Prabu Siliwangi: Sejarah atau Mitos?

Ajip Rosidi
Pikiran Rakyat, 7 April 2011

sejarah, tetapi para ahli sejarah belum menemukan buktinya. Ada yang mempersalahkan metode ilmu sejarah yang katanya berasal dari Barat, sehingga harus berdasarkan bukti secara fisik atau secara tertulis. KARENA dalam pidato penerimaan gelar Dr. (H. C.) di Unpad pada 31 Januari 2011, saya menyebutkan bahwa tokoh Prabu Siliwangi itu hanya tokoh sastra, atau mitos, bukan tokoh sejarah, ternyata banyak orang Sunda yang kebakaranjenggot (walaupun tidak memelihara jenggot sekali pun) padahal hal itu bukan tema pokok pidato saya. Ada yang berkeras mengatakan bahwa dia yakin Prabu Siliwangi itu ada secara terus.

Terang, saya bukan ahli sejarah dan tidak juga berpretensi sebagai ahli sejarah, ketika menyusun pidato tersebut. Pendapat-pendapat tentang sejarah dalam pidato itu, saya kutip dari ahli sejarah seperti tercantum dalam catatan kaki. Seharusnya sebelum membantah pendapat orang, baca dulu dengan cermat teks yang hendak dibantahnya, termasuk juga sumber referensi yang dirujuknya.

“naskah-naskah kuno yang menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kuno itu bagi orang yang bukan filolog bisa salah dalam menafsirkan. Oleh karena itu, saya tidak berminat meladeni tulisan-tulisan yang dibuat oleh orang-orang yang merasa yakin tanpa syarat bahwa Prabu Siliwangi itu ada meskipun tidak (mau) meneliti dengan cermat semua tulisan yang berkenaan dengan itu. Akan tetapi dalam Pikiran Rakyat, 26 Maret 2011, Undang A Darsa mengatakan, Prabu Siliwangi ada (secara sejarah). Karena Undang ahli naskah Sunda Kuno yang sebentar lagi menempuh ujian S-3 dalam bidang filologi, maka pernyataannya niscaya didukung bukti ilmiah. Apalagi menurut dia,tafsir yang benar hanyalah dari filolog seperti dirinya saja. Artinya,

perpustakaan Oxford University, Inggris menyebutkan soal Siliwangi. Demikian pula naskah Sanghyang Kandang Karesian, naskah lontar abad XVI Masehi kropak 421 yang menyebutkan silsilah Siliwangi. Terakhir, Siliwangijuga disebut dalam naskah Wangsakerta yang berada di Museum Sri Baduga Kota Bandung.” Undang menyebut naskah-naskah yang menjadi sumber, yaitu “naskah Carita Parahyangan episode 16 yang berada di Perpustakaan Nasional, menjelaskan seorang anak raja yang harum namanya, yaitu Niskala Wastukancana. Lalu naskah Bujangga Manik yang disirnpan di

oleh Undang Darsa itu. Akan tetapi, saya tahu mengenai naskah-naskah itu dan juga isinya berdasarkan garapan para ahli yang sudah membaca, menerjemahkan, dan membahas isi naskah-naskah itu seperti yang dilakukan oleh Dr. Noorduyn dan Dr. A. Teeuw, Atja, Saleh Danasasmita, Dr. Edi Ekadjati, Dr. Ayatrohaedi, Tien Wartini, dan Undang Darsa sendiri. tidak pernah tertarik untuk membaca naskah-naskah yang ditulis dengan aksara kuno, saya tidak pernah membaca naskah-naskah yang disebutSebagai bukan filolog dan

Menurut keterangan para ahli yang sudah membaca dan membahas naskah-naskah itu, tidak ada uraian tentang Prabu Siliwangi sebagai tokoh sejarah. Naskah Carita Parahyangan memang menyebut nama-nama raja kerajaan (Sunda) yang beribu kota di Pakuan Pajajaran, tetapi tak ada nama Prabu Siliwangi disebut. Yang disebut adalah “Prabu Wangi”, seperti yang dikutip oleh Saleh Danasasmita, “Aya na seuweu, Prebu Wangi ngaranna, inyana Prebu Niskala Wastu Kancana nu surup di Nusalarang ring giri Wanakusumah” (lib. Saleh Danasasmita, Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi, Bandung, Kiblat, 2003, halaman 33).

“Setibanya ke ujung perbatasan Sunda/tiba ke Arega Jati/sampailah ke Jalatunda/situs peninggalan Silih Wangi”. Undang menerjemahkan “sakakala” dengan “situs”. Padahal, Saleh Danasasmita dalam bukunya menerangkan, “sakakala” adalah semacam peringatan yang dibuat untuk menghormati raja yang sudah meninggal. Naskah Bujangga Manik yang dibahas oleh Dr. Noorduyn dan Dr. A. Teeuw dalam Tiga Pesona Sunda Kuna (Jakarta, Pustaka Jaya, 2009) menyebut dua kali nama Siliwangi atau lebih tepat “Silih Wangi”. Pertama untuk menggambarkan ketampanan seseorang “Latara teuing ku kasep/Kasep manan Banyak Catra/leuioih manan Silih Wangi”, yang oleh Undang Darsa yang menerjemahkan teks Sunda Kuno dalam ketiga naskah yang diteliti oleh Dr. Noorduyn dan Dr. A. Teeuw itu ke dalam bahasa Indonesia artinya, “Dia itu teramat tampan/Tampan melebihi Banyak Catra/lebih daripada Silih Wangi”. Tak ubahnya dengan orang menggambarkan ketampanan seseorang dengan “sepertiArjuna”, bukan berarti Arjuna itu tokoh sejarah. Arjuna tokoh wayang, Siliwangi tokoh carita pantun. Yang kedua “Silih Wangi” disebut dalam “Sadatang ka tungtung Su(n)da/nepika Arega Jati, sacu(n)duk ka Jalatunda/sakakala Silih Wangi”, yang diterjemahkan oleh Undang Darsa menjadiSampai sekarang belum ada ahli yang menemukan jangankan meneliti “sakakala” di Jalatunda.

