Robohnya Dunia Santri

Fachry Ali *
Gatra Nomor 25, 8 Mei 2008

“Saya heran,” kata Abdurrahman Wahid ketika menyambut acara peluncuran website Akbar Tandjung, bulan lalu, “Kenapa setiap orang berpidato selalu menyatakan: ‘Mari kita panjatkan syukur’….” Hadirin terdiam karena tidak mengerti ke mana arah ucapan tersebut. Dan struktur “psikologi massa” semacam inilah yang menjadi “makanan” Kiai Wahid. Sebagaimana biasanya, dengan tangkas ia menjawab teka-teki itu: “Memangnya (si) Syukur tidak bisa panjat sendiri?”

Mengembangkan tradisi kejenakaan yang cerdas, dalam arti mementaskan teka-teki dengan jawaban mengejutkan, merupakan tipikal kaum pesantren –locus sentral dunia kaum nahdliyyin. Almarhum Pak Ud atau Jusuf Hasyim, paman Abdurrahman Wahid dan pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, berkisah tentang zaman revolusi. Seorang santri yang menjadi pejuang telah dibekali dengan fatwa: wajib maju menghadang musuh. Sebaliknya, setiap langkah mundur hukumnya haram.

Persoalannya, sang santri tiba-tiba harus berhadapan dengan sebuah tank Belanda. “Apa yang harus dilakukan?” tanya Pak Ud. Semua paham, betapa dilematis posisi pejuang santri tersebut secara fisik maupun religius. Maju berarti mengantar nyawa, dan mundur terkena sanksi agama. Tapi tak seorang pun bisa menjawab tantangan itu dengan tepat. Dengan kalem, Pak Ud menjawab sendiri: sang santri harus memiringkan posisi badannya. Dengan posisi miring, ia tak perlu kehilangan nyawa dan sekaligus tidak haram.

Ahli budaya dan kosmologi Jawa dari Cornell University, Benedict Anderson, pernah terpesona oleh teka-teki cerdas kaum santri Jawa ini. Dalam karyanya, Language and Power: Exploring Political Culture in Indonesia, ia tertarik pada teka-teki longan (kolong). Dalam konteks ini, kaum santri memperdebatkan konsep ada dan tiada dengan bertanya apakah longan itu betul-betul riil? Longan sebuah meja atau ranjang dengan mudah bisa diidentifikasikan. Tapi, bagaimana jika meja dan ranjang itu dipindahkan? Apakah posisi longan meja atau ranjang tersebut tetap ada?

Bermain logika dengan teka-teki cerdas dan jenaka ini tumbuh dalam keguyuban dunia pesantren. Tradisi itu berkembang karena struktur ritme kehidupan dunia santri ini bersifat self-sustain. Sifat ini bukan saja ditandai oleh kurang bergantungnya komunitas santri dalam ekonomi, budaya, dan intelektual pada aktor-aktor eksternal. Melainkan juga oleh berkembangnya mental qanaah (menerima apa adanya yang diberikan Tuhan) di kalangan mereka. Dalam ritme kehidupan yang berjalan secara teratur, tanpa tergesa-gesa, inilah gagasan-gagasan teka-teki cerdas muncul –bukan saja untuk mengasah otak, juga untuk memberi makna terhadap kehidupan itu sendiri.

Secara sosiologis, kehidupan mandiri inilah yang memperkuat kohesivitas internal komunitas santri. Mental qanaah yang dianut membuat setiap anggota komunitas cenderung menggelar sikap ikhlas, karena itu menolak ambisi pribadi. Kombinasi keduanya ini membuat resiliensi (daya tahan) mereka terhadap tekanan eksternal menjadi paripurna. Dengan keikhlasan dan tanpa ambisi personal, mereka mempercayakan kepemimpinan kepada seseorang untuk menghadapi dunia luar. Ini pula yang menjelaskan bagaimana Nahdlatul Ulama (NU), jam’iah (organisasi) kaum nahdliyyin di bawah Abdurrahman Wahid, mampu mempertahankan soliditas, walau berada dalam tekanan rezim Orde Baru.

Pertanyaannya, apakah kini soliditas itu tetap terjaga? Yang kita saksikan, keruntuhan kekuasaan rezim Orde Baru telah mengubah rezim kontestasi politik. Jika sebelumnya rezim itu bersifat –meminjam istilah Karl Jackson– bureaucratic polity, yakni dunia politik yang dikuasai elite pemerintahan tanpa membutuhkan artikulasi kepentingan massa, kini berganti menjadi mass-based politics: kekuasaan hanya mungkin diraih oleh seseorang atau kelompok orang yang mendapatkan dukungan massa.

Puluhan juta warga nahdliyyin, dengan demikian, memenuhi persyaratan rezim kontestasi kekuasaan baru ini. Berdirinya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada awal reformasi bukan saja menjadi instrumen politik kaum nahdliyyin, melainkan juga cocok dengan semangat mass-based politics itu.

Persoalannya, PKB lebih berfungsi sebagai sarana mobilitas vertikal segelintir anggota komunitas santri. Dari segi tertentu, PKB telah menjadi ruang inkubasi, dalam mana kaum santri membiak menjadi kaum menengah baru melalui jalur politik. Tapi, pada pihak lain, PKB adalah “pisau tajam” yang membelah kohesivitas jagat santri itu sendiri.

Bayangan atau bahkan nikmat kekuasaan yang dapat diraih melalui PKB bukan saja telah membuat komunitas santri menjadi tak imun terhadap aktor-aktor eksternal, melainkan juga membuat mental qanaah memudar. Sebagai gantinya adalah penampilan pribadi-pribadi ambisius, yang nafsu kekuasaan mereka telah menyebabkan keguyuban ritme kehidupan santri menjadi hiruk-pikuk tanpa tujuan ideal.

Pertarungan kekuasaan jagat politik santri dewasa ini telah menjadi bukti absah tentang robohnya kohesivitas komunitas ini. Dan gagasan teka-teki cerdas dan jenaka mungkin harus kita cari di dunia lain.

Fachry Ali, Pengamat politik
Dijumput dari: http://sastra-agama.blogspot.com/2010/05/robohny-dunia-santri.html