Harakiri Lena

Sabpri Piliang
http://www.suarakarya-online.com/

Keceriaan Lena begitu sempurna dalam menjalani hari-harinya. Kebanggaan pada rumah besar yang ditempatinya bersama Ayah, Ibu beserta kakak nomor dua selalu tercermin dari foto profil facebook yang berlatar belakang rumah berlantai dua itu.

Sepulang kuliah di Fakultas Hukum sebuah universitas negeri di Jakarta saat petang, Lena memiliki kebiasaan memandang dan mengelilingi rumah seluas 2.000 meter di kawasan asri Selatan Jakarta. Duduk di bangku taman sambil menggenggam Blackberry, Lena berfose sambil memoto dirinya sendiri. Akh, dalam hati Lena bergumam, sudah seminggu dia tidak mengganti foto profil facebooknya. Tiba-tiba Lena dikejutkan oleh suara melengking dari teras rumah.

“Lena, Lena, sudah dekat Maghrib dan gerimis,” Lena hapal betul kalau itu suara Ibunya, Ny. Isnaeni Ardiansyah.

Hujan yang tadinya rinai-rinai gemerincing semakin lama makin deras. Sambil berlari di sela-sela pohon perdu yang tumbuh lebat di sekitar rumah besarnya, Lena menyahut panggilan ibunya. “Ya, Mama, aku segera masuk,” ujar anak bungsu pasangan Isnaeni dan Ardiansyah, yang merupakan hakim karir di sebuah Pengadilan Negeri di Jakarta tersebut.

Selepas Maghrib, Ardiansyah Guminta, sudah duduk di meja makan besar di ruang makan. Begitu juga dengan Ny. Isnaeni, dan kakak nomor dua sudah menunggu di ruangan yang dihiasi dengan lukisan-lukisan indah diantaranya lukisan Monalisa yang sangat terkenal itu. Sudah 15 menit, ketiga anak-beranak itu menunggu Lena yang belum juga menampakkan diri turun ke lantai satu ruang makan. Kebetulan kamar Lena ada di lantai dua di sebelah kamar kakak nomor duanya, Hardi Guminta.

“Non Lena. Non Lena. Non Lena, ditunggu Bapak dan Ibu di meja makan,” demikian suara bibi Haryati sambil mengetuk kamar Lena. Lena tidak menyahut, namun sejurus kemudian pintu kamarnya terbuka. Lena mencubit pinggul bibi Haryati sambil turun menyusuri anak tangga dan bergabung bersama ayah, ibu, dan kakaknya. “Kok lama sekali, Lena turunnya. Ayah dan Ibu sudah menunggu 10 menit,” kata Isnaeni menegur anak bungsunya tersebut sambil memandang ke wajah Ardiansyah.

Sebagai anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara, Lena memang dikenal dekat dan sangat mengagumi sang ayah. Bahkan saking kagumnya, Lena bercita-cita ingin mengikuti jejak ayahnya sebagai hakim, setelah tamat dari Fakultas Hukum nanti.

Ardiansyah tahu betul kemampuan Lena, dan yakin kalau Lena kelak akan meneruskan jejaknya sebagai hakim yang telah mengabdi selama 25 tahun. Lena yakin, kalau ayahnya adalah hakim yang idealis dalam memutus perkara, dan adil terhadap rakyat jelata tanpa mau dipengaruhi oleh siapa pun. “Ayah, apa ayah pernah memutus suatu perkara karena dipengaruhi oleh orang lain,” kata Lena suatu pagi menjelang ayahnya berangkat ke kantor pengadilan.

Ardiansyah terperangah mendapat pertanyaan tersebut. Dia hanya menjawab singkat pertanyaan putrinya itu,” suatu hari nanti Lena akan tahun lika-liku pekerjaan seorang hakim dan apa saja yang akan dialami. Lena ingin jadi hakim ‘kan?” kata Ardiansyah tanpa memberi jawaban yang memuaskan Lena.

Lena tak mau berhenti dengan pertanyaan tersebut. “Tapi Ayah, apa seorang hakim itu bisa disuap untuk memberatkan atau meringankan hukum seorang tersangka,” lagi-lagi Lena memberi pertanyaan berat kepada Ardiansyah.

