RONGGENG – GEISHA: DALAM FIKSI REALIS

(Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk – Memoir of Geisha)
Zakyzahra Tuga
http://www.facebook.com/Zakyzahra

Ronggeng sebagaimana arti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tari tradisional dengan penari utama wanita, dilengkapi dengan selendang yang dikalungkan di leher sebagai kelengkapan menari. Penarinya ada yang menyebutnya tandak atau penari ronggeng, dan disingkat dengan ‘ronggeng’ saja, sebagaimana penyebutan dalam novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari (dan selanjutnya istilah ‘ronggeng’ dalam tulisan ini dimaksudkan sebagai sebutan penari ronggeng).

Ronggeng dalam RDP sangat erat hubungannya dengan kekuatan metafisika, dalam hal ini disebut dengan indang, ruh ronggeng yang hanya akan merasuki pada perempuan pilihan. Artinya, banyak perempuan bisa menari, tapi hanya perempuan yang disusupi indanglah (dalam kisah ini bernama Ki Secamenggala) yang akan dan bisa membawa amanat sebagai ronggeng. Ronggeng sebagai sebuah amanat? Ya, ronggeng di Dukuh Paruk diyakini sebagai tempat bersemayam Ki Secamenggala yang akan menjaga keamanan, ketentraman dan kehidupan masyarakat di Dukuh Paruk. Ronggeng sebagai sebuah bentuk kearifan lokal bagi Dukuh Paruk, bukan sekedar bentuk seni semata. Sehingga keberadaannya dan ketiadaannya diyakini sangat berpengaruh besar bagi keharmonisan masyarakatnya.

Bagaimana dengan geisha dalam masyarakat Jepang? Menukil dalam novel Memoir of Geisha, Geisha adalah seorang artis dari dunia yang mengapung. Dia menari. Dia menyanyi. Dia menghibur dengan cara apapun yang kau inginkan. Untuk menjadi seorang geisha, mereka harus mengikuti pendidikan khusus untuk menguasai beberapa ketrampilan yang wajib dimiliki, seperti musik, tari, nyanyi, teater. Pendidikan ini harus mereka jalani dengan sangat ketat. Selanjutnya ia masih harus berada di bawah bimbingan geisha senior untuk bisa menjalani interaksi sosial yang layak bagi seorang geisha.

Dalam kesehariannya, setiap keluar dari tempat mereka tinggal, mereka harus mengenakan pakaian geisha, hal yang tidak akan dilakukan oleh seorang ronggeng. Ronggeng tak mengenal ‘baju kebesaran’ kecuali saat menari. Sedangkan geisha, kehidupan kesehariannya adalah keseluruhan dari napas geisha: mulai dari cara berjalan, bertutur, bersikap, berperilaku, semuanya memiliki aturan dan tatanan yang sedemikian rumit. Sehingga ada pemisah yang cukup jelas antara geisha dengan perempuan lainnya. Tentu ini berbeda dengan ronggeng, meski pun dalam kesehariannya ia dipanggil dengan sebutan ‘jeng nganten’, sebuah panggilan yang menempatkan derajatnya lebih tinggi secara keperempuanan di banding perempuan lainnya.

Geisha sama sekali tidak ada hubungannya dengan nilai keyakinan sebagaimana keberadaan ronggeng bagi Dukuh Paruk. Keistimewaan dibangun melalui sebuah persaingan antar geisha, tak pelak menjadi sangat menyakitkan dan traumatis bagi sebgian dari mereka, sedang keistimewaan ronggeng karena anugerah keberadaan indang dalam tubuhnya. Jika sudah demikian, tidak ada perempuan mana pun yang akan berani mendapuk diri menjadi pesaingnya.

Keperawanan: Buka kelambu dan mizuage

Hal yang masih selalu menimbulkan tanda tanya besar pada penulis adalah pesan dan maksud dari ritual yang sama-sama harus dijalani oleh ronggeng dan geisha sebelum keduanya dinyatakan resmi menjalani kehidupannya sebagai ronggeng dan geisha, yaitu menjual keperawanannya. Dalam kedua buku ini, jelas-jelas tergambar, ritual ini bukanlah hal yang menyenangkan dan diharapkan, tapi sebaliknya, hal yang sangat menakutkan, dan berharap mereka tidak akan melakoninya jika tidak menginginkan dirinya menjadi ronggeng dan geisha. Bagi ronggeng, ritual itu dikenal sebagai upacara ‘buka kelambu’, sedangkan geisha menjalani mizuage.

