Agnostisisme Melanda Umat Islam

Teuku Saifullah *
http://www.lampungpost.com/

DALAM masyarakat modern kepercayaan ketuhanan dapat dibagi dalam tiga aliran yaitu teisme, agnostisisme, dan ateisme. Pertama, teisme adalah paham yang sudah ada sebelum dunia modern, yaitu paham yang memercayai Tuhan sebagai pribadi dan bersifat rohaniah serta manusia dapat melakukan hubungan peribadatan.

Kedua, Tuhan adalah pencipta dan pengatur alam, termasuk manusia dan ia sendiri berada di luar alam. Meskipun intelektual dan ilmu pengetahuan meningkat tinggi dengan prestasi yang luar biasa, agama tetap berkesempatan untuk menjalankan peranannya dalam kehidupan manusia. Teisme ini mudahnya adalah paham yang dianut kaum agama yang taat.

Ketiga, ateisme adalah kebalikan dari paham teisme, yaitu suatu paham yang tidak memercayai bahwa Tuhan itu ada. Alam ini dipercaya ada dengan sendirinya. Peristiwa manusia dan alam tak lain daripada hubungan kausal antara hukum-hukum alam.

Seorang ateis hanya membiarkan rasio bekerja dan hanya membiarkan kebenaran yang dihasilkan rasio. Karena Tuhan adalah sesuatu yang tak mampu dijangkau rasio, kaum ateis berkesimpulan bahwa Tuhan itu tidak ada dan tak akan pernah ada. Ateime berkembang pesat di belahan dunia barat sejalan dengan revolusi industri abad 19 hingga sekarang.

Terkurung Dunia

Di antara kedua paham inilah agnostisisme berada. Agnostisisme adalah paham yang percaya dan tidak percaya akan adanya Tuhan. Seorang agnostik tidak memerlukan Tuhan dalam kehidupannya. Dia sesungguhnya percaya-tidak percaya-kepada Tuhan. Dari itu agama diterimanya tidak dan ditolaknya pun tidak. Apa sebabnya?

Baik Tuhan ataupun agama tidak dibicarakan, tidak jadi persoalan baginya. Kedua-duanya diabaikannya dan tidak diacuhkan. Dari situlah kalau ia lahir dari orang tua Islam misalnya, maka secara teori ia beragama Islam. Tetapi dalam praktek ia tidak tahu tentang Islam dan tidak pula menjalankan ajaran-ajarannya dalam kehidupan.

Agnostisisme merupakan akibat dari sekulerisasi yang amat intensif dan terlalu jauh dari kehidupan. Semuanya diduniawikan, tiap-tiap hal dipandang dari dunia, oleh dunia, dan untuk dunia.

Kalau manusia sudah terkurung dengan dunia, ia memutuskan hubungan dengan akhirat. Orang tidak lagi berbicara masalah mati karena hidup adalah satu-satunya persoalan. Dengan tidak memikirkan keselamatan setelah mati, agama kehilangan urgensi bagi kehidupan manusia.

Menurut ajaran Islam, agnostisisme termasuk jenis kekafiran, walaupun bukan kafir ingkar seperti kaum ateis. Selain dari kafir ingkar ini, para ulama telah mengklasifikasikan tiga kekafiran lainnya. Pertama, kafir inad; yakni hatinya mengimani Allah, lidahnya mengakuinya, tapi ia enggan menjalankan perintahnya dan menghentikan larangannya. Kedua, kafir juhud; yakni hatinya mengimani Allah tapi tidak ingin diakuinya dengan lidah. Ketiga, kafir nifaq; yakni lidahnya mengakui Allah tapi hatinya tidak memercayainya (munafik).

Menjarah Pikiran

Tingkat agnostisisme berbeda-beda. Ada yang dekat pada teisme, ada yang lebih dekat pada ateisme, dan ada pula yang sama jauh antara teisme dan ateisme. Berdasar tingkatan itu, seorang agnostik bisa digolongkan kepada salah satu dari ketiga jenis kafir itu.

Jika kita melihat gelagat muslim di Indonesia saat ini, yakinlah kita bahwa fenomena agnostisisme ini sedang menjarah pikiran dan moral masyarakat Indonesia. Betapa banyak orang Islam di Indonesia yang tidak melakukan ibadat Islam, tidak mau puasa, mengeluarkan zakat, dan tidak melaksanakan salat sehingga membuat masjid-masjid kosong dari penghuni.

Kepercayaan bahwa Islam membawa kedamaian dan keselamatan mulai dihiraukan bahkan tidak diyakini lagi. Umumnya fenomena Islam KTP di kalangan umat Islam itu muncul karena awamnya pemahaman tentang ajaran Islam. Mereka mengakui Islam tapi tak berbuat dan bertingkah laku menurut ajaran Islam. Mereka percaya kepada Allah tapi tidak menjalankan kehendak Allah, justru mengerjakan larangan-Nya.

Fenomena agnostisisme ini juga merepresentasikan ketidakbecusan para alim ulama dalam mendakwahkan Islam. Memang siar Islam didengungkan di mana-mana; di masjid, menasah, radio, televisi, dan media-media lainnya. Tetapi apa yang disampaikan tidak meresap ke dalam sanubari umat Islam. Semuanya dianggap sebagai angin lalu.

Bahkan tak jarang kita temukan syiar-syiar Islam itu telah beralih menjadi media lawakan. Orang datang ke forum dakwah Islam tidak lagi untuk memperdalam dan mempertegas keislamannya, tapi lebih pada untuk mendengar lawakan-lawakan yang membuat para pendengar tertawa terbahak-bahak.

Metode Dakwah

Menurut hemat saya, jalan keluar untuk menghilangkan agnostik di kalangan umat Islam di Indonesia adalah dengan memberikan dakwah yang lengkap kepadanya. Hanya saja metode dakwah itu haruslah ilmiah dan mempergunakan informasi ilmu-ilmu modern semaksimal mungkin.

Andaikan metode dakwah lama juga dihidangkan pada mereka yang dengan sifat tak rasionalnya dan mempergunakan pengetahuan awam yang populer, dapat diduga mereka tak akan kembali menjadi teis “muslim taat” malah dapat jatuh kepada ateisme.

17 February 2012
*) Peneliti di Farabi Institute Semarang