Seni dan Pembentukan Karakter Bangsa

Awan Abdullah *
http://www.surya.co.id/

Menggali akar kebudayaan dan kesenian dari dialektika imajinasi dan pemikiran kreatif suatu bangsa, menjadi proses yang bisa diarahkan bagi ikhtiar pembentukan karakter bangsa. Kesenian berkembang tak lepas dari proses perjalanan sebuah bangsa.

Mengingat, permasalahan kesenian selalu ada dalam setiap bangsa dan menjadi akar budaya bangsa itu sendiri, bukan dibangun melalui kebudayaan bangsa lain. Di sinilah terasa relevansi digelarnya Festival Seni Surabaya (FSS), sebagai tradisi membangun citra kebudayaan pada Kota Surabaya. Festival yang dirintis sejak 1993 mengambil momen 700 tahun hari jadi Kota Surabaya, menemukan format tradisi berkelanjutan momen bersejarah FSS pertama pada 1996. Kini, tradisi festival ini telah berjalan hingga ke-14 tahun pada 2010, dengan tema Surabaya Experience, Pengalaman Surabaya.

Mencermati kehadiran FSS, patut disambut baik peran serta kawula muda, baik pelajar dan mahasiswa, dalam kerja sukarela (volunteer) untuk menyukseskan agenda tahunan ini, sejak FSS 2007. Apalagi, FSS 2010 (yang akan berlangsung 6-14 November) ini para pelajar dan mahasiswa memperoleh perhatian dengan program pementasan khusus. Pada pementasan Teater Koma, menghadirkan lakon Rumah Pasir disutradarai Nano Riantiarno, dijadwalkan pentas dua kali (6-7 November) dalam sehari. Pertama khusus bagi pelajar dan kedua pada malam hari untuk umum. Kelak, para pelajar itu akan menjadi publik yang memiliki apresiasi terhadap karya-karya kesenian yang baik.

Kita tengah berada dalam kondisi yang memprihatinkan sebagai bangsa. Ditandai dengan merajalelanya keserakahan, maraknya korupsi di tingkat elite dan pemimpin negeri, terjadi karena tidak memiliki kebijakan yang seharusnya bermuara pada budaya bangsa. Lewat kesenian, kita berharap pada FSS kali ini memberikan harapan ke arah pemenuhan kebutuhan rohaniah tersebut, sebuah kontribusi menuju proses awal pembentukan karakter bangsa.

Krisis karakter bangsa, bisa disaksikan pada kasus lain. Misalnya, penyikapan kita terhadap persoalan kelulusan sekolah, selama ini justru terkesan memberatkan siswa secara psikologis. Padahal, banyak pihak yang bertanggung jawab terhadap hal tersebut. Ada baiknya belajar dari keberanian China yang menerapkan kebijakan bermuara budaya bangsanya sendiri, sehingga sikap terhadap kelulusan sekolah dilakukan secara bijaksana. Dan kalau ada siswa yang gagal lulus sekolah, pihak yang disalahkan bukan siswa, melainkan gurunya yang dianggap gagal dalam menyelenggarakan pembelajaran dan mendidik siswanya.

Pendidikan Karakter

Memang, sistem pendidikan di Indonesia dinilai banyak pihak telah gagal membentuk karakter siswa menjadi orang baik. Hal itu ditandai dengan banyaknya kasus korupsi, manipulasi, kebohongan, berbagai konflik, dan terjadinya kekerasan. Dr Ratna Megawangi, pendiri Indonesia Heritage Foundation, membuktikan, bahwa institusi pendidikan kita belum dapat mewujudkan tujuan pendidikan yakni untuk mengembangkan potensi anak didik agar menjadi manusia beriman, berakhlak mulia, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

Salah satu penyebab utama kegagalan tersebut karena sistem pendidikan di Indonesia belum memiliki kurikulum pendidikan karakter, tetapi yang ada hanya mata pelajaran tentang pengetahuan karakter (moral) yang tertuang dalam pelajaran agama, kewarganegaraan dan Pancasila. Apalagi, proses pembelajaran yang dilakukan dengan pendekatan penghafalan. Para siswa hanya diharapkan dapat menguasai materi yang keberhasilannya diukur dengan kemampuan anak menjawab soal ujian terutama dengan pilihan berganda. Karena orientasinya semata-mata memperoleh nilai bagus, bagaimana mata pelajaran dapat berdampak pada perubahan perilaku siswa tidak pernah diperhatikan. Sehingga yang terjadi adalah kesenjangan antara pengetahuan moral dan perilaku.

Salah satu solusi untuk membuat pendidikan moral menjadi efektif adalah dengan melakukan pendidikan karakter, karena pendidikan moral bisanya hanya menyentuh aspek pengetahuan, belum pada aspek perilaku. Sedang pendidikan karakter membentuk perilaku siswa menjadi lebih bermoral, karena seseorang dapat disebut berkarakter bila tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. Sedang pendidikan moral misalnya dalam pendidikan Pancasila, tidak menandai watak perilaku sebagai keberhasilan proses pembelajaran, tetapi cukup sampai pada sejauh mana anak didik mengetahui yaitu dengan pendekatan hafalan dan sedikit analisis.

Memang, di era krisis karakter bangsa kian terasa akan pentingnya kearifan lokal sebagai basis pendidikan karakter bangsa. Hal itu akan sekaligus menetapkan kearifan lokal sebagai identitas bangsa, yang mungkin hilang oleh arus budaya modern. Dengan selalu memperhitungkan kearifan lokal lewat dan dalam proses budaya, keniscayaan masyarakat untuk terperangkap dalam situasi terasing dari realitas dirinya, mengutip Prof Suminto A Suyuthi, ‘menjadi ada’ dalam pengertian menjadi seperti liyan (orang lain), dapat dihindari.

Pembentukan karakter bangsa bermuara pada nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki suatu bangsa, seperti melalui seni. Sebab, tanpa bermuara pada nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki suatu bangsa justru mengantarkan suatu bangsa menuju titik kehancuran.

29 Oktober 2010
*) Pemerhati Masalah-masalah Kebudayaan/tinggal di Surabaya