Bagi penggemar sastra pernah terhenyak mengemuka sebutan ‘penyair pinggir’.
Ibnu PS Megananda
http://www.radarbanten.com/

Sedang bagi seseorang yang suka menulis puisi dan kebetulan bekerja di pabrik menjadi disebut “penyair buruh”,. Mungkin juga kalau ia bekerja di perkebunan sawit atau karet, karena lajimnya disebut karyawan, disebut penyair karyawan. Dan begitu pula misalnya ia sebagai petani, nelayan, pedagang pasar, polisi, pegawai bank, pegawai negeri, apakah disebut penyair petani, penyair pedagang pasar, penyair polisi dst.

Sehingga Wowok Hesti Prabowo, seseorang penyair yang menyuarakan isi hatinya dengan berpuisi sampai disebut presiden penyair buruh. Memang ada presiden didunia sastra puisi ini, ada presiden penyair nasional yaitu Sutarji Calzoum Bachri, ada presiden penyair Sunda, yaitu Godi Suwarna. Mungkin nanti ada presiden penyair wilayah-wilayah tertentu, atau etnis-etnis tertentu. Apakah presiden penyair punya otoritas kuasa seperti presiden negara, presiden direktur atau presiden komisaris disebuah lembaga bisnis. Dalam sastra memang tidak bisa seperti itu, semua ukurannya karya. Orang yang tidak punya karya, walau ia menyebutkan dirinya sastrawan akan sia-sia belaka dan menuwai malu pada akhirnya.

Tidak cukup hanya presiden-presidenan di sastra, tapi ada lagi sebutan penyair pinggir. Namun tidak menyangkal kemungkinan bisa ada presiden penyair pinggir, bila sudah ada sebutan demikian. Tentang sebutan penyair pinggir ini pernah kita dengar, tidak lepas dari Komunitas Kebon Nanas Tangerang yang dinahkodai Wowok Hesti Prabowo dengan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang masih juga ia sebagai pengelolanya, pernah suatu ketika mengadakan lomba menulis puisi dengan muatan isu lomba menulis puisi para penyair pinggir.

Lalu siapakah yang dikatakan; penyair pinggir itu? Apakah orang yang menulis puisi, namun puisinya tidak pernah dimuat di media massa, lantas orang tersebut penyair pinggir. Atau orang yang menulis puisi dan puisi-puisinya banyak dimuat di media koran, namun namanya dianggap tidak sejajar dengan penulis puisi yang terkenal seperti Asep Zamzam Noor, Gus tf Sakai, Iyut Fitra, Joko Pinurbo, Isbedy Setiawan, Afrizal Malna, D Zawawi Imron, Sutarji Calsoum Bachri, Rendra dan sederet nama tenar lainnya.

Apakah penyair yang tidak secara aktif dimana-mana selalu ikut dalam perhelatan sastra, sehingga ia dikenal oleh kalangan sastrawan. Apakah penyair yang tidak membukukan puisinya baik untuk pajangan atau dijual dipasarkan, dan karyanya tak pernah dibahas oleh para kritikus sastra. Atau penyair yang tinggal di gunung dan di pantai yang sepi, tidak tinggal di pusat kota, dekat dengan gedung kesenian atau taman budaya. Atau barangkali penyair secara pinansialnya memprihatinkan, pendek kata, penyair miskin. Kalau boleh menduga-duga lagi barangkali penyair pinggir itu penyair yang tak pernah diundang oleh siapapun untuk membacakan puisi-puisinya.

Ukuran disebut penyair pinggir sesungguhnya harus dijelaskan. Tidak lantas menyebutkan tanpa alasan yang bisa diterima, nanti disangka karena ada unsur iri. Karena ramainya kelompok warga, disebut warga pinggiran, ternyata ada warga, seperti Warga Betawi, tidak mau disebut warga pinggir. Bahkan para pemuka masyarakatnya juga mengimbau untuk menepis anggapan sebagai warga pinggir. Tidak setujunya disebut seperti itu tentu bila ditimbang-timbang dengan nalar sehat, benar. Karena sebutan terpinggir atau pinggiran, selalu akan hanya mendapat anggapan kelompok warga yang memprihatinkan, warga yang perlu mendapat pertolongan.