“Begini, Nak, Ayah hanya berpesan, kalau nanti Lena sudah menjadi hakim, jadilah hakim yang baik yang selalu memberi rasa adil kepada masyarakat,” kata Ardiansyah berdiplomasi.

Ardiansyah memang miris menjelaskan kepada Lena menyangkut kehidupan hakim. Apalagi, sebagai seorang hakim, yang juga pegawai negeri, sangat sulit bagi Ardiansyah untuk menjelaskan bagaimana mungkin dia memiliki rumah besar dengan profesinya saat ini. Dengan gaji yang dia terima sekarang, sulit bagi Ardiansyah memiliki rumah mewah seluas 800 meter persegi dan tanah 2.000 meter yang terletak di kawasan kota satelit pula.

Ardiansyah semakin was-was melihat sikap kritis Lena dalam bertanya. Apalagi saat ini ada dua mobil mewah yang terparkir di halaman rumahnya, Ardiansyah semakin tidak nyaman dengan kepintaran anaknya, walaupun dia merasa bangga kalau sang putri memiliki potensi yang sangat menjanjikan. “Lena. Apa mata kuliahmu hari ini, Nak? Lena harus maksimal dalam belajar, karena ayah melihat potensimu sangat bagus,” ungkap Ardiansyah berupaya melawan rasa was-wasnya.

Lena selalu menjawab pertanyaan ayahnya dengan lugas. Indeks Prestasinya pun selalu diatas rata-rata mahasiawa lain. Lena pun beberapa kali mewakili kampusnya untuk mengadakan sejumlah kegiatan kompetisi antar kampus. Kampus pun merasa senang karena Lena berhasil membawa nama baik kampus di forum-forum tersebut karena Lena acapkali menjadi nomor satu.

“Lena, minggu depan kamu ditunjuk oleh kampus untuk mewakili universitas kita dalam pertemuan mahasiswa fakultas hukum se-Indonesia. Tempatnya akan diadakan di Yogyakarta. Tolong siapkan materi-materi pidatomu,” kata Pembantu Rektor Harry Bustaman.

Itulah Lena. Kemampuannya dalam akademis, kemampuan berorganisasi, pergaulan yang baik, serta memiliki keluarga yang sangat menyayanginya, menjadi modal yang sangat kuat bagi putri seorang hakim ini untuk merenda prestasi di kampus maupun di luar kampus. “Siap, Pak. Saya akan lakukan yang terbaik untuk universitas kita,” kata Lena menyambut instruksi Harry Bustaman.

Hari itu Lena pulang agak malam. Maklum, keinginannya untuk menyelasaikan kuliah paling lama empat tahun telah membuatnya memiliki tekad untuk belajar all out. Bagi Lena target empat tahun itu adalah target yang paling buruk, sebab kalau memungkinkan dia ingin menyelesaikan kuliahnya dalam tempo tiga tahun saja. Padahal di sisi lain, Lena juga sering ditugaskan sekolahnya untuk mengharumkan nama universitas di berbagai kegiatan. “Aku senang dengan kehidupan yang penuh warna ini. Aku tidak takut kuliahku terganggu karena kegiatan kampus,” kata Lena ketika suatu kali kakaknya bertanya tentang kesibukannya di kampus.

Malam itu, sudah pukul 21.00, Lena sangat letih dan saat bibi Haryati menawarinya makan malam, Lena tidak menghiraukan. Lena masuk ke kamar, dan langsung terjerembab di tempat tidur tanpa berganti pakaian. Dia tidak tahu lagi apa ayah-ibunya sudah tidur atau belum.

Pagi itu Lena terbangun lebih cepat, yaitu pukul 05.00. Kamarnya yang memiliki fasilitas lengkap, kamar mandi, tv, memudahkannya untuk melakukan kegiatan apa saja di dalam ruangan privacy-nya. Tangan mungil Lena menyentuh tombol televisi untuk melihat sejumlah informasi. Betapa terkejutnya Lena saat mendengar sebuah liputan yang menyebut seorang hakim ditangkap tangan karena menerima suap. Lebih terkejut lagi ketika penyiar cantik stasiun televisi menyebut nama Ardiansyah Guminta.