Naskah Sanghiang Siksa Kandang Karesian yang berasal dari tahun 1518 sudah digarap oleh tim yang terdiri dari Saleh Danasasmita, Ayatrohaedi, Tien Wartini, dan Undang Darsa dimuat dalam buku Sewaka Darma, Sanghiang Siksa Kandang Karesian, Amanat Galunggung, transkripsi dan terjemahan (Bandung, Proyek Sundanologi, 1987), Dalam naskah itu nama “Siliwangi” disebut sekali, tetapi sebagai judul carita pantun. Lengkapnya berbunyi “Hayang nyaho di pantun ma: Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, Haturwangi, prepantun tanya” yang terjemahannya “Bila ingin tahu tentang pantun, seperti Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, Haturwangi, tanyalah juru pantun.

naskah-naskah itu sebagai Prabu Siliwangi historis, padahal hanya judul cerita pantun. Benar apa yang dikatakan Undang Darsa bahwa “naskah-naskah kuno yang menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kuno itu bagi orang yang bukan filolog bisa salah dalam menafsirkan.” Jangankan yang bukan ahli, bahkan filolog seperti Undang Darsa ternyata menafsirkan kata “Siliwangi” dalam

juga dalam naskah-naskah wawacan, babad, atau dongeng. Memang para ahli banyak yang merasa penasaran, karena nama Siliwangi dan Kerajaan Pajajaran tidak tercantum dalam prasasti atau naskah-naskah kuno. Padahal, tokoh Siliwangi itu sangat populer dan dipercaya sebagai raja Kerajaan Pajajaran yang agung. Bukan hanya dalam cerita pantun Siliwangi sering ditokohkan sebagai raja yang agung binantara, melainkan

Meskipun nama kerajaan Pajajaran juga tidak terdapat dalam sumber-sumber sejarah, tetapi karena dalam berbagai sumber sejarah disebut bahwa nama keraton atau ibu kota negara Sunda itu Pakuan Pajajaran, maka dapat diterima bahwa nama ibu kota atau keraton secara populer menjadi nama kerajaannya.

yang tidak bersifat sejarah. tokoh Prabu Siliwangi yang termasyhur dalam sastra (carita pantun, babad, wawacan, dongeng). Yang pertama melakukan penelitian untuk mengidentifikasikan Prabu Siliwangi adalah Moh. Amir Sutaarga. Dalam bukunya, Prabu Siliwangi (Bandung, Duta Rakjat, 1966, vet. II, Jakarta, Pustaka Jaya, 1984), setelah meneliti berbagai sumber sejarah dan karya sastra berupa wawacan dan babad seperti prasasti Batutulis, Carita Parahyangan, Sanghiang Siksa Kanclang Karesian, Babad Pajajaran, Babad Siliwangi, Babad Galuh, Cerita Prabu Anggalarang, dan lain-lain, ia sampai pada kesirnpulan Prabu Siliwangi dalam babad dan wawacan itu adalah raja Kerajaan Sunda Sri Baduga Maharaja (1474-1513). Identifikasi Amir itu kemudian disokong oleh Saleh Danasasmita, meskipun ia tidak setuju dengan alasan-alasan yang dikemukakan oleh Amirmencoba mengidentifikasikanPrabu Siliwangi, sehingga ada ahli merasa penasaran, danTidak demikian dengan tokoh

tebak-tebakan saja. Dengan disokong oleh Saleh Danasasmita bukan berarti bahwa Prabu Siliwangi yang sangat tersohor dalam sastra clan mitologi itu, lantas menjadi tokoh sejarah. Namun, itu hanyalah usaha mengidentifikasikan saja. Bukan berarti bahwa Sri Baduga Maharaja itulah yang disebut Prabu Siliwangi karena dalam sumber-sumber sejarah, hal itu tidak pernah tercantum. Artinya, usaha Amir itu hanyalah usaha

Hal itu terbukti dengan munculnya ahli lain, yaitu Ayatrohaedi, yang menolak tebakan Moh. Amir Sutaarga, dengan alasan bahwa dalam naskah Sanghiang Siksa Kandang Karesian yang berasaldari 1518, tokoh Prabu Siliwangi sudah disebut sebagai judul carita pantun, padahal Sri Baduga Maharaja memerintah tahun 1474-1513. Menurut Ayatrohaedi, orang yang baru meninggal beberapa tahun mustahil sudah menjadi tokoh carita pantun (lih. Ayatrohaedi Niskala Wastu Kancana (1348-1475) Raja Sunda Terbesar dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV, Jakarta,1986). Menurut pendapatnya, Prabu Niskala Wastu Kancana, kakek Sri Baduga Maharaja lebih cocok untuk diidentifikasi sebagai Prabu Siliwangi.

Maka tidak mustahil akan muncul ahli lain yang dengan teori dan alasan lain akan sampai pada kesirnpulan, Prabu Siliwangi itu adalah orang lain lagi.

Kesirnpulannya, Prabu Siliwangi memang ada, sebagai tokoh sastradan mitologi. Pendapat Unclang Darsayang mengatakan bahwa Prabu Siliwangi itu ada, karena tercantum dalam naskah-naskah, hanya membuktikan bahwa membaca naskah Sunda Kuno itu tidak mudah, bahkan filolog yang ahli naskah Sunda Kuno seperti dia pun salah dalam menafsirkan isinya.***

Penulis, sastrawan.