Tahun Baru Bukan Sekadar Pesta

Mahmud Jauhari Ali *
__Banjarmasin Post

Setiap tanggal satu bulan satu pada tahun baru Masehi selalu dimeriahkan dengan berbagai kegiatan. Mulai tiup terompet kertas hingga pembakaran kembang api besar-besaran pada pukul 00.00 dini hari di belahan bumi mana pun. Seakan kegiatan-kegiatan pada awal tahun baru itu merupakan sebuah keharusan yang tidak dapat ditinggalkan. Selain itu, kebanyakan orang saling mengucapkan atau menyampaikan selamat tahun baru kepada sesama baik secara lisan maupun secara tertulis. Akan tetapi, sebenarnya bukan sekadar pesta yang meriah dan ucapan selamat saja yang dapat kita lakukan pada setiap awal tahun baru, terlepas dari tahun Hijriah atau pun tahun Masehi tersebut. Tahun baru harus kita maknai sebagai suatu babak baru dalam percaturan hidup kita di masa depan. Oleh karena itu, perlu jiwa baru, rencana baru, dan juga semangat yang tinggi untuk menjalani tahun yang akan dilalui.

Babak baru tentulah harus kita mulai dengan jiwa baru yang lebih bersih, kuat, dan sehat hasil dari pembentukan jiwa tahun sebelumnya sehingga kita dapat mengisi tahun yang akan kita lalui dengan hal-hal yang bermanfaat bagi agama, masyarakat, dan negara. Sebagai implementasi jiwa yang baru, salah satunya pada tahun yang baru jangan ada lagi perasaan dan pikiran untuk bersaing secara tidak sehat di masyarakat atau di dunia kerja. Mengapa demikian? Karena hal itu tidak akan membuat kita semakin maju, yang ada hanyalah kesamaan hasil pada tahun-tahun sebelumnya. Padahal pada tahun yang baru kita mengharapkan ada perubahan ke arah kemajuan. Begitu pula dengan pengunaan bahasa, haruslah ada perubahan sikap positif terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing. Jika semula bersikap tidak peduli, kini tumbuhkanlah sikap yang positif terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah dalam jiwa kita. Misalnya mulai ada peningkatan dalam hal menghindari penggunan bahasa asing di negara kita sendiri untuk berkomunikasi dengan sesama orang Indonesia. Dalam dunia sastra juga demikian, jika semula tidak peduli terhadap kehidupan sastra, kini jadikan bersikap positif terhadap sastra. Misalnya, mulailah membaca karya-karya sastra atau mulai menciptakan karya sastra sendiri seperti membuat puisi.

Rencana baru juga harus kita buat untuk menapaki langkah demi langkah roda kehidupan pada tahun yang akan kita lalui. Rencana itu perlu, walaupun tidak semuanya dapat kita laksanakan. Hal terakhir yang kita bahas di sini adalah semangat membangun bangsa kita. Kita harus lebih bersemangat membangun bangsa ini sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Dalam hal bahasa dan sastra banyak yang dapat kita tingkatkan berkenaan dengan semangat yang tinggi ini dalam membangun bangsa kita. Mengaplikasikan semangat yang tinggi dalam hal bahasa, seperti meningkatkan penggunaan bahasa Indonesia untuk memperoleh pengetahuan, selalu menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dalam situai formal, tidak malu menggunakan bahasa Banjar sebagai bahasa daerah kita saat berkomunikasi di tempat-tempat elit, dan tidak mencampuradukkan bahasa Indonesia dan bahasa Banjar dengan bahasa aising.

Dalam hal sastra semangat yang tinggi dapat kita terapkan seperti, meningkatkan frekuensi membaca karya-karya sastra, menonton pementasan teater tradisional dan modern, dan membuat karya-karya sastra sendiri dengan kemampuan yang ada. Khusus pembuatan karya sastra, selain untuk koleksi pribadi, kita juga dapat mengirimkan hasilnya ke media-media cetak lokal di provinsi ini guna lebih meningkatkan semangat menulis sastra. Bagi para guru bahasa dan sastra dapat mangajak para siswa mereka untuk giat menulis puisi atau pun cerpen sehingga tumbuh generasi-generasi muda yang mahir bersastra di Kalimantan Selatan. Menutup tulisan saya yang singkat ini, marilah kita memaknai tahun baru bukan sekadar pesta yang meriah atau menyampaikan uncapan selamat tahun baru belaka. Tahun baru harus kita pahami sebagai sebuah babak baru untuk kehidupan kita yang lebih baik lagi di masa depan.

*) Pencinta Bahasa dan Sastra