Happy Salma: Antara Lakon, Sastra, dan Layar Kaca

Eriyanti *
http://www.pikiran-rakyat.com/

Latar belakang profesinya lebih dikenal sebagai artis dan pemain sinetron. Namun Happy Salma, perempuan berkulit coklat dengan rambut blondy kelahiran, Sukabumi 4 Januari 1980 ini, kepiawainnya bermain peran dan mengolah kata, tidak diragukan juga.

Untuk dunia lakon, Happy pernah memerankan Nyai Ontosoroh adaptasi novel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer di Jakarta pada 2007. Ia juga bermain apik dalam Ronggeng Dukuh Paruk adaptasi novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari di Bern Swiss, Belanda dan Jakarta pada 2011.

Kemarin Kamis (22/12) Happy bermain peran sebagai Inggit Garnasih dalam monolog “Inggit” naskah karya Ahda Imran dengan sutradara Wawan Sofwan. Sebagai Inggit, kata Happy, ia tidak hanya berusaha keras memerankan sosok itu tetapi juga menggapai “ruh” dari seorang perempuan utama yang berpengaruh dalam kehidupan Soekarno.

Baginya, “Inggit” tidak hanya mengajarkan kesetiaan tetapi juga kesejatian perempuan sebagai manusian yang juga bisa menolak sesuatu yang diyakininya harus ditolak. “Ini berat karena peran yang aku mainkan adalah fsosok akta. Sejarah. Sedangkan peran-peran lain sebelumnya hanya fiksi. Makanya, saya harus mendapatkan ‘ruh’ dan sosok itu dan tidak boleh salah memerankannya,” demikian Happy.

Namun, karena Happy bukan berlatar belakang teater, maka wajar bila di sana sini masih ditemui kelemahan. Contohnya pada saat ia seharusnya membangun emosi yang intens bahkan memuncak, malah terasa datar.

Tetapi Happy memang manusia pembelajar. Dalam durasi cukup panjang, ia mencoba menutupi kelemahan itu dengan mengeksplorasi ruang pertunjukkan. Belajar kepada sutradara dan penulis naskah adalah cara Happy mendekati setiap peran yang dimainkannya.

Dalam dunia sastra juga demikian. Perempuan yang menikah dengan bangswan Bali ini, rajin menulis cerpen. Di tengah kesibukannya, Happy telah menelurkan beberapa antologi cerpen, yaitu “Titian”, “Lobakan”, “24 Sauh”, “dari Datuk ke Sangkar Emas”, “Telaga Fatamorgana”, dan “Pulang”.

Untuk antologinya yang terakhir, Happy mendapatkan penghargaan 5 besar penulis muda berbakat “Literary Khatulistiwa Award” pada 2007. Bahkan Happy juga pernah berkolaborasi bersama Pidi Baiq untuk antologi cerpennya yang berjudul “Hanya Salju dan Pisau Batu”.

Bagi Happy, mengeskpresikan diri pada sastra adalah kontemplasi dari riuhnya kehidupan yang dialami. Lewat sastra ia dapat menyalurkan gejolak rasa, kegelisahan-kegelisahan, dan pikiran-pikiran pada merangkai kata. “Kalau dalam lakon kan lebih ke peran,” ujarnya saat bertemu “PRLM” sebelum pementasan.

Pentas monolog “Inggit” kata dia, sebenarnya hanya berlangsung satu hari pada Hari Ibu saja. Melihat antusiasme penonton yang membeludak Happy hanya berkata, “Iya kita memang hanya pentas untuk Hari Ibu. Inggit adalah sosok paling mewakili perempuan Sunda yang cerdas,” ujarnya.

Tentang dunia layar lebar, Happy tidak sempta bicara banyak. Ia mengaku belum merencanakan banyak hal karena sebulan lebih perhatiannya tersita untuk monolog “Inggit” yang dianggapnya paling berat. “Aya hanya menyelesaikan satu film sebelum main untuk Inggit, selepas itu total ke situ,” ujar Happy yang berbinar-binar saat penonton memberikan standing applaus sesuai pentas.

Di dunia layar lebar, prestasi yang berhasil diraih Happy adalah mendapatkan penghargaan FFI 2010 pemeran pendukung terbaik dalam “7 hati 7 cinta 7 wanita” karya sutradara Robby Ertanto dan Indonesia Movie (2010). Ia juga dinobatkan FFB (2008) sebagai pemeran pendukung terbaik untuk sinetron “Rinduku Cintamu”.

Tentang rencananya di Tahun 2012, perempuan yang terbiasa berbicara bahasa Sunda ini, tidak menarget hal yang muluk-muluk. Dalam karier maupun kehidupan rumah tangganya. “Apa yang hadir ke hadapan saya, akan saya lakukan dengan sebaik-baik yang bisa saya lakukan,” ujarnya.

Happy memang tampaknya selalu “Happy”.

(Eriyanti/”PRLM”/das)***24/12/2011