Ali Audah, Sastrawan dan Penerjemah Tanpa Sekolah (2)

Ali Audah
Pewawancara: Budiman S Hartoyo
http://harian-aceh.com/

Ia belajar membaca dan menulis dari teman sepermainan dengan mencoret-coret di tanah. Membaca buku apa saja hingga menguasai beberapa bahasa asing. Akhirnya jadi sastrawan, kolomnis, dan penerjemah andal. Contoh baik keberhasilan pendidikan lewat buku.
***

Saat diwawancarai, Ali Audah tengah merevisi transliterasi karya terjemahannya, Sejarah Hidup Muhammad. Ia juga merevisi dua karya aslinya, Malam Bimbang dan Jalan Terbuka.

Berikut wawancara Berita Buku dengan Ali Audah di rumahnya, Kompleks Perumahan Bogor Baru yang sejuk, tenang, dan nyaman.

Bagaimana sesungguhnya terjemahan yang bagus?

Terjemahan yang bagus ialah yang tidak verbatim atau harfiah, tapi juga tidak parafrase atau terlalu bebas. Tengah-tengahlah, sehingga kita tahu bahwa ini terjemahan, dan tanpa mengurangi gaya asli pengarang. Malah gaya asli si pengarang bisa kita ambil. Orang yang tidak tahu mengira, bahwa “gaya” ini harfiah. Tidak. Jadi, terjemahan yang baik itu begitu.

Terjemahan yang verbatim atau harfiah, jelas tidak bagus. Kita sering baca terjemahan seperti itu, tapi enggak ngerti apa maksudnya. Sedang terjemahan yang parafrase, kadang-kadang dilakukan karena si penerjemah tidak bisa menangkap pikiran si pengarang, tidak bisa menangkap bahasanya, kemudian dia tulis pikiran dia sendiri.

Kalau terjemahan itu kita cocokkan dengan aslinya, tidak bisa dilacak. Penerjemah itu bikin kalimat sendiri, paragraf sendiri, dan seterusnya. Ini sangat berbahaya, karena konsep, pikiran dan gaya–bahkan nuansa pikiran pengarang–tidak bisa ditangkap dan diungkapkan.

Dalam terjemahan seperti ini, mungkin si penerjemah tak bisa menangkap bahasa atau pikiran si pengarang. Kalau penerjemah mengalami kesulitan dan tak bisa mengatasi, ia harus menyertakan catatan kaki, misalnya begini, “Kalimat atau alinea yang ini sulit diterjemahkan, dan inilah terjemahan yang paling mendekati.”

Seorang penerjemah tidak bisa menerjemahkan karya ilmiah atau agama hanya dengan mengandalkan ensiklopedi atau kamus. Ia juga harus menggunakan buku-buku referensi. Kalau tidak, saya khawatir terjemahan itu meleset.

Untuk menerjemahkan buku sejarah, dia harus membaca pula buku sejarah karya pengarang lain. Kalau menerjemahkan buku biografi, ia harus membaca biografi lain. Dia tidak bisa ingin cepat-cepat selesai menerjemahkan hingga terburu-buru. Sedang untuk menerjemahkan novel, harus dilihat pula latar belakang budayanya.

Bagaimana komentar Anda mengenai terjemahan buku-buku agama yang kebanyakan terlalu harfiah?

Sekarang ini sudah mulai banyak terjemahan buku-buku agama dari Bahasa Arab yang lebih maju. Sudah lumayan bagus dibanding terjemahan di tahun-tahun 1940 atau 1950-an dulu.

Dulu, mungkin para penerjemah sangat berhati-hati karena masalah agama dianggapnya sangat sakral, sehingga terjemahannya harfiah sekali. Mereka mengikuti saja gaya atau ungkapan Bahasa Arab. Kalimat Bahasa Arab itu kan mula-mula dinafikan atau negatif, baru kemudian anak kalimatnya positif. Nah, penerjemah mengikuti saja hingga terjemahannya terasa aneh.