Lena seperti kehilangan keseimbangan dan nyaris menabrak lemari di kamarnya, saking terkejutnya. Darahnya serasa terbang dan wajah memucat. Apalagi di dalam gambar televisi tersebut terlihat sosok tubuh yang sangat dia hapal sebagai sosok yang sangat dia kagumi selama ini. “Ayah, kenapa Ayah berbuat hal yang tak pernah saya duga,” kata Lena berbicara sendiri di dalam kamar.

Tak sanggup berdiri, Lena merebahkan badannya di atas sofa. Lena menangis sejadi-jadinya. Lena malu, Lena merasa tidak lagi punya harga diri terhadap tetangga, teman kuliah, maupun dosen-dosen Fakultas Hukum. Apalagi Lena sangat aktif dengan kegiatan kampus dan segenap civitas akademika di sana hapal sekali dengan nama Ardiansyah Guminta.

“Ibu, Ayah ditahan. Ibu, Ayah ditahan. Ibu, Ayah ditahan,” senguk Lena sambil berjalan menuju kamar Ibunya yang sedang duduk bertopang dagu.

Rupanya Ny. Isnaeni sudah tahu sejak semalam. Saat sang suami tertangkap tangan menerima suap dari seorang yang berperkara, Ardiansyah diberi kesempatan oleh aparat untuk menelpon istrinya bahwa dia tidak pulang malam itu karena harus mendekam di sel tahanan. “Lena, sabar, Nak. Ibu sudah tahu sejak semalam, tapi Ibu tidak ingin memberitahumu dan juga kakakmu. Sudahlah, mudah-mudahan apa yang terjadi pada Ayahmu hanyalah kesalahpahaman saja,” kata Ny.Isnaeni menenangkan Lena.

Setelah mandi Lena duduk di ruang tamu, sambil menunggu ibunya untuk menengok Ayahnya di tahanan penyidik. Tiga koran pagi yang biasa menjadi langganan keluarga ini sudah terpapar di beranda depan. Lena terbelalak, memandang foto besar ayahnya terpampang di headline koran tersebut. Banner-nya pun bertuliskan. “Hakim Ardiansyah Guminta Ditangkap Terima Suap”. Koran kedua pun menuliskan judul besar. “Seorang Hakim Terkenal Ditangkap”. lalu koran ketiga sangat menyakitkan “Hakim Korup Digelandang Aparat”. Lemas sudah badan Lena. “Lebih baik aku mati saja, apa yang akan aku katakan nanti di kampus. semua mata akan memandangku, meremehkanku, menudingku anak koruptor,” ungkap Lena dalam hati. “Lena, Lena, mari kita berangkat,” panggil Ny.Isnaeni. Namun Lena tidak ada di sofa.

Betapa terkejutnya Ny.Isnaeni ketika mendapati Lena yang bersimbah darah di dapur dengan pisau tertancap tepat didadanya. Lena rupanya telah mengakhiri hidupnya dengan harakiri, memilih jalan mati dari pada malu. “Lena, mengapa berbuat seperti ini. Kenapa, Nak,” kata Ny. Isnaeni bersimbah air mata. Seluruh penghuni rumah, pembantu, sopir keluarga, datang mengerubungi tubuh Lena yang semakin melemah.

Rustam, sang sopir yang sudah 20 tahun bekerja dengan keluarga Ardiansyah, membopong tubuh Lena ke atas mobil. Diikuti Ny.Isnaeni mereka melarikan kendaraan menuju rumah sakit. “Lena, bangun, Nak. Lena, bangun, Nak,” terdengar tangisan Ny.Isnaeni.

Tubuh Lena semakin mendingin, wajah memucat. Tusukan harakiri yang tertancap didada sebelah kiri memang sangat dalam. Sesampai di rumah sakit, tubuh Lena pun dilarikan ke kemar UGD. “Maaf, Bu, putri ibu sudah meninggal dunia sebelum sampai di rumah sakit ini. Tusukan mengenai organ vital, jantung sehingga kami tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Dokter Ilham dengan ramah.

Itulah Lena. Seorang anak cerdas, tapi harus berakhir dengan kematian karena rasa malu. Harakiri Lena.

***12 November 2011