Sumpah Pemuda sebagai Pucuk Kebudayaan

Musa Ismail
Riau Pos, 23 Okt 2011

MARI kita memahami kembali Sumpah Pemuda!!

Kami putra dan putri Indonesia
Mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia
Mengaku bertanah air yang satu, Tanah Air Indonesia ,
Kami putra dan putri Indonesia
Menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia

Negara merupakan organisasi besar. Sebagai organisasi, negara harus memiliki visi agung. Nah, secara organisasi, Sumpah Pemuda adalah visi agung itu. Secara sastra, penulis setuju dengan pandangan Sutardji Calzoum Bachri bahwa Sumpah Pemuda merupakan karya sastra berbentuk puisi yang luar biasa. Metafora, kepadatan makna, nilai-nilai, diksi, dan persajakan bergejolak penuh semangat dalam teks bersejarah tersebut. Lahirnya puisi dan visi agung ini berlatar sejarah penderitaan bangsa Indonesia. Pemuda ketika itu memahami dengan sekali akan latar belakang kemajemukan bangsa ini. Mereka pun mengerti benar dengan kekuatan multikultural sehingga berhasil menghimpun energi pergolakan dan pendobrakan yang cerdas.

Selain peristiwa bersejarah dan heroik, kelahiran Sumpah Pemuda juga merupakan pucuk kebudayaan Indonesia. Pucuk kebudayaan Indonesia yang energik dari peristiwa ini adalah nilai persatuan. Akumulasi kultur etnik yang terhimpun melalui gejolak kebudayaan ketika itu merupakan hasrat untuk mengubah peradaban bangsa. Peradaban ini tentunya melalui proses panjang perjuangan. Semangat politik dari peristiwa 28 Oktober 1928 itu sekaligus merupakan suatu peristiwa kebudayaan. Peristiwa inilah sebenarnya merupakan sagang utama dalam membentuk dan menghidupkan aktivitas kebudayaan dalam peristiwa-peristiwa penting pada tahun-tahun berikutnya. Inilah tonggak politik dan budaya dalam mendirikan Indonesia. Mahayana mengatakan, selepas peristiwa itu, berbagai puak dengan keanekaragaman kultur dan bahasanya, dipersatukan melalui klaim kesadaran adanya persamaan tanah air (wilayah), persamaan nasib bangsa yang terjajah, dan persamaan menggunakan alat komunikasi antar-etnik (bahasa). Klaim kesadaran keindonesiaan para pemuda itu dalam konteks kebangsaan yang lebih bersifat politis. Dalam lampiran hasil keputusan kongres itu, dinyatakan bahwa dasar persatuan Indonesia itu dilandasi kesamaan semangat kemauan, sejarah, hukum adat, serta pendidikan dan kepanduan.

Bertanah air Indonesia, berbangsa Indonesia, dan berbahasa Indonesia bukan hanya konteks politis. Jauh dari itu, sebenarnya, inilah pucuk kebudayaan yang patut kita kontemplasi kembali nilai-nilai karakternya. Inilah jatidiri bangsa Indonesia yang tidak sepantasnya hanya menghiasi dinding-dinding sekolah. Jatidiri inilah yang kian tergerus oleh terjangan globalisasi. Namun, kita tidak patut menyalahkan globalisasi, tetapi harus dijadikan peluang besar untuk memperkuat kembali jatidiri tersebut. Inilah pucuk kebudayaan Indonesia yang patut dipertahankan, dibina, dan dikembangkan.

Bahasa (Melayu) Indonesia

Secara historis, etnis Melayu Riau berperanan sangat penting dalam khazanah pucuk kebudayaan. Bahasa Indonesia sebagai salah satu pucuk kebudayaan Indonesia itu lahir, tumbuh, dan berkembang dari Riau. Artinya, Riau sebagai pusat kebudayaan sekaligus sebagai pucuk kebudayaan yang berfungsi pula sebagai perekat demi keutuhan tanah air. Jauh sebelum Sumpah Pemuda, bahasa Melayu telah menjadi lingua franca bagi penduduk di wilayah Nusantara. Secara de facto, bahasa Melayu sudah menjadi alat komunikasi antar-etnis, sekaligus juga sebagai sarana untuk saling mengenal keberagaman kultur etnik. Bahasa Melayu Riau dalam Sumpah Pemuda telah terbukti dan teruji berhasil menyebatikan hakikat multikultur di negara ini.

