Kalau mau Bersastra Jadilah Orang NU

http://www.wahidinstitute.org/

Tidak terasa tiga hari sudah mengikuti acara Liburan Sastra di Pesantren yang digelar Komunitas Matapena, Yogyakarta. Namun puluhan peserta acara, yang terdiri dari pegiat seni di pesantren dan umum, tetap bersemangat.

Salah satu sebabnya, acara yang yang berisi pelatihan menulis kreatif dan mengapresiasi sastra ini digelar di Pesantren Kali Opak LKiS Jogjakarta. Lokasinya persis di pinggiran Kali Opak yang memanjang di kawasan Timur Jogja.

Para peserta sengaja diinapkan di dalam beberapa tenda di sana. Jadi, sembari bergelut dengan materi-materi pelatihan, para peserta dapat menikmati keindahan alam selama masa pelatihan dari 10 – 12 Juli 2008. Wahid Institute diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan tersebut.

Ketua panitia Zaki Zarung mengatakan, kegiatan ini diharapkan memberikan wawasan pengetahuan dalam kesusastran serta menggali dan mengembangkan kemampuan menulis, dan memberikan wadah untuk berkereasi, dan menumbuhkan semangat pluralisme terutama di kalangan remaja dan mahasiswa.

“Saya berharap, peserta menjadi pegiat kesustraan yang hebat setelah mengikuti acara ini” pungkas Zaki.

Pembina komunitas Matapena Ahmad Fikri mengharapkan peserta dapat saling belajar, dan yang lebih penting adalah berkarya. “Sekalipun komunitas Matapena ini mengkhususkan karya-karya sastra pesantren, tentu saja tidak menutup untuk dapat mengapresiasi komunitas lain” tegasnya.

Penulis senior Ahmad Tohari tampak hadir dan membagi pengalamannya dengan para peserta. Menurutnya, kegiatan bersastra dimulai sejak turunnya perintah membaca kitab suci al-Qur’an. “Siapapun yang telah khatam, berarti secara sadar atau tidak sadar telah bersastra, yakni kondisi siap membaca teks. Baik teks yang huruf maupun bukan huruf. Inilah inti bersastra,“ papar penulis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk ini.

Mendalami dunia sastra tidak harus memiliki pendidikan formal tinggi. Yang penting adalah disiplin dan rajin membaca. “Jadi dunia sastra bukan monopoli yang berpendidikan tinggi, karena syaratnya hanya rajin ber-iqra (membaca, red.),“ jelas Tohari.

Selama ini banyak orang beranggapan bahwa menggeluti sastra berarti mendalami dunia yang mengawang dan tidak membumi. Namun, menurut Tohari pandangan ini tidak sepenuhnya benar. Karena bersastra adalah menjadikan imajinasi menjadi sebuah karya.

Peserta pelatihan juga difasilitasi para pengiat sastra, diantaranya adalah Evi Idawati (aktris, penyair dan novelis), Joni Aryadinata (cerpenis dan novelis), Kajay Habib (teaterawan, penulis naskah lakon), dan Schahree M. Daorini (aktor dan novelis), serta penulis-penulis dari komunitas Matapena.

“Dunia sastra adalah dunia yang membebaskan. Hal yang tidak boleh dilupakan adalah, selalu membuka wawasan dengan banyak membaca,” kata Evie Idawati.

Karena membaca akan menjadi bekal untuk mengembangkan gagasan-gagasan baru secara lebih bermutu dan menjadi referensi untuk membebaskan.

Liburan Sastra

Sebagai puncak acara, diadakan pentas bersama dalam bentuk orasi budaya oleh sastrawan Acep Zamzam Noor, pembacaan puisi oleh D. Zawawi Imron, penampilan para peserta dan wayang mutimedia oleh Kajay Habib.

Di penghujung acara, Zawawi Imron didapuk untuk memanjatkan doa penutup sekaligus membawakan beberapa puisi religi, keprihatinan terhadap lingkungan, dan penghormatan pada sosok ibu.

Dalam orasi budaya, Kang Acep menyampaikan bahwa sekalipun tidak ada kurikulum sastra dalam pesantren, namun di pesantren banyak atmosfir sastra. Ini yang menjadikan banyak sekali pesantren yang melahirkan sastrawan dan itu akan selalu begitu.

“Jadi kalau mau belajar puisi masuklah ke pesantren atau kalau belajar sastra jadilah orang orang NU. Karena di NU semua serba boleh. Berimajinasi boleh, kekuburan boleh, sementara di tempat lain tidak boleh,” katanya disambut tawa dan tepuk tangan penonton. [Wck]

23 Juli 2008