Catatan dari: Diskusi Sastra Etnik di Jawa Pos

Khoirul Naim
__Jawa Pos, 16/03/2011

Masih berkaitan dengan Festival Cak Durasim III, Lembaga Kajian Budaya Jawa Pos dan Taman Budaya Jawa Timur Sabtu (19/10) lalu, bertempat di Metropolis Room Graha Pena Building, membedah kondisi sastra Using, Madura, Surabaya-an dan Jawa Timur Mataram-an. Tampil sebagai narasumber adalah Hasnan Singodimayan (Using), Syaf Anton Wr (Madura) dan Bonari Nabonenar (Jawa). Berikut rangkuman diskusi yang dipandu oleh Widodo Basuki itu.

Siapakah sastrawan Surabaya yang menulis dalam bahasa ibunya, bahasa Jawa dialek Surabaya-an? Barangkali saja, dihitung dengan jari sebelah tangan saja masih kurang. Dari yang sedikit itu, artinya yang intens menulis dalam dealek Surabaya-an, adalah Suparto Brata, Budi Palopo dan Sri Setyowati (Trinil).

Ketiganya boleh dibilang berhasil menampilkan karya sastra dalam karakter Surabaya-an. Suparto Brata banyak menulis karya prosa, baik cerpen maupun novel, dalam bahasa Surabaya-an. Baru-baru ini kumpulan cerpennya, Trem, yang memperoleh penghargaan Rancage itu, menggunakan bahasa Surabaya-an yang kental. Lalu Trinil, penyair kelahiran Surabaya itu, juga menulis novel Surabaya-an.

Kondisi ini memang memprihatinkan. Bayangkan, ini terjadi di sebuah kota yang sejak tahun 70-an sudah punya Paguyuban Pengarang Sastra Jawa, dan sejak puluhan tahun silam terbit majalah Jaya Baya dan Penjebar Semangat. Belum lagi dengan banyaknya stasiun radio di Surabaya. Seharusnya sastra Surabaya-an tumbuh subur dalam kondisi seperti itu.

Kadaruslan, pengusaha kelahiran Surabaya, berapologi, “Surabaya tidak mengenal sastra, sebab bahasa Surabaya itu sangat kaya.” Artinya, saking kaya dan multientrepretasinya bahasa Surabaya-an, sampai-sampai orang Surabaya sulit memakainya sebagai media dalam karya sastra. Tapi mungkin Cak Kadar lupa, bukankah parikan itu juga karya sastra?

Kondisi sastra Surabaya memang memprihatinkan, setidaknya jika dibandingkan sastra Madura, Using dan Jawa Timur Mataram-an. Mari kita ambil contoh sastra Using dan Madura. Di kedua daerah ini puisi Madura dan Using masih tetap ditulis oleh banyak penyair, walau tidak ditunjang dengan media massa cetak berbahasa setempat.

Bahkan, jika dibanding dengan sastra Using, semestinya sastra Surabaya kondisinya lebih baik lagi. Ingat, iklim sastra Using pernah mempunyai sejarah yang kelam, yaitu berkenaan dengan pemerkosaan puisi Genjer-Genjer (ditulis Mohammad Arif pada awal tahun 1940-an) oleh PKI.

Seperti dikatakan Hasnan, sejak Genjer-Genjer diplesetkan menjadi Jendral-Jendral , hampir semua kesenian Banyuwangi dicap berhaluan kiri. Lucunya, bukan hanya sastrawannya yang dicap, tapi juga penari gandrung. “Sampai-sampai tari gandrung dicap PKI karena sarungnya berwarna merah,” kata Hasnan.

Sejak itu seniman Banyuwangi, termasuk sastrawannya, dikontrol secara ketat oleh pemerintah. “Saya ini sampai bosan, setiap ada puisi baru selalu ditanyai oleh Sospol, untuk menjelaskan isinya,” tambahnya. Sudah begitu, bahasa Using digolongkan sebagai bahasa jalanan dan tidak diajarkan di sekolah. “Baru tahun ini dimasukkan dalam muatan lokal di sekolah,” ujarnya.

Tetapi untungnya, di tengah kondisi yang menyesakan itu, Banyuwangi terus melahirkan penyair-penyair berbahasa Using, generasi jauh di bawah Andang CY. Sebut saja mereka Abdullah Fauzi, Mahawan, Un Hariyati, Soeroso MK dan almarhum Slamet Utomo. “Mereka telah memperpadukan warna Using secara modern dengan tema yang lebih bersifat nasional,” katanya.

Ternyata Madura, pulau kelahiran Abdul Hadi WM dan Zawawi Imron, itu mempunyai sederet penyair yang masih konsisten menulis dalam bahasa ibunya. Mereka di antaranya Arach Jamali dan Abdul Gani. Bahkan Arach Jamali, sastrawan yang cukup produktif itu, selain menulis puisi, juga cerita dan roman dalam bahasa Madura.

Di luar itu, anak-anak muda yang terhimpun dalam GOTT baru-baru ini juga menerbitkan buku kumpulan puisi modern berbahasa Madura. “Puisi-puisi itu ditulis anak-anak SMA, walau masih terkesan puisi Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa Madura,” kata penyair yang juga Ketua Dewan Kesenian Sumenep ini.

Baik Hasnan maupun Syaf Anton sepakat, bahwa perkembangan sastra Madura dan Using itu ditunjang oleh radio. Di RRI, misalnya, setiap malam Sabtu ada acara Pembinaan Bahasa Madura. Sedangkan di Banyuwangi, 27 stasiun radio swasta (plus 5 stasiun radio di Jember) memberikan porsi yang besar pada bahasa Using.

Bicara tentang sastrawan Jawa bahasa Jawa Tengah-an, wah, Jawa Timur adalah gudangnya. Dalam catatan Bonari Nabobenar, sastrawan Jawa modern asal Jawa Timur terus lahir. Setelah angkatan Suparto Brata, muncul generasinya Widodo Basuki. “Bukan hanya menang dalam hal kuantitas, tetapi secara kualitas pun sastrawan Jawa dari Jawa Timur cukup disegani di pentas sastra Jawa pada umumnya,” katanya.

Lihat saja, sejak pertama hadiah Rancage diberikan untuk sastra Jawa, sastrawan Jawa dari Jawa Timur tidak pernah absen mendapatkannya. “Kalau tidak karena karya terbaiknya, ya karena ketokohannya dalam sastra Jawa,” ujar Bonari, sastrawan Jawa yang juga menulis dalam bahasa Indonesia ini.

Dijumput dari: http://mediamadura.wordpress.com/2011/03/16/catatan-dari-diskusi-sastra-etnik-di-jawa-pos/