Begitu pula tentu tidak jauh dengan dunia sastra, yang juga sastrawan atau pecinta sastra adalah kelompok masyarakat. Kelompok masyarakat yang ada dimana-mana, di lintas geografis, lintas musim, selalu ada diruang dan waktunya sastra. Di zaman para mpu, yang menulis kitab Setasoma, Negara Kartagama, zaman Pujangga Ronggowarsito, yang terkenal dengan syairnya “Amenangi zaman edan”, zaman pujangga baru, pujangga angkatan 45, pujangga angkatan 66 hingga sekarang, hingga sekarang sebutannya belum tetap sebagai pujangga abad 20 atau pujangga melenium, terserah saja.

Namun dalam sisi penulisan puisi, pujangga baru berupa lirika, setelah Rendra puisinya berupa epika. Selain itu puisi-puisi Emha Ainun Najib, disebut puisi encer, Afrizal Malna disebut puisi gelap, belum lagi dalam puisinya Sutarji, yang terangkum di buku “O, Amuk Kapak”, sebagai puisi mantra. Dalam kasus model puisi yang dicipta penyair era kini sampi menjadi rujukan dan anutan pemula penulis puisi, hingga ada puisi Afrizalian.

Betapa dunia sastra sesungguhnya merupakan dunia yang menantang untuk berkreatifitas, yang pada akhirnya menciptakan masyarakat berpikir secara realitas. Berpikir yang mengedepankan sosialitas, tidak lantas nurani kabur karena dera informasi iklan atau teriakan-teriakan partai politik. Dengan demikian akan tercipta kemandirian masyarakat, tidak cepat mengeluh ketika berbagai krisis menghantam, apalagi krisis mental, para penulis sastra sedikit lebih tegar. Karena apa saja yang terjadi yang menarik menyentuh jiwa merupakan inspirasi dapat diabadikan melalui tulisan.

Kreativitas Jawabnya

Maka sebuah kreativitas, khususnya sastra sulit untuk dikategorikan sebuah kreativitas pinggir atau pusat. Kita bisa mengatakan penyair itu, penyair pinggir kalau alasannya puisi-puisinya tidak pernah dimuat di koran. Namun kalau ia memang tidak mau mempublikasikan, padahal puisi dia baik, dan dia hampir semua hapal dengan puluhan puisi yang ditulisnya. Orang seperti itu pernah penulis temukan saat membuat antologi puisi para penyair Mojopait di Mojokerto tahun 1995. Dia bernama Zaenal Sahroni, dia menyebut dirinya dengan sebutan ‘Raweng’, bukan saja hapal dengan puluhan puisinya, tapi sebagian besar puisinya Chairil Anwar, dan banyak syair Jawa, juga dia hapal.

Akhirnya ukuran puisi pernah dimuat di koran, atau ukuran apapun sebagai penyair, tetap seorang penyair mengalir walau dalam lingkup terbatas pada sekeliling lingkungannya. Karena meski tidak diketahui halayak ramai curahan pikiran yang dituangkan dalam puisi, karena tidak dipublikasikan, tetap mempengaruhi pencerahan pemikirannya sendiri. Karena daya cipta akan mempertajam daya nalar, dan kata Rendra pernah saat sakit, berkarya, menulis dan menulis sastra membuat dirinya remaja kembali. Ternyata berkarya lebih berpengaruh pada diri. akan lebih baik untuk diluar lingkungannya. Maka kreatifitas atau karya lebih dominan siapa itu penyair. Lalu siapa pula penyair pinggir itu?.***

________________05-Juli-2006
*) Penulis, penyair, tinggal di Cipare, Serang, Banten.

Categories: Esai