Sekarang sudah banyak terjemahan yang agak baik. Cuma masih ada yang saya sesalkan, misalnya, masih ada penerjemah yang melompati kalimat atau alinea tertentu. Entah sengaja atau tidak, tapi kadang-kadang kalau ada kalimat yang sukar lalu dilompati atau ditinggalkan begitu saja.

Saya tidak ingat buku apa, tapi ada. Saya tidak tahu apa sebabnya. Kalau ada kesulitan seperti ini, mestinya penerjemah memberi pengantar atau catatan kaki. Ini bukan kritik, hanya sekedar perbandingan saja.

Jadi karya terjemahan sebenarnya bukan hanya karya “kelas dua”?

Ya, karya terjemahan yang baik sesungguhnya juga sebuah karya kreatif, tidak kurang berharganya dibanding karya asli. Sekarang ini ada bermacam-macam persepsi di masyarakat terhadap karya terjemahan. Ada yang menyukai karya terjemahan yang baik, ada pula yang arogan tidak mau membaca karya terjemahan.

Mereka lebih bangga membaca karya asli. Ada pula orang yang mau membaca karya terjemahan, tapi kalau menulis dan menyebutnya sebagai referensi–untuk catatan kaki atau bibliografi, misalnya–ia menyebutkan karya aslinya. Padahal yang ia baca terjemahannya.

Saya sendiri dalam menulis artikel, misalnya, kalau memang perlu menyebut sebuah buku sebagai sumber referensi dan kebetulan sudah ada terjemahannya, saya sebut saja karya terjemahan itu sebagai sumber. Tidak usah lagi kita baca aslinya, apalagi kalau terjemahannya memang bagus. Kan sama saja, cuma lain bahasa.

Kecuali kalau memang ada yang kurang jelas, biasanya lalu saya cek ke karya aslinya. Itu pun kalau kebetulan saya punya aslinya. Tapi kalau tidak, cukup terjemahannya. Sebab, terjemahan itu sesungguhnya juga merupakan sebuah karya tersendiri.

Jadi, terjemahan itu tidak bisa dibilang sebagai karya “kelas dua” setelah karya asli. Sebab, kadang-kadang malah bisa jadi karya terjemahan lebih dikenal orang ketimbang karya aslinya.

Seperti di Mesir, misalnya, masyarakat di sana lebih mengenal Habib Ibrahim sebagai “pengarang” Al-Buasa. Padahal itu terjemahan dari Les Miserables (1826) karya pengarang Prancis terkenal, Victor Hugo (1802–1885). Begitu terkenalnya Habib Ibrahim di Mesir sebagai “pengarang” Al-Buasa, hingga orang di sana tidak mengenal siapa itu Victor Hugo.

Bagaimana kegiatan terjemahan di Indonesia dibanding negeri lain?

Di negeri maju terjemahan itu sangat penting. Itu sebabnya Almarhum Soetan Takdir Alisjahbana tak jemu-jemunya menganjurkan “pengambil-alihan” ilmu pengetahuan melalui terjemahan berbagai buku ilmu pengetahuan. Bahkan beliau mengidam-idamkan penerjemahan Ensiclopaedia Britannica.

Menurut majalah Pasific Friends, Jepang merupakan “kerajaan terjemahan”, traslation empire. Hampir semua buku yang terbit di dunia, bahkan belum beredar, sudah diterjemahkan di Jepang. Yang mereka terjemahkan buku-buku mengenai berbagai ilmu pengetahuan dalam disiplin ilmu apa saja.

Pentingnya terjemahan bahkan sudah terbukti ketika peradaban Islam menjadi jembatan bagi masyarakat Barat untuk mengenal peradaban Yunani melalui terjemahan buku-buku filsafat, sastra, dan kedokteran. Itu terjadi kira-kira di abad ke-11 atau 12 Masehi, atau abad ke-5 atau ke-6 Hijri.

