Berenergi Dramaturgi Wayang

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

KUMPULAN puisi terbaru Tjahjono Widijanto (TW), Janturan (Jakarta, Spirit Management, 2011), terdiri dari tiga bagian: Janturan, Bayang-bayang, serta Lurung. Terma janturan itu sendiri diterangkan TW, di dalam prolog yang ditulisnya sendiri, sebagai bagian dari dramaturgi pementasan wayang (Jawa), sesuatu yang diterimanya sebagai nina bobo pengantar tidur dari sang bapak yang kebetulan guru bahasa Jawa di SPG di Ngawi.

Kebiasaan yang membuatnya sangat kecanduan menonton wayang, serta suka memaksa sang bapak untuk mengsiantar dan menemaninya nonton setiap pagelaran wayang yang diselenggarakan di kampung di masa kecilnya. Sesuatu yang membuatnya tetap kerasukan (menyempatkan diri) menonton pagelaran wayang-itu bahkan di tengah acara Temu Sastra MPU VI, 15-17/10.2011, kemarin.

Kronologi pagelaran wayang bersijejer dari awal pangung kosong dengan media tampil ditancapi kayon-gunungan-, lalu buka kayon dengan ikon gunungan dicabut dengan iringan suluk, setelah itu,ketika wayang-wayang ditampilkan dan berdialog,muncul janturan. Fungsinya kalau tak mendahului adegan sebagai deskripsi pembuka, menguatkan dialog sebagai deskripsi monolog pemikiran si tokoh, kemudian sebagai penutup dari adegan untuk penekanan deskriptif.

Dengan kata lain, kelebihan pentas wayang kulit dan kualitas dalang itu terdapat pada wilayah ontowacana,dialog cerdas serta deskripsi janturan,dan sabetan,kemampuan menggerakkan wayang kulit.

Dan TW mengambil filosofis janturan itu untuk mesitandai kemampuan mendeskripsikan peristiwa dan kejadian,tidak heran bila banyak puisi di Janturan bermula dari cerita.

Ada puisi yang mendeskripsikan kesan pribadi dan/atau tafsir dari cerita wayang. Puisi “Jam-Jam Madrim”, misalnya, yang menceritakan gejolak emosi cinta terputus si Madrim kepada Pandu, raja hastina yang harus merelakan satu dari tiga wanita yang dibawanya untuk dipilih Destrata yang buta,kita tahu Pandu meninggal, anaknya dari Kunti jadi Pandawa, sedangkan anak-anak dari Madrim dan Destrata jadi Kurawa, dan mereka itu yang menjadi pion dari tragedi besar keluarga Bharata di Kurusetra dalam epos Mahabrata.

Lalu puisi “Kunti di Tepi Kali”, yang mendeskripsikan sesalan sertan keterpaksaan Kunti membuang si anak hasil selingkuhnya dengan Betara Surya, yang demi nama baik seorang putri yang belum menikah terpaksa membuang Karta.

Atau puisi “Bisma”, si bungsu dari Pandu dan Destrata yang memilkih tidak menikah untuk bisa mengemong keponakan-keponakannya,tapi takdir malahan ada membawanya ke perang besar di Kurusetra, karenanya ia tak mau mati sebelum perang besar itu usai.

Lantas ada puisi yang bertolak dari sejarah, puisi “Mangir”, yang mensiceritakan kiai Mangir dari perdikan Mangir yang tak pernah bisa ditaklukan Senapati, sehingga terpaksa diatur siasat supaya Mangir tergoda dan menikahi Pembayun, putri Senapati yang jago nyinden, dan ketika mengunjungi mertuanya ia dibunuh dengan sadis, tapi kuburannya separuh ada di wilayah kraton dan separuh ada di luar kraton.

Atau puisi “Janturan Siti Jenar”, yang menceritakan kalahnya kaum penganut hakekat oleh para pengamal syariat yang bersetumpu pada nash fiqih.

Bahkan yang bersipedoman pada teks cerita rakyat, seperti yang ditampilkan dalam puisi “Lima Catatan Malin”, yang merupakan deskripsi si yang dikutuk, yang merasakan bagaimana riangnya anak-anak camar diberi makan ibunya, sekaligus merasakan instinik kesiorangtuaannya bangkit ingin mensidoakan (semacam) kemuliaan bagi anaknya.

Dengan kata lain, bukankah kewajiban ibu itu mendoakan kemuliaan anak dan bukan memusnahkann kemuliaan si anak beratas nama balas budi yang berupa penghormatan agung?

Lantas intertekskan roh spirit puisi itu dengan puisi “Kunti di Tepi Kali”, “Tafsir Bapa Tafsir Anak”, “Tafsir Langit”, dan (terutama) puisi “Di Meja Makan Keluarga”. Tapi posisinya yang keranjingan untuk membuat deskripsi untuk prolog cerita, untuk memperkuat monolog dengan deskripsi yang setengah prosaik dan abstrak filosofis,karena itu sajak terkadang sengaja diledakkan dengan pensiteraan teks wicara sebagai kesimpulan yang diucapkan, serta untuk epilog membuat kita kesulitan menangkap apa isi puisinya.

Setidaknya kalau kita tak memahami isi induk cerita yang ditafsirkan dan dimainkan dengan penekanan janturan-nya. Sajak-sajak TW itu seperti puncak si gunung es dari sebuah narasi yang tidak ditampilkan, dan terbenam dalam khazanah perbendahaaraan cerita si apresiator. Ambil puisi “Cok Bakal”, yang merupakan satu bagian dari upacara adat Jawa,sebagai alat untuk mencegah datangnya bencana, tolak bala, yang di tempatkan di perempatan jalan.

Dengan kata lain, cara berpuisi TW yang bertolak dari cerita, yang menjadi satu referensi pengalaman bersama, jadi kelemahan ketika cerita yang dipilih tak diketahui oleh orang lain, dan ketika para apresiatornya kesulitan untuk merekonstruksi si cerita yang dengan sengaja didekonstruksi jadi metateks tafsir.

Terlebih saat terpaksa harus memaknai teks yang bermula dari pengalaman individual, seperti puisi-puisi “Menara Panti Kudus”, “Lukisan Perempuan di Musium Blanco”, “Jeddah-Madinah”, “Arafah”, “Depan Ka’bah”, “Hotel Movent Pick Madinah”, dan/atau “Singir Sungai Kampung Halaman”.

Meski di banyak puisi yang potensial gelap itu si penyair telah kuasa buat mengatasi tabir subyektivitas, sehingga karenanya secara kebahasaan teks puisi telah berhasil jadi alat buat mengungkapkan pengalamannya yang terdalam. TW berkuasa mengobyektivikasinya, seperti apa yang diyakini TS Eliot. Ambil itu puisi “Di Meja Makan Keluarga”, misalnya.

Tak heran kalau Janturan, buku setebal 94 halaman dengan 35 puisi ini berhasil menyabet hadiah sastra BPPB 2011 untuk kelompok guru.***

* Beni Setia, pengarang /25 Februari 2012