Cina, Sastra Jawa dan Oei Tjhian Hwat

Dhanu Priyo Prabowo
web.budaya-tionghoa.net

KEDATANGAN orang Cina ke Indonesia (Jawa) ternyata tidak melulu bertujuan ekonomi tetapi juga ikut memperkenalkan kebudayaannya (termasuk sastra) ke tengah-tengah pergaulan masyarakat Jawa. Melalui usaha penerjemahan sastra Cina, orang Jawa dapat berkenalan dengan nilai-nilai universal manusia tentang cinta (lewat Sam Pek Ing Tae).

Di samping itu, tidak hanya kehadiran sastra terjemahan saja orang-orang Cina mencoba berakulturasi dengan kebudayaan Jawa. Usaha penerbitan (buku, majalah, koran) sebagaimana dirintis dan dikerjakan oleh orang Cina ikut mengentalkan usaha akulturasi itu. Misalnya seperti yang dilakukan oleh Tjoa Tjoe Koan (1816-1905). Pada tahun 1903 ia mendirikan percetakan untuk tiga bahasa. Selain itu, ia juga membuka toko buku dan menerbitkan beberapa surat kabar. Surat kabar itu semuanya diredakturi sendiri oleh Tjoa Tjoe Koan. Pada 1903, ia menerbitkan surat kabar Darmo Kondo dalam bahasa Melayu dan Jawa. Penerbitan itu ditujukan untuk kepentingan kalangan intelektual Jawa. Di samping Darmo Kondo, Tjoa Tjoe Koan juga menerbitkan koran khusus untuk orang Cina, yaitu Ik Po. Keinginan Tjoa Tjoe Koan untuk menerbitkan Darmo Kondo dalam dua bahasa, khususnya Jawa memberikan petunjuk bahwa keberadaan orang Jawa dengan bahasanya perlu untuk diapresiasi agar upaya mengenalkan sastra Cina dapat memperoleh tempat yang lebih tepat.

Diterangkan oleh Claudine Salmon bahwa antara tahun 1907-1923 di berbagai kota di Jawa bermunculan penerbit-penerbit/percetakan Cina, misalnya Malang, Bandung, Jombang, Cirebon, Pekalongan, dan Cilacap. Penerbit-penerbit itu sangat besar peranannya dalam usaha penerbitan karya sastra.

Pada 1915, Tan Khoen Swie (1884-1953) membuka usaha toko buku, percetakan dan penerbitan sastra Jawa di Kediri. Pria kelahiran Wonogiri sangat tertarik untuk menerbitkan karya-karya sastra Jawa yang sangat luas jenisnya, mulai dari masalah keseharian, perbintangan, sampai dengan masalah kebatinan. Tan Khoen Swie yang pernah bekerja di percetakan Sie Dhian Ho (Solo) itu, memang mempunyai kemampuan berbahasa Jawa yang baik sehingga keinginan terhadap masalah kebatinan Jawa pun memperoleh jalan yang sangat lempang. Bersamaan dengan itu, ia juga mulai belajar bahasa Cina dengan sungguh-sungguh sehingga ia kemudian juga menerbitkan terjemahan-terjemahan dari sastra Cina ke dalam bahasa Jawa mengenai Taosime, Budhisme, Konghucu. Kehadiran Tan Khoen Swie ke dalam pelataran sastra Jawa benar-benar memberikan sumbangan yang sangat besar bagi perkembangan sastra Jawa.

Pada tahun-tahun ia berbisnis penerbitan dan percetakan, penerbitan sastra Jawa jenis kebatinan boleh dikatakan sangat minim dikerjakan penerbit swasta. Penerbit Balai Pustaka lebih banyak menerbitkan sastra-sastra didaktik yang sejalan dengan kebijakan “kolonialisme ideologi” pemerintah kolonial Belanda. Dengan kata lain, Balai Pustaka sangat sedikit menaruh perhatian dengan sastra-sastra kebatinan Jawa. Puluhan buku sastra kebatinan Jawa telah diterbitkan oleh Tan Khoen Swie dan sampai saat ini terus dibaca oleh orang Jawa. Usaha Tan Khoen Swie melalui penerbitan sastra Jawa dalam bentuk buku telah memberikan kesempatan yang lebih luas kepada orang Jawa untuk mempelajari kebudayaannya, Jawa (khususnya kebatinan).

Kenyataan itu memang tidak dapat dipungkiri, karena sebenarnya sastra Jawa adalah sastra yang sangat pekat dan merupakan cetusan kebatinan yang selalu terus diaktualisasikan dalam berbagai bentuk. Sastra Jawa, merupakan “pintu gerbang” yang tidak dapat dilewati apabila ingin belajar tentang “roh Jawa”.

Dalam perkembangan sejarah sastra Jawa (memasuki dekade 1950-an dan seterusnya), orang Cina yang menaruh minat yang sungguh-sungguh terhadap sastra Jawa sebagaimana yang pernah dikerjakan oleh Tan Khoen Swie “tidak ada” lagi. Beberapa penerbit yang dikelola oleh orang Cina seperti Penerbit Keng (Semarang), hanya bertahan beberapa tahun menerbitkan sastra Jawa jenis panglipur wuyung. Ketika era panglipur wuyung berakhir (akhir dekade 1960-an), penerbit itu sudah tidak lagi terdengar kiprahnya. Penerbit itu tampaknya tidak ada dedikasi sebagaimana Tan Khoen Swie dalam menerbitkan sastra Jawa.

Jika dibandingkan, terbitan Tan Khoen Swie ibarat pohon jati yang kuat dan dapat bertahan puluhan tahun, sebaliknya buku-buku terbitan Penerbit Keng ibarat pohon bayem yang segera pudar hanya oleh hitungan hari. Memang, ada penerbit dan toko buku di dekade 1950-an dan 1960-an, milik orang Cina yang menaruh minat terhadap bahasa sastra Jawa, yaitu Hien Hoo Sing (sekarang menjadi Sari Ilmu di jalan Malioboro). Tapi, sayang penerbit ini hanya menerbitkan satu buku monumental Ngengrengan Kasusastra Jawa I-II (1953) karya S. Padmosoekotjo. Selain itu, menurut catatan saