Mendengar Suara-suara Melayu

Rida K Liamsi
Riau Pos, 30 Okt 2011

KOREA-ASEAN Poets Literature Festival (KAPLF) I yang diadakan di Seoul, Korea Selatan, Desember 2010, selain diisi dengan kegiatan pembacaan puisi dan esai juga menerbitkan beberapa buku sastra. Antara lain, kumpulan puisi yang berisi puisi-puisi penyair ASEAN yang ikut festival (ada 12 penyair) di mana masing-masing penyair menyertakan 4 puisinya, yang diberi judul: Becoming (sesuai dengan tema festival). Lalu sebuah kumpulan puisi dan esai yang dibacakan para peserta yang selama festival, baik dari ASEAN maupun dari Korea Selatan, yang juga berjudul Becoming (meskipun buku ini juga berisi tentang agenda acara festival, jadi juga menjadi semacam buku panduan ancara), dan sebuah kumpulan puisi dalam bentuk edisi khusus Majalah Sastra Sipyung, yang berisikan 2 puisi para penyair ASEAN dan Korea Selatan selain yang sudah masuk dalam kumpulan puisi Becoming dan kumpulan puisi dan esai yang dibacakan.

Memang, tiap peserta, khususnya yang dari ASEAN, diminta mengirimkan 8 puisinya yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, karena bahasa resmi festival tersebut. Tapi, seluruh puisi yang masuk Edisi Khusus Sipyung ini, diterjemahkan ke dalam bahasa Korea, karena memang di sanakan tempat majalah ini beredar. Sebuah tradisi telah dimulai!

Pada acara Korea-ASEAN Poets Literature Festival (KAPLF) II di Pekanbaru, Riau (Indonesia), Oktober 2011 ini, tradisi yang mengharuskan para peserta yang diundang untuk mengirimkan 8 puisi, diteruskan. Dan, tradisi menerbitkan karya-karya yang dikirimkan itu ke dalam dalam bentuk antologi, baik itu untuk karya puisi saja, atau karya campuran (puisi dan esai) yang dibacakan para peserta, juga diteruskan. Kali ini sesuai dengan tema festival KAPLF II: Sound of Asia: Malay as World Haritage, maka ada tiga buku yang diterbitkan. Untuk antologi puisi para penyair yang memuat 4 puisi masing-masing peserta, diberi nama Sound of Asia. Untuk kumpulan puisi dan esai yang dibacakan para peserta bersama panduan acara, diberi judul Malay as World Haritage on Stage, dan yang antologi puisi ketiga diberi judul Becoming After Seoul.

Antologi Puisi Sound of Asia, sebagaimana antologi Becoming yang diterbitkan pada KAPLF I 2010, adalah kumpulan karya para penyair peserta KAPLF 2011. Festival kali ini cukup ramai. Dari Korea Selatan ada 10 peserta yang datang, 9 di antaranya adalah peserta aktif. Sedang peserta khusus adalah Kho Hyeong Ryeol, Presiden The Poets Society of Asia (TPSA), yakni komunitas para penyair Asia yang ada di Korea yang menjadi penggagas KAPLF. Dari negara-negara ASEAN, selain Indonesia, ikut serta 2 penyair dari Vietnam, 3 dari Thailand, 2 dari Myanmar, 4 dari Malaysia, 1 dari Brunei Darusallam, 1 dari Singapura, dan 2 dari Filipina. Sedangkan dari Indonesia, sebagai tuan rumah, ikut 20 penyair. Ada 5 penyair yang berasal dari penyair yang berdomisili di luar Sumatera, lalu ada 9 penyair yang mewakili provinsi di Sumatera, di luar Riau, dan Riau sendiri diwakili 5 penyairnya.

Karya-karya mereka inilah yang dikumpulkan dalam antologi itu, yang dipilih oleh tim editor yang ditunjuk panitia pengarah masing-masing 4 puisi dari tiap penyair, kecuali peserta Korea Selatan yang menyertakan hanya 3 puisi mereka. Untuk memberi nuansa Asia yang gemuruh, penuh warna, dan lentikan bahasa yang menembus batas, maka panitia memang memberi ruang untuk tampil utuh puisi-puisi peserta dalam bahasa ibunya. Memang, karena bahasa resmi pada festival ini adalah Inggris, maka sebahagian peserta juga mengirimkan terjemahan puisi-puisi mereka dalam bahasa Inggris. Tapi dapat dimaklumi, karena keterbatasan waktu dan puisi-puisi adalah karya yang sangat imajinatif, maka terjemahan-terjemahan itu belum tentu dapat menyerap seluruh denyut, degup dan geliat roh puisi para peserta. Karena itu, puisi-puisi peserta juga tampil dalam bahasa dan aksara negara asalnya. Maka, seorang penyair dari Korea Selatan akan juga hadir dengan puisi-puisi bahasa Korea. Aksara Korea. Sehingga gaung Asia itu menjadi sangat semarak dan gemuruh. Demikian halnya dengan Vietnam, Thailand, Myanmar, dan tentunya Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, dan Indonesia dengan aksara latinnya.

Panitia memang sengaja membiarkan antologi ini membuat tafsiran mereka sendiri tentang keragaman Asia itu. Keanekaragaman kultur dan interpretasi para penyairnya terhadap kehidupan, persaudaraan dan kreativitas. Sound of Asia itu juga dapat diterjemahkan dengan pengertian: Menyuarakan Asia. Menggaungkan Asia. Dan di dalamnya suara-suara dan denyut kebudayaan Melayu sebagai bagian dari kebudayaan Asia dan dunia ikut terdengar. Gemuruh dan menjentikkan kesadaran-kesadaran tentang kehidupan rumpun bangsa yang pernah demikian jayanya di kawasan ini.

Sound of Asia, adalah sebuah upaya untuk memberi laluan kreativitas para penyairnya untuk dipahami dan diberi tempat dalam kehidupan kebudayaan di negeri-negeri tempat mereka tumbuh,berkembang, dan memberi makna. Sound af Asia adalah jejak-jejak Asia dalam lintasan dunia.

Seperti juga antologi puisi Becoming yang diterbitkan pada KAPLF 2010 di Seoul yang esensi temanya mempertanyakan: “Dari mana kita datang, di mana kita sekarang, dan ke mana kita akan pergi”, maka di KAPLF 2011 di Riau ini juga pertanyaan itu muncul, dan karya-karya dalam antologi ini mencoba menjawab dan menantangnya!***

Rida K Liamsi, Director Korea-ASEAN Poets Literature Festival (KAPLF) II Riau. Tulisan ini merupakan pengantarnya untuk buku Sound of Asia: Korea-ASEAN Poets Literature Festival Anthology II 2011.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/10/mendengar-suara-suara-melayu.html