Proses menjelang ritual ini ibarat pelelangan keperawanan yang dilakukan oleh pengasuh-pengaruh mereka: dukun ronggeng dan pemilik penginapan geisha. Ini menjadi kesempatan bagi para pengasuh untuk mengeruk keuntungan besar yang istilah tersembunyi mereka adalah membayar seluruh biaya hidup selama mereka mengasuhnya. Bahkan ronggeng dan para geisha harus mengubur dalam-dalam perasaan mereka, jika ada, cinta dan simpati hanya akan melukainya dan menjadi duri dalam perjalanannya menjalani profesi ini.

Dan dengan uang, harta, kekayaan, laki-laki bisa membelinya. Dalam kedua novel ini, digambarkan selain memburu kesenangan, para laki-laki ini juga meyakini adanya keberuntungan magis setelah melakukannya.

Ini adalah pengalaman pertama mereka berinteraksi secara langsung dengan kehidupan seksual, yang kemudian berlanjut dengan cara yang berbeda dan maksud yang berbeda pula. Seorang ronggeng bisa melakukannya dengan siapa saja, yang mengharap berkah dari hubungan itu, dan ia akan menerima bayaran yang terkadang sangat memrihatinkan (misalnya dengan sandal jepit baru). Hal demikian tidak akan dilakukan oleh seorang geisha (meskipun ada geisha yang melakukannya, tapi secara aturan, sebenarnya mereka tidak diperbolehkan memasuki kehidupan prostitusi). Mereka hanya akan melakukan dengan seorang laki-laki yang disebut danna atau pelindung tanpa pernikahan, yang perannya hampir sama dengan seorang istri simpanan. Bahkan dalam komunitas geisha, mereka akan menganggap rendah pada geisha yang melakukan hubungan sex dengan banyak laki-laki, dan mereka juga mencap geisha tersebut sebagai pelacur.

Epilog: Naluri Perempuan

Baik ronggeng maupun geisha sangat dilarang mempunyai anak, sehingga mereka harus menjalani tindakan mematikan peranakan mereka (meskipun selalu ada kasus gagal, sebagaimana dikisahkan dalam kedua buku ini). Keberadaan anak akan menggugurkan kedudukannya sebagai seorang ronggeng dan geisha. Pada kenyataannya, tak ada perempuan dari kedua tokoh di novel-novel ini yang bisa mematikan naluri untuk bisa menjadi seorang ibu bagi anak-anak yang terlahir dari rahim mereka. Pertempuran batin pada saat tertentu mencapai klimaks yang meruntuhkan ketegaran mereka selama ini. Baik Srintil (dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk) maupun Chiyo (dalam Memoir of Geisha) harus mengalami pertarungan yang seru, konflik-konflik batin, kebencian yang harus ditahan dan dibenam saat tak seorang pun bisa menerima kenyataan bahwa ia memiliki rasa cinta dan harapan, dan perjuangan di tengah carut-marutnya politik yang melatarinya. Ya, Srintil di tengah revolusi tahun 1965, sedang Chiyo di tengah berkecamuknya perang dunia. Lagi-lagi keduanya berada diujung pertahanan yang paling rawan: untuk tetap bisa hidup!
***

_____________20 Januari 2012
Disusun berdasarkan keterbatasan ingatan terhadap kedua novel yang sudah lama sekali saya baca, sementara keduanya adalah koleksi Perpusatakaan Daerah Kabupaten Tulungagung (saat menuliskan ini, kedua buku tersebut sedang tidak berada di hadapan saya). Mohon masukan jika memang ada kekurangan dan kekeliruan yang sangat mengganggu. Terima kasih.

Dijumput dari: http://www.facebook.com/notes/bunda-zakyzahra-tuga/ronggeng-geisha-dalam-fiksi-realis/10150603308506282