario sinetron. Bulan lalu, ketika Tempo mengunjungi rumahnya yang asri di Ciputat, Tangerang, Putu tengah menulis, membenamkan diri dalam obyek ceritanya. Ada satu novel dan satu cerita bersambung yang sedang digarapnya.

Ya, Putu produktif, dengan cara menulis yang tak berubah. Segenap konsentrasi ditujukan ke obyek yang sedang diangkat, sesuatu yang akhirnya mengantar si penulis pada fase selanjutnya: hubungan “batin” penulis dengan obyeknya. Tahap yang sangat menentukan, siap menyemburkan ide-ide kreatif.

Kita bisa menduga, kemampuan konsentrasi Putu tinggi, seraya menyerap aneka fenomena di dunia sekitarnya. Ia tergolong tipe penulis spontan, imajinatif, sangat mengandalkan rasa. Perhatiannya total, lebih banyak tercurah pada sisi-sisi paling manusiawi dari sang obyek. Ia biasa mengantar imajinasi pembaca ke dalam situasi yang dibidiknya. Dan ia tak menyediakan banyak waktu untuk riset. Penjelasannya biasa: kebanyakan data membuatnya bingung.

Penulis novel Putri—terbit akhir tahun lalu—ini sebenarnya tidak diharapkan menjadi penulis. Ia bukan dari keluarga seniman. Ayahandanya seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak. Putu dibesarkan dan diharapkan menjadi dokter. Tapi murid yang lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali ini lemah dalam ilmu pasti, dan lebih akrab dengan sejarah, bahasa, dan ilmu bumi.

Putu doyan membaca, senang menulis. Cerita pendek pertamanya berjudul Etsa dimuat di Harian Suluh Indonesia edisi Bali. Selanjutnya Putu banyak menulis cerita pendek di Mimbar Indonesia dalam rubrik “Fajar Menyingsing” (rubrik remaja), antara lain Sate, Rumah Petak, Gula, dan Pembunuh.

Pertama kali main drama saat duduk di SMA. Putu berperan dalam Badak karya Anton Chekov. Saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ia tetap berkesenian: menjadi anggota Bengkel Teater-nya Rendra, kuliah di Asdrafi dan Asri, sambil tetap menulis. Setelah menggondol gelar sarjana hukum, ia hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan Teater Ketjil asuhan Arifin C. Noer. Di Ibu Kota, saat itu ia mengandalkan hidup dari menulis resensi pertunjukan di sejumlah media.

Penggemar musik dangdut, rock, jazz, dan klasik itu kemudian bekerja di majalah Ekspress, lalu Tempo dan tetap berkarier sebagai pengarang. Putu mengaku belajar banyak ketika menjadi wartawan. Di dunia jurnalistik, ia harus membiasakan diri dengan tenggat, suatu siksaan bagi kebanyakan pengarang. Ia juga belajar bagaimana mengetahui apa yang dirasakan pembaca. Dulu, saat masih menjadi pengarang ia berprinsip, tulislah apa saja yang ingin ditulis tanpa peduli dengan yang dirasakan pembaca.

Setelah itu, Putu pindah ke majalah Zaman, dan tetap menulis. Ia sangat produktif. Di sela-sela kesibukannya mengelola Zaman—di sana ia sebagai redaktur pelaksana—Putu juga menulis cerita pendek, novel, lakon, dan mementaskannya lewat Teater Mandiri yang dipimpinnya sejak 1971. Dia juga mengajar di Institut Kesenian Jakarta.

Ya, Putu memang telah berjalan jauh. Dan ia punya pandangan sendiri tentang menulis, kegiatan yang menuntut latihan panjang untuk mendapatkan predikat terampil. Tapi, di mata Putu, itulah keterampilan yang boleh jadi menjebak. Kelancaran menulis bisa membuat si penulis bergerak mesin: otomatis, atau menurut istilah Putu “kehilangan gizi” atau “kehilangan nyawa.” “Nah, saat itulah kita harus berani bereksperimen dan melakukan distorsi-distorsi sehingga tidak menjadi otomatis,” katanya menjelaskan.

Putu juga mendeteksi satu perangkap psikologis bagi para penulis hebat: saat si penulis jatuh cinta kepada tulisannya, saat ia puas, berhenti dan mati sampai di situ. Karena itu, Putu kerap kali mengambil jarak dengan tulisan-tulisannya. “Rata-rata, sesudah saya bikin, saya mencoba tidak suka lagi dengan tulisan itu,” ujarnya. “Jadi, yang saya suka adalah apa yang belum saya tulis.”

Menulis telah menjadi candu. Suatu kali, Putu pernah mengungkapkan bahwa ia menulis karena tak memiliki kemampuan yang lain. Sekarang ia telah sampai pada sebuah titik: menulis adalah pekerjaan yang menyenangkan. Menulis atau mengarang menjadi teman, kekasih, guru, musuh, bahkan segala-galanya. “Mengarang pun menjadi seperti ibadah,” katanya.

17 Januari 2005