(Sekali Lagi) Membincang (tentang) ”Sastra Pesantren”

Akhiriyati Sundari

”Kalau ada sastrawan kita yang merasa terpanggil untuk menggarap kehidupan pesantren sebagai objek sastra nantinya, terlebih dahulu harus diyakininya persoalan-persoalan dramatis yang akan dikemukakannya. Tanpa penguasaan penuh, hasilnya hanyalah akan berisi kedangkalan pandangan belaka” (Abdurrahman Wahid, 2001)

Bagi penulis yang tidak terlalu akrab dengan kehidupan pesantren, pernyataan di atas sesungguhnya menyimpan kemasygulan. Bagaimana mungkin bagi diri penulis untuk menulis sastra dengan menjadikan pesantren sebagi objeknya, sementara penulis sendiri tidak terlalu akrab dengan dunia pesantren itu sendiri?

Barangkali inilah yang pernah disebut oleh sastrawan-penyair Acep Zamzam Noor—seperti apa yang dirasakan oleh penulis—sebagai ’beban’ tersendiri ketika ingin bersastra-pesantren, menulis sastra pesantren, atau sekian embel-embel lain yang berkaitan dengan sastra-pesantren. Di sisi lain, penulis sepakat dengan ungkapan Gus Dur di atas bahwa harus ada ’pendalaman’ secara pribadi terhadap kehidupan pesantren. Dari ’pendalaman’ itulah akan muncul ’penguasaan penuh’ terhadap apa yang disebut sebagai pesantren.

Membincang sastra pesantren, sesungguhnya tak akan pernah selesai dus secara terminologis (istilah). Beberapa waktu lalu memang sempat menjadi hangat perbincangan—kalau tidak boleh disebut sebagai polemik—tentang apa sesungguhnya yang disebut ”sastra pesantren” itu? Apakah segala karya cipta sastra tentang dunia pesantren dan seisinya ataukah suatu karya sastra yang meski bukan berkisah tentang pesantren, namun ditulis oleh seorang santri dari sebuah pesantren? Penulis yakin tidak ada yang bisa dikatakan baku dari pengertian sastra pesantren. Ia akan berkembang dengan sendirinya seiring waktu yang berubah.

Pesantren dan dunianya menurut hemat penulis adalah sebuah warna (dalam bahasa Gus Dur kerap disebut dengan subkultur) yang tersendiri dari elemen-elemen kehidupan negeri ini. Pesantren memiliki kehidupan yang unik, bukan saja karena ia ’berbeda’ dari kehidupan masyarakat pada umumnya, melainkan lebih dari itu, pesantren menjadi tempat yang subur bagi bersemainya nilai-nilai luhur ajaran agama. Ia menjadi benteng moral dari kebobrokan zaman yang mengalir deras di dunia luar. Tempat menjadikan nilai luhur sebagai tradisi menyehari-hari ini jugalah yang terbukti melahirkan manusia-manusia tangguh ketika menghadapi hidup di kemudian hari.

Denyut kehidupan di pesantren yang berkisar antara bilik-bilik kamar (asrama), masjid/mushola pusat sebagai tempat beribadah (beberapa mungkin juga dijadikan sebagai sarana halaqoh/belajar bersama) dan ruang-ruang kelas bagi pesantren yang menerapkan model belajar klasikal, dan kediaman pengasuh (kiai) adalah menyimpan berjuta inspirasi yang tak ada habisnya untuk dituangkan dengan tetesan pena membentuk karya sastra. Akan tetapi, dalam sejarah sastra di negeri ini penggarapan karya sastra berlatar belakang pesantren seperti dimaksud penulis di atas, belumlah lama. Tercatat baru di tahun 50-an dan 60-an, seorang bernama Djamil Suherman yang mengenyam kehidupan pesantren, aktif menggarap pesantren sebagai latar karya-karyanya berupa cerita-cerita pendek.

Di tahun-tahun belakangan ini, kita mengenal pula muncul nama orang-orang dari latar belakang pesantren yang juga menuliskan karya terkait pesantren. Ada KH Mustofa Bisri (Gus Mus) yang begitu menonjol dengan karya sufistik-religi (Keislaman) melalui puisi dan cerpen-cerpennya, Acep Zamzam Noor yang juga penyair, Jamal D Rahman, Ahmad Tohari, Alm. Zainal Arifin Thoha, untuk menyebut sedikit saja dari nama-nama yang akrab di hati penulis, sampai pada perkembangan sastrawan periode-periode muda sekarang yang banyak sekali jumlahnya. Mayoritas mereka adalah santri atau setidaknya pernah mengenyam pendidikan di pesantren.

Nama-nama yang dikenal penulis seperti di atas, bergelut di dunia pesantren dengan kesungguhan yang tidak diragukan. Meski harus diakui bahwa pesantren (manapun) tidak pernah memasukkan kurikulum ”belajar sastra” secara khusus dalam pendidikan yang dilangsungi, namun justru mereka dengan keinginan sendiri secara mandiri bergelut dengan ruang-ruang penempaan batin yang luar biasa untuk menuliskan suatu karya. Iklim yang ada di sebuah pesantren menurut hemat penulis, menyediakan diri sepenuhnya bagi santri untuk merenung, membaca, menulis sekaligus meresapi hal-hal yang sulit sekali untuk dijelaskan dengan dunia nyata. Maksudnya, resapan-resapan atas kehidupan yang bernilai yang hanya mampu dituangkan dalam karya. Biasanya ada pula beberapa dari santri itu membentuk komunitas dalam sebuah pesantren. Tentu saja hal ini bisa terjadi bila ada dukungan penuh, misalnya dari sesepuh atau pengasuh pesantren itu sendiri. Juga hal yang tidak ketinggalan adalah minat baca-tulis santri sendiri. Seharusnya adalah hal yang niscaya terjadi di sebuah pesantren, tradisi baca-tulis ini menjadi bagian hidup santri. Bagaimana mungkin misalnya santri dapat melahirkan suatu karya tulis bila santri itu sendiri malas membaca dan menulis?

Sebagai penutup dari tulisan ini, barangkali ini menjadi kegelisahan penulis sendiri bahwa jika kita masih bingung merumuskan gagasan tentang apa itu sastra pesantren, lantas kita bisa berbuat apa? Penulis sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa pergumulan dengan sastra pesantren adalah tidak perlu mengedepankan harus menghasilkan karya sastra murni pesantren. Harus segala yang berbau pesantren. Akan tetapi lebih luas dari itu, kita perlu mengeksplorasi nilai-nilai yang ditradisikan di pesantren untuk kita ajak keluar. Bagaimana nilai pesantren tanggap terhadap perubahan zaman, bagaimana pesantren merespon kehidupan yang telah sedemikian mengglobal di luar sana. Toh, sastra sudah semestinya meluas seluas semesta ini dan bukan hanya terkungkung di pesantren an sich.
Wallahua’lam bis showab

22 Juli 2009