Bagaimana dengan Indonesia? Menurut laporan Unesco (1970), Indonesia menempati peringkat kedua dari bawah, di atas Kamboja atau Vietnam. Nomor satu adalah Jerman, yang di tahun 1970 dalam setahun menerbitkan 5.000 buku, sementara Indonesia cuma 200-an. Untuk Asia, Jepang berada di peringkat paling atas.

Bagaimana agar peringkat Indonesia naik?

Bagaimana bisa menaikkan peringkat, kalau honorarium untuk karya terjemahan masih terlalu kecil? Karena ya itu tadi, ada anggapan bahwa karya terjemahan itu “kelas dua” setelah karya asli. Kadang-kadang naskah dibeli begitu saja, misalnya Rp3 ribu per halaman (saat itu).

Sebaiknya jangan dibayar dengan cara seperti itu, tapi dengan membayar royalti seperti halnya membayar pengarang yang menulis karya asli. Kalau pun dibayar dengan royalti, di sini juga masih dibedakan antara karya asli dan terjemahan. Jumlahnya pun kurang dari separo dari karya asli. Karena itu semangat menerjemahkan sangat rendah. Itu pertama.

Kedua, penguasaan bahasa asing di kalangan para pengarang kita juga sangat kurang. Mungkin mereka lancar ketika berbicara, tapi begitu menerjemahkan mereka kurang mampu. Padahal mereka itu rata-rata para sarjana yang boleh dibilang berbobot. Apalagi kalau terjemahan itu harus memenuhi persyaratan seperti yang saya uraikan tadi.

Sebaiknya terjemahan itu dari tangan pertama dari bahasa aslinya. Menerjemahkan tak cukup hanya dengan kamus, bahkan tak cukup hanya dengan satu kamus. Sebenarnya siapa pun bisa menerjemahkan. Saya tak setuju dengan pendapat bahwa untuk menerjemahkan diperlukan bakat. Tidak. Menerjemahkan bisa dilakukan dengan latihan.

Buku-buku berbahasa Arab sebenarnya masih banyak yang sangat perlu diterjemahkan. Ada berpuluh-puluh. Tapi, saya sudah tak mampu menanganinya, sementara untuk mencari penerjemah yang baik sangat susah.

Selama ini ada penerjemah, tapi hanya melayani selera penerbit atau menerjemahkan buku-buku agama saja. Mestinya sastrawan seperti Muhammad Fudholi (yang pernah kuliah di Mesir) bisa mengerjakannya. Tapi mana? Untung ada pendatang baru, Salman Harun dari IAIN Jakarta, yang pernah menerjemahkan kumpulan cerpen.

Untuk mengatasi hal itu, saya kira beberapa mahasiswa atau dosen Bahasa Arab di Institut Agama Islam Negeri (kini Universitas Islam Negeri), misalnya, bisa membentuk sebuah tim yang khusus menangani penerjemahan buku-buku dari Bahasa Arab. Bukan buku mengenai agama saja, tapi dari berbagai disiplin ilmu.

Di lain pihak saya mengimbau kepada para penerjemah, jika mereka menerjemahkan hendaknya membiasakan diri meminta izin kepada penerbit atau pemegang hak ciptanya. Saya menduga sekitar 95 persen dari buku-buku yang diterjemahkan, terutama buku-buku agama, dilakukan tanpa minta izin.

Ada suka-duka sebagai penerjemah?

Dalam hal meminta izin, ada cerita menarik. Ada sebuah buku mengenai asal-usul Kitab Injil dalam Bahasa Inggris akan diterjemahkan. Meskipun bukan yang menerjemahkan, saya diminta tolong untuk memintakan izin. Maka saya tulislah surat ke penerbitnya di Inggris.

Beberapa hari kemudian datanglah surat balasan yang menyebutkan bahwa pemegang hak ciptanya ialah seorang pengarang keturunan Arab-Libanon, beragama Kristen. Lalu saya mengirim surat kepadanya dengan alamat di Yordania.

