NOVELIS LAN FANG: Dia Tak Mengharap Honor dan Datang Tepat Waktu

http://www.lampungpost.com/

Dunia sastra Indonesia kembali kehilangan penggiatnya. Sastrawan asal Surabaya, Lan Fang, meninggal dunia. Novelis dan penulis buku kelahiran Banjarmasin, 41 tahun lalu itu meninggal karena penyakit kanker hati di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura.

“Meninggalnya siang tadi. Tetapi saya tidak tahu tepatnya jam berapa,” kata Budi Darma, sastrawan sekaligus teman Lan Fang, Minggu (25-12).

Budi mendapat kabar tersebut dari teman-temannya sesama seniman. Budi mengatakan sebelum dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Lan Fang sempat dirawat di Rumah Sakit Katolik St. Vincentius A. Paulo (RKZ). Dari RS RKZ, kata Budi, Lan Fang dipindahkan ke RS Adi Husada.

“Di (RS) Adi Husada, Lan Fang sempat dirawat 1,5 bulan,” kata Budi.

Budi mengaku pernah menengok Lan Fang saat dirawat di RS Adi Husada. Ia mengatakan saat itu kondisi Lan Fang sudah payah. Berkali-kali perempuan yang tinggal di Pepelegi, Sidoarjo, itu mengeluhkan jika badannya terasa sakit.

“Meskipun mengeluh sakit, pikiran Lan Fang masih jernih dan tetap bisa diajak berkomunikasi,” kata dia.

Dari kabar yang diterimanya, Budi mengatakan jenazah Lan Fang akan diterbangkan ke Indonesia. Rencananya tiba di Surabaya sore ini.

“Kalau tidak ada perubahan rencana, jenazah langsung dibawa ke tempat persemayaman Adi Jasa di Jalan Demak,” kata dia.

Sahabat Lan Fang, Wina Bojonegoro, mengenangnya sebagai penulis pluralis serta memiliki solidaritas tinggi terhadap kawan. Pada September, misalnya, Lan Fang menggagas acara Parade Cerpen di Jawa Pos untuk membantu pengobatan seniman Sani B. Kuncoro yang terserang kanker hati.

“Dia bolak-balik telepon, minta agar saya membantu penggalangan dana itu. Tapi saat itu sebenarnya Lan Fang sendiri sudah sakit, hanya tidak dirasakan,” kata Wina.

Lan Fang juga mempunyai jiwa sosial tinggi. Setiap diundang ke acara-acara nonprofit di pondok pesantren ataupun di kampus ia selalu hadir. Lan Fang, kata Wina, sering datang naik sepeda motor atau naik bus ke tempat acara. “Dia tak mengharap honor, tetap datang tepat waktu,” kata Wina yang juga seorang novelis ini.

Karena kegiatan sosialnya tinggi, Lan Fang seperti tak menghiraukan penyakit yang dideritanya.

Lan Fang menerbitkan beberapa novel, di antaranya Ciuman di Bawah Hujan, Perempuan Kembang Jepun, dan Tanda Tanya. Khusus karya yang terakhir, kata Wina, Lan Fang sempat kecewa dengan Hanung Bramantyo. Sebab, Hanung menyadur novelnya itu ke dalam film garapannya yang diberi judul “?”. “Lan Fang menumpahkan kekecewaannya itu di Facebook-nya,” ujar Wina. Selamat jalan, Lan Fang!

(U-4) 26 December 2011