Ahmad Tohari Bangkit Bersama Sang Penari

Linda Sarmili
http://www.suarakarya-online.com/

Budayawan Ahmad Tohari merasa hidup lagi. Bangkit kembali bersama film “Sang Penari”, film terbaik hasil Festival Film Indonesia 2011, film nasional yang pembuatannya didasari oleh novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Bersama dengan larisnya film tersebut ditonton masyarakat luas, novel trilogi Ronggeg Dukuh Paruk juga diserbu pembaca. Banyak pengunjung toko buku Gramedia dalam beberapa bulan terakhir ini mencari novel tersebut di rak-rak buku sastra, tetapi selalu cepat kehabisan.

Padahal menurut keterangan seorang petugas toko buku Gramedia Blok M, Jakarta Selatan, novel Ronggeng Dukuh Paruk cetakan terakhir dengan gambar sampul dua bintang utama film “Sang Penari”, sebenarnya belum lama dikirim pihak Gramedia Pusat ke Toko Buku Gramedia Blok M. “Kini tak satu pun lagi buku itu tersedia di toko ini. Habis. Silakan cari di toko buku Gramedia lainnya, mungkin masih ada…” ujar seorang petugas toko Buku Gramedia Blok M, pekan lalu.

Larisnya novel yang telah mengalami cetak ulang beberapa kali itu, menuntut pihak Gramedia segera mencetak ulang buku tersebut dan sesegera pula menempatkannya di rak-rak toko buku Gramedia. Mengapa? Karena sampai sejauh ini masih banyak yang berminat membeli buku itu.

Seiring dengan kenyataan tersebut, Ahmad Tohari mengaku bangga. Dia pun mengaku kembali bergairah menulis novel baru yang masih menggambarkan kesulitan hidup wara Banyumas di era Gestapu.

Ahmat Tohari juga mengaku film Sang Penari yang sempat langsuhg dilihatnya saat syuting telah mengembalikan semangatnya bahwa menulis novel sesuai dengan rekaman kejadian masa lalu, tidaklah rugi, meski pada masa ini banya bahan cerita yang mungkin jauh lebihmenarik dibandingkan saat-saat lampau.

“Jujur, kini semangat saya kembali bangkit. Semangat saya sempat hilang ketika trilogi novel Ronggeng Dukun Paruk itu direkam secara salah saat dibuat menjadi skenario film Penari Ronggeng yang dibintangi atris Enny Betariks beberapa tahun silam. Di film itu, penonton segera saja menilai bahwa film Penari Ronggeng adalah film semi porno. Padahal novel Penari Ronggeng Dukuh Paruk bukan novel porno, melainkan novel kehidupan susah warga Banyumasan di era meletusnya Gerakan 30 S PKI.” jelas Ahmad Tohari. “Tetapi begitu melihat film Sang Penari, saya menagis terharu, ternyata sutradara film sang Penari Ifa Isfansyah sangat memahami isi hati saya, sehingga membuat film Sang Penari yang begitu sesuai dengan isi hati saya. Film itu hebat, saya menyarankan semua warga banyumas nonton film itu,” ujar Ahmad Tohari lagi.

Seiring dengan terus meningkatnya minat masyarakat menonton film Sang Penari, Ahmad Tohari juga makin giat melangsungkan kegiatan sosialisai sastra ke berbagai tempat. Baru-baru ini dia menggelar apresiasi sastra kepada pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tentu saja kegiatan tersebut diselenggarakan atas izin pimpinan TNI. Apresiasi sastra yang dilangsungkan kembali mengulas film “Sang Penari”.

“Filmnya lumayan bagus, penting bagi generasi muda untuk menonton film ini. Ini promosi ya,” kata Ahmad Tohari di sela-sela acara “Gendu-Gendu Rasa: Nguri-uri Budaya Banyumasan” yang diselenggarakan Pusat Penelitian Budaya Daerah dan Pariwisata Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, di Gedung LPPM Unsoed Purwokerto.

Menurut dia, hal ini disebabkan dalam film “Sang Penari” terdapat adegan dramatisasi politik, berupa adegan penembakan orang-orang yang dianggap terlibat Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI).

Padahal, kata dia, adegan tersebut tidak ada di dalam novel karyanya yang berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk”.

“Ini merupakan keberanian dari sutradara untuk menampilkan adegan tersebut. Juga satu hal lagi, kok tentara (TNI) mengizinkan film ini beredar, jadi kemajuan pula yang dilakukan tentara karena membiarkan film ini lolos ke masyarakat,” kata dia yang akrab dipanggil dengan sebutan “Kang Tohari”. Oleh karena itu, dia mengaku berterima kasih kepada sutradara yang berani mengungkap adegan pembunuhan terhadap orang yang dianggap anggota PKI, serta kepada TNI yang membiarkan film ini lolos. “Itu merupakan perubahan yang luar biasa. Dan saya membiarkan sutradara untuk menafsirkan novel saya untuk dijadikan film karena yang akan difilmkan adalah tafsir sutradara, bukan teks saya,” kata dia menegaskan.

Disinggung mengenai inspirasi pascapeluncuran film “Sang Penari”, dia mengaku ingin melaksanakan anjuran almarhum HB Jassin yang sengaja menemuinya pada tahun 1987 untuk memintanya melanjutkan novel “Ronggeng Dukuh Paruk” ini.

Dalam hal ini, kata dia, almarhum HB Jassin meminta novel tersebut dilanjutkan dengan menyoroti kehidupan Goder (sosok anak kecil dalam novel tersebut, yang masih memiliki jiwa lurus di tengah kehidupan Dukuh Paruk yang penuh kemaksiatan, Red.). “Itu anjuran Pak HB Jassin yang selama ini saya diamkan. Nah, akhir-akhir ini saya tergoda untuk merenungkan kembali anjuran Pak HB Jassin. Siapa tahu sekarang ini saya akan menulis, tapi saya tak berjanji ya,” katanya.

Film yang disutradai Ifa Isfansyah itu menggambarkan pertemuan sepasang kekasih bernama Rasus dan Srintil setelah lama berpisah. Dalam hal ini, Rasus meninggalkan Dukuh Paruk karena menjadi seorang tentara, sedangkan Srintil menjadi seorang penari ronggeng. ***

31 Desember 2011