Dalam perjalanan kesastraan, peranan bahasa Melayu tidak bisa ditepis. Catatan kebudayaan, khususnya kesastraan tersemat bergeliga di ujung pena para pujangga Melayu ketika Kerajaan Johor-Riau-Lingga. Ini merupakan bukti bahwa bahasa Melayu sangat dinamis dalam permainan estetika kesusastraan. Bahasa yang sederhana ini mampu masuk menusuk sehingga diterima oleh nusantara, bahkan mancanegara. Karya-karya besar dalam sejarah Melayu menjadi monumen yang tidak bisa digerus zaman. Hingga kini, perbincangan sastra Melayu terus saja menghangat.

Ketika bahasa Melayu berubah menjadi bahasa Indonesia, karya-karya besar berbahasa Indonesia pun mengusung resa. Keranggian bahasa Melayu tetap saja menghiasi diksi-diksi penulisan kesastraan. Lalu, kedudukan bahasa Indonesia ini pun melangit. Namun, sebagian besar bangsa ini terkesan masih gengsi untuk berbahasa (Melayu) Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita berada di pasar, baik di desa maupun di kota, terkesan bahwa kita bukan berada di desa atau di kota tanah air, tetapi seperti berada nun jauh di Eropa. Bahasa bernuansa Eropa sudah mengotori kesucian bahasa (Melayu) Indonesia. Bahkan, tidak sedikit pejabat negara atau negeri ini justru dengan bangga berbahasa asing gado-gado daripada berbahasa Indonesia secara utuh. Fenomena ini perlu diantisipasi dengan cepat agar jatidiri dan identitas bangsa ini tidak semakin luntur.

Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia merupakan suatu kesetiaan, kebanggaan, karakter, dan sikap terpuji. Inilah suatu tanda bahwa bangsa Indonesia patut membangun kebudayaan sendiri dengan nilai-nilai bangsanya sendiri. Penekanan bahasa Indonesia pada teks Sumpah Pemuda merupakan suatu visi agung yang belum tercapai secara bulat. Di sana sini, keberadaan bahasa Indonesia masih dililit dilema, baik dari segi pemakaian, pemakai, EyD, maupun sikap bangsa ini. Makna ini sesungguhnya menyanggah apa yang dikatakan Sutan Takdir Alisjahbana dalam Polemik Kebudayaan, bahwa kebudayaan tradisional mesti ditempatkan sebagai masa lalu. Secara eksplisit dikatakannya: masa lalu sudah mati semati-matinya!

Bahasa Indonesia adalah kebudayaan bernas bangsa Indonesia. Sebagai wahana kebudayaan, bahasa Indonesia lahir untuk pemersatu bangsa. Hingga kini, keberadaan bahasa ini sudah teruji. Melalui sifatnya yang dinamis dan adaptif, bahasa Indonesia mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Dengan demikian, sudah tentu akan mampu juga dalam hal mengembangkan dan membina dinamika kebudayaan Indonesia secara universal. Di sinilah letak fungsi Sumpah Pemuda sebagai pucuk kebudayaan Indonesia.

Banyak sekali polemik tentang kebudayaan Indonesia. Kita masih saja berkutat pada hakikat kebudayaan nasional Indonesia. Pucuk-pucuk kebudayaan Indonesia dapat kita gali melalui visi agung Sumpah Pemuda dengan penjabaran yang sistematis dan terperinci. Nilai teragung sebagai hati dari kebudayaan nasional Indonesia adalah persatuan dan kesatuan. Nilai inilah yang diamanatkan dalam teks Sumpah Pemuda itu. Bahasa Indonesia tetaplah sebagai bahasa Indonesia, bukan lagi bahasa Melayu dalam arti sempit. Eksistensi bahasa Indonesia terus saja beradaptasi dengan ilmu dan teknologi.

Bangsa ini harus segera bangun dari ketidaksadarannya. Kita merupakan bangsa yang multikulturalisme. Karena itu, kita hidup dalam keanekaragaman ideologi, agama, suku bangsa, dan budaya. Melalui pemahaman dan kesadaran visi agung itu, kita seharusnya dapat menempatkan perbedaan dalam kerangka kesetaraan derajat. Semangat multikulturalisme selayaknya mengobarkan resa kebhinnekatunggalikaan seperti termuat dalam jiwa teks bersejarah itu. Kenyataan terkini, justru tidak sedikit dari kita termakan sumpah sendiri.