Tapi, ternyata ia tinggal di Jerman. Setelah ketemu dan ada persetujuan, langsung kedua belah pihak menekan surat kontrak, dan dia minta royalti sekian Deutche Mark.

Tapi, para pengarang Arab rata-rata baik, tidak minta bayaran, hanya berpesan agar terjemahannya amanah, jujur. Saya pernah berhubungan dengan pengarang yang tinggal di Madinah, Riyadh, atau Kairo. Mereka tidak minta royalti tapi berpesan agar terjemahannya amanah. Kalaupun mereka minta, itu wajar. Dan biasanya tidak terlalu banyak.

Tapi, jika kita sudah mengirim surat minta izin dan dua tiga kali tidak dibalas, itu lain soal. Kita bisa menerbitkannya tanpa izin—itu tidak apa-apa. Yang penting sudah ada usaha meminta izin kepada pemegang hak cipta.

Dalam hal ini saya berpegang pada ketentuan Unesco. Yaitu, kalau ada buku yang sangat penting untuk diterjemahkan, sementara untuk mendapatkan izin dari pemegang hak cipta sangat sulit, buku itu boleh diterjemahkan tapi harus melaporkannya kepada Unesco–yang nanti akan mengurus izinnya.

Tapi kalau saya menganjurkan—anjurkan kepada para penerbit agar meminta izin, mereka malah protes. Alasannya, kita masih negara berkembanglah, nanti kita rugilah, ya macam-macamlah. Jadi saya pikir, mereka ini berpikir materialistis, kapitalistis.

Suka duka dalam menerjemahkan tentu ada. Kadang-kadang untuk menerjemahkan satu kata atau satu kalimat—supaya tepat dan pas betul— bisa makan waktu sapai satu-dua jam. Saya harus mencari, mencocokkan dan membandingkannya di berbagai kamus, ensiklopedi, atau buku-buku referensi lain.

Kalau masih buntu juga, biasanya saya tinggalkan dulu, lalu saya membaca buku lain. Hal ini bisa kita maklumi, sebab para pengarang Arab modern tak mau menggunakan bahasa asing. Mereka tetap menggunakan Bahasa Arab, biarpun untuk istilah-istilah teknologi.

Omong-omong, perkembangan sastra Indonesia kok lesu, kenapa?

Yah, pertama-tama karena minat baca di masyarakat kita, terutama untuk membaca buku-buku sastra, sangat kurang. Kedua, saya kira karena para penerbit tak berani mengambil risiko rugi menerbitkan buku-buku sastra.

Di tahun 1950-an memang banyak buku sastra yang terbit, tapi untuk ukuran waktu itu. Untuk ukuran sekarang, mestinya lebih “ramai” lagi dibanding 1950-an. Karena jumlah penduduk sudah jauh berlipat-ganda; yang buta huruf pun sudah jauh berkurang. Jadi, produksi buku sastra mestinya 20-30 kali lipat.

Tapi, memang para pengarang kita kurang produktif. Paling-paling yang masih menulis Umar Kayam, Putu Wijaya. Sekarang ini tampaknya lebih banyak para pengarang sastra koran atau majalah.

Mereka rata-rata menginginkan agar karangannya cepat terbit dan mendapat uang, tidak sabar menunggu bukunya diterbitkan, lalu menulis cerita bersambung di koran. Dulu ada nama-nama besar seperti Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang, Iwan Simatupang, Achdiat Kartamihardja, lalu di bawahnya ada Ajip Rosidi, dan sebagainya.

Dulu muncul karya-karya besar seperti Atheis-nya Achdiat, atau Keluarga Gerilya-nya Pramoedya. Sekarang memang ada beberapa, misalnya, Para Priyayi-nya Umar Kayam atau Harimau-Harimau-nya Mochtar Lubis.

