Ali Syariati: Sejarah Hari Esok

Ahmad Sahidin
http://www.kompasiana.com/ahsa

SAYA masih ingat gagasan Ali Syariati bahwa filsafat sejarah bukan hanya berbicara pada persoalan realitas dibalik sejarah, tetapi juga berkaitan dengan masa depan umat manusia (sejarah hari esok). Bagi saya, filsafat sejarah versi Syari’ati merupakan konsep yang benar-benar unik karena biasanya dalam berbagai aliran pemikiran filsafat sejarah yang berkembang di dunia Barat seringkali melupakan persoalan-persoalan yang mengarah ke masa depan kemanusiaan. Begitu juga filsuf Muslim sangat kurang yang memberikan perhatian yang besar pada masa depan manusia.

Sayangnya, kini sejumlah buku Syariati yang saya gunakan untuk penelitian skripsi tersebut tidak jelas keberadaannya. Biasalah dipinjam dan tidak kembali. Mungkin dibawa pulang ke kampung halamannya.

Menurut saya, Muthahhari dan Syariati merupakan dua sosok besar Islam modern. Keduanya telah memengaruhi jalan hidup dan perkembangan intelektual umat Islam Indonesia, termasuk saya. Kalangan akademisi seperti Ustadz Jalaluddin Rakhmat, Azyumardi Azra, Afif Muhammad, dan Haidar Bagir, termasuk yang mengaku dipengaruhinya.

Kedua sosok intelektual Iran tersebut memang memiliki karakter yang berbeda dalam pemikiran dan kecenderungan politik yang berlainan. Apabila Muthahhari dekat dengan ulama dan menyokong gerakan Khomeini yang menggemborkan wilayah faqih sebagai sistem pemerintahan Islam-Syiah modern (teodemokrasi) yang kini berlaku di Iran. Sedangkan Syariati justru lebih dapat disebut dipengaruhi Barat.

Ali Syariati, cendekiawan lulusan Universtas Sorbone (Perancis) dan pernah belajar dalam sekolah khusus calon ulama ini, memberikan kritik pada pemikiran Khomeini tersebut. Syariati berpendapat, orang yang bukan ulama bisa memahami ajaran Islam dengan lebih baik dan bisa memiliki peran yang lebih baik di masyarakat dibandingkan ulama. Syari`ati mengajukan rausyanfikr (intelektual yang tercerahkan) sebagai orang yang paling berhak mengendalikan kekuasaan selama masa ghaib Imam Mahdi.

Hingga sekarang ini warisan perdebatan pemikiran politik Islam Iran dilanjutkan oleh Abdul Karim Soroush dan Sayed Hossen Nasr yang secara intelektual terus mengkritisi sistem pemerintahan Islam Iran wilayah faqih. Soroush sangat kentara krtitiknya dan menyarankan untuk diubah dengan pemerintahan demokrasi agama. Abdul Karim Soroush menilai wilayah al-faqih merupakan peniruan dari ajaran Kristen yang memberikan hak penuh kepada para Bapa Gereja. Para ulama yang kini berkuasa dan memegang pemerintahan, menurutnya, tidak bebas dari kesalahan dan kecenderungan pribadi dalam mengelola negara. Dengan hadirnya para ulama tersebut pemerintahan menjadi seolah-olah sakral dan antikritik. Tidak jarang orang yang berupaya untuk mengkritisi malah dianggap melawan dan tidak sedikit dibuang ke luar negeri. Alih-alih diapresiasi malah disingkirkan.

Menurut Soroush, ajaran Islam meposisikan ulama sama seperti Muslim lainnya karena tidak ma`sum sehingga sosok faqih dan rahbar bisa salah dan pendapat-pendapatnya bisa dikritisi karena tidak sakral. Selain dari Allah, Nabi, dan Imam, Soroush membolehkan untuk tidak mentaatinya jika tidak sesuai dengan semangat Islam atau tidak relevan dengan konteks zaman. Soroush menawarkan pemerintahan demokrasi agama (democratic religious government) sebagai pengganti wilayah al-faqih.

Memang sebuah dinamika pemikiran manusia tidak ada yang sakral. Imam Khomeini dan sejumlah ulama yang dijadikan marja’taqlid bukanlah seorang yang suci seperti Nabi Muhammad saw dan Aimmah Ahlulbait. Karena itu, setiap kali muncul kritik yang berkaitan dengan pemikiran dan hasil ijtihad marja taqlid bukan sesuatu yang harus dikecam, apalagi dihujat. Pemikiran harus dilawan pemikiran, bukan dengan kecaman atau mengungkap hal-hal yang tidak pantas. Dan, saya kira umat Islam sekarang ini sudah semakin cerdas dan memiliki kebebasan untuk memilih dan memilah “kebenaran” di antara kebenaran-kebenaran yang beredar di penjuru dunia ini.

_________________________16 November 2011
Ahmad Sahidin, pembaca buku. Mengisi keseharian hidup dengan membaca buku, mengajar baca tulis quran, dan menulis. Buku yang sudah terbit: Modal Mini Hasil Maksi (Salamadani, 2009), Aliran-Aliran Dalam Islam (Salamadani, 2009), Sains untuk Anak Muslim (Chilpress, 2010), Faktaneka Al-Quran (Chilpress, 2010), Tanda-Tanda Kiamat Mendekat (Salamadani, 2010), Ziarah Kata: antologi puisi 44 penyair (Majelis Sastra Bandung, 2010), dan Teman dalam Perbedaan (Bandung: Grafindo).
Dijumput dari: http://filsafat.kompasiana.com/2011/11/16/ali-syariati-sejarah-hari-esok/