Kita kembali mempersoalkan kepedulian terhadap bahasa Indonesia. Sudah seperti apa upaya pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia? Seperti apa pula sikap bangsa ini terhadap bahasanya sendiri? Jika kita kaitkan dengan kenyataan, maka akan kita temukan realitas-ironis terhadap bahasa Indonesia. Media massa (elektronik maupun cetak) pun masih merasa bangga menggunakan judul utama dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Kalau sikap orang terdidik saja kurang peduli dengan hal ini, apalagi masyarakat umum seperti para pedagang? Di media elektronik, hanya ada dua acara berkaitan dengan bahasa Indonesia, yaitu kuis Main Kata di teve Global dan Binar (Bahasa Indonesia yang benar) di TVRI. Namun, dua program ini tidak seimbang jika dibandingkan dengan sikap kekurangpedulian media cetak dan elektronik terhadap pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Sementara itu, di koran/majalah masih banyak mengutamakan judul utama dengan bahasa Inggris. Misalnya, Save the Earth.

Momen Anugerah Sagang dan Festival Penyair

Konsistensi Yayasan Sagang memberikan Anugerah Sagang kepada yang terpilih setiap tahun merupakan salah satu bentuk sokongan terhadap pucuk kebudayaan. Demikian pula dengan Festival Penyair Korea-ASEAN 2011 (Korea-ASEAN Poets Literature Festival 2011) yang dilaksanakan di Pekanbaru, Riau. Saya katakan ini sebagai momen penyokong pucuk kebudayaan nasional Indonesia karena helat ini bisa menjadi punca kegairahan resa-budaya. Para penyair terpilih, penyair/sastrawan/seniman partisipan, dan budayawan berperan penting dalam helat ini dalam kaitannya dengan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional Indonesia. Helat ini juga bisa menjadi wahana promosi terhadap kebudayaan nasional Indonesia, terutama melalui sisi kesastraan dan seni pada umumnya.

Sebagai Bulan Bahasa, Oktober bersejarah ini sudah selayaknya dikemas kembali dengan praktikum sastra. Sekedar bernostalgia. Ketika saya masih kuliah (antara 1990 -1995) kegiatan praktikum sastra masih bergema pada setiap Oktober. Beberapa universitas di bumi Melayu ini menghidupkan dengan berbagai kegiatan sayembara seperti pembacaan syair dan puisi, penulisan puisi dan cerpen serta diskusi ilmiah mengenai kesusastraan. Tradisi yang sangat efektif dan membangun ini mengapa hilang ditelan waktu. Apakah ini suatu pertanda bahwa generasi bangsa ini sudah kurang peduli dengan kesastraan? Akan menjadi sangat aneh jika terjadi generasi tanpa sastra!

Sumpah Pemuda yang dilahirkan pada masa perjuangan bukanlah sekedar semboyan usang. Nilai-nilai patriotis, persatuan, dan kebersamaan di dalamnya begitu berharga jika kita bandingkan dengan kondisi Indonesia saat ini. Di beberapa daerah, nilai-nilai tersebut mulai tercabik-cabik. Keberadaan nilai-nilai Sumpah Pemuda sama halnya dengan Pancasila yang mulai terlupakan sebagai karakter bangsa Indonesia. Namun, jika dibandingkan intensitasnya, nasib Pancasila masih lumayan elok karena selalu dibacakan pada setiap Senin meskipun dengan jiwa yang kosong. Sedangkan Sumpah Pemuda?

“Berbangsa yang satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu” bukan hanya dasar pembangunan. Bukan pula puncak kebudayaan. Namun, nilai-nilai di dalamnya merupakan pucuk-pucuk kebudayaan. Dikatakan demikian karena dari peristiwa bersejarah inilah seharusnya kita mengangkat, membina, dan mengembangkan kebudayaan nasional Indonesia secara menyeluruh. Sudah saatnya kita, terutama generasi muda berbalik ke titik awal untuk mengimplikasikan sumpahnya dalam tatanan kebudayaan nasional Indonesia.

Musa Ismail, guru Bahasa Indonesia SMAN 3 Bengkalis, sedang belajar di Pascasarjana Manajemen Pendidikan Universitas Riau.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/10/sumpah-pemuda-sebagai-pucuk-kebudayaan.html