Warisan Abul Kalam Azad (2) (11 November 1888-24 Februari 1958)

Ahmad Syafii Maarif
http://onetea.multiply.com/

Saat terjadi perang saudara yang berdarah-darah antara wilayah barat dan timur Pakistan pada 1971, AKA sudah tidak ada lagi. Sekiranya masih hidup, tentu akan menangis, sekalipun dalam hati dia merasa benar, agar tidak berpisah dengan India. Inggris sebagai bekas penjajah India telah meninggalkan bom waktu dalam bentuk wilayah sengketa Kashmir dengan penduduk mayoritas Muslim. Sudah berlangsung 64 tahun, sengketa India-Pakistan tentang Kashmir ini belum juga menemukan titik terang.

Dulu, saya menumpahkan kesalahan hanya kepada India. Tetapi dengan kondisi Pakistan sekarang ini, jangan-jangan rakyat Kashmir akan memilih kemerdekaan jika referendum diadakan. Idola saya Pakistan tempo dulu kini tinggal kenangan, tetapi saya masih berharap agar negara ini tidak sampai tersungkur menjadi negara yang benar-benar gagal. Jangan sampai!

Sebagai negara Islam yang pernah mengilhami kaum Muslim sedunia untuk mengikuti jejaknya, Pakistan kini sudah tidak bisa dipedomani lagi. Semuanya berantakan, seperti tak bisa dikendalikan lagi. Jinnah sendiri hanya sebentar sempat memimpin Pakistan sebagai gubernur jenderal. Karena serangan tuberkulosis (TB) dalam usia 72 tahun, dia wafat pada 25 Desember 1948. Oleh rakyat Pakistan, Jinnah, kelahiran 11 September 1876, diberi gelar Quaid I’Azam (Pemimpin Besar). Baik AKA maupun Jinnah adalah tokoh-tokoh puncak Muslim India sebelum perpisahan.

Dari sisi intelektual, keduanya seimbang. Tetapi, kelebihan ABA adalah dalam masalah agama. Pengetahuan agama Jinnah dengan latar belakang Syi’ah hanya sekadarnya. Dalam hal keluarga, pendidikan, kultur, dan gaya hidup, keduanya juga berbeda. Jinnah dengan pendidikan Barat dan gaya hidup ala Inggris adalah seorang modern lahir batin. Karena frustrasi dengan sikap Kongres India, Jinnah pergi lagi ke London pada awal 1930-an, melakukan praktik hukum di sana. Baru pulang pada 1935, untuk kemudian memimpin Liga Muslim India yang tidak asing lagi baginya, karena sudah sejak 1913 Jinnah bergabung dengan partai ini. AKA seorang mufasir kenamaan dengan gaya hidup khas Muslim India.

Semula, keduanya sama-sama menjadi pembela gagasan persatuan Muslim-Hindu setelah kemerdekaan tercapai. Tetapi karena umat Islam semakin merasakan perlakuan yang tidak adil oleh pihak Hindu, Jinnah pada akhirnya berbalik haluan ke arah terbentuknya sebuah negara baru bagi umat Islam. AKA tidak mampu lagi membujuk Jinnah untuk tetap menjaga keutuhan India.

Karier AKA sebagai pemimpin India, baik dalam Kongres maupun dalam masyarakat luas semakin menanjak saja. Elite Hindu sangat hormat kepadanya, termasuk Mahatma Gandhi. Keduanya telah menjalin persahabatan yang sangat erat. Mereka saling memengaruhi. Tampaknya, Gandhi mengenal Islam melalui pergaulannya dengan AKA. Prinsip ketidaktaatan, antikekerasan, dan nonkoperasi menghadapi Inggris merupakan strategi perjuangan mereka yang banyak dipuji dunia.

Keduanya adalah pejuang kemerdekaan yang gigih. AKA berkali-kali dimasukkan ke penjara karena sikapnya yang antipenjajahan. Tetapi, dia tidak pernah kapok. Pada 1923, dalam usia 35 tahun, AKA adalah yang termuda yang pernah menjadi presiden partai Kongres Nasional India. Mayoritas ulama India berdiri di belakangnya karena memang dia seorang alim. Penulis Eqbal Ahmad pernah bertanya kepada Maulana Kausar Niazi tentang siapa di antara ahli tafsir Alquran yang paling dikaguminya? Jawabnya adalah Abul Kalam.

Karena teori dua negara Jinnah akhirnya yang berlaku, maka pada 15 Agustus 1947, lahirlah dua negara sekaligus di Asia Selatan: India dan Pakistan. Hati AKA teriris, seluruh mimpinya agar Hindu dan Muslim tetap berada dalam satu negara berantakan. Koeksistensi damai antara Hindu dan Muslim di India telah ditelan sejarah. Tetapi, sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, tidak semua umat Islam India mau pindah ke Pakistan. AKA dan pengikutnya tetap setia dengan negara induk India.

Dijumput dari: http://onetea.multiply.com/journal/item/363