Tapi, sekarang hampir tak ada karya sastra yang memecahkan problem masyarakat, yang tidak peduli diterbitkan atau tidak, namanya mau terkenal atau tidak.

Para pengarang dulu sangat serius, kontemplatif, memecahkan masalah masyarakat sebagai tanggungjawab. Dari pengarang begini akan lahir karya besar dan abadi. Novel Gone with the Wind, misalnya, masih dibaca orang sampai sekarang.

Seperti dunia kepenyairan kita sekarang, mereka ramai-ramai membaca puisi di panggung, padahal puisinya jelek. Penyair itu kan yang penting menulis puisi, dan puisinya bagus, bermutu. Kalau yang membaca puisi memang aktor seperti Rendra, saya masih bisa menikmatinya.

Tapi, kalau yang membaca puisi Sapardi Djoko Damono, apalagi Goenawan Mohamad—meskipun puisi-puisi mereka sangat bagus—saya sama sekali tidak bisa menikmatinya. Karena mereka memang bukan aktor seperti Rendra. Apalagi penyair lain yang puisinya tidak bermutu, dan mereka bukan aktor pula.

Bagaimana dengan terjemahan buku-buku cerita populer yang sekarang banyak diterbitkan?

Itu merupakan sumbangan baik untuk menambah jumlah buku cerita, tapi bukan sumbangan bagi kekayaan khazanah sastra. Saya membaca satu-dua, tapi tidak tertarik. Terjemahannya maupun isinya.

Begitu pula novel-novel pop karya Marga T, Maria W Sardjono, La Rose, V Lestari, menurut saya bukan karya sastra tapi novel pop. Ceritanya menarik, tapi tidak bernilai sastra, meskipun penyajian bukunya terkesan mewah.

Anehnya, ada sastrawan yang memuji karya seperti itu. Misalnya dalam seminar sastra di Medan beberapa waktu lalu. Novel Ahmad Tohari atau Ashadi Siregar menurut saya lebih bagus.

Buku apa yang paling menarik minat Anda?

Buku-buku sastra, sejarah, dan referensi. Untuk belanja buku, setiap bulan jumlahnya tidak bisa ditentukan. Bulan kemarin, misalnya, saya belanja buku sampai Rp200.000 (saat itu 1995).

Orang di rumah tentu saja mengeluh, “Kalau mau beli baju mesti berdebat dulu, tapi kalau beli buku enggak bilang-bilang.” Waktu kecil dulu saya pernah dikasih uang oleh orangtua saya untuk membeli baju, karena baju saya sudah kumal dan sobek di sana-sini. Tapi, sampai di pasar saya malah membeli buku, tidak membeli baju.

Begitulah perjalanan seorang sastrawan dan penerjemah tanpa masuk sekolah, kecuali hanya sampai kelas I SD. Usahanya tak sia-sia, pada 3 Desember 2012, Ali Audah menerima anugerah penghargaan dari Rumah Puisi Taufiq Ismail ‘Kenagarian Aie Angek’, Tanah Datar, Sumatera Barat. Penghargaan sastra tersebut yang pertama diberikan Rumah Puisi Taufiq Ismail sejak berdiri pada akhir Desember 2008.

Taufiq Ismalil yang menyerahkan langsung penghargaan itu kepada Ali Audah mengatakan, anugerah itu pantas diterima Ali Audah mengingat dedikasinya selama ini terhadap dunia sastra di Indonesia sudah menjadi referensi bagi seluruh kalangan dari karya yang dihasilkannya.[Berita Buku/1-1996]

“..terjemahan itu tidak bisa dibilang sebagai karya “kelas dua” setelah karya asli. Sebab, kadang-kadang malah bisa jadi karya terjemahan lebih dikenal orang ketimbang karya aslinya.”

2 February 2012
Dijumput dari: http://harian-aceh.com/2012/02/02/sastrawan-dan-penerjemah-tanpa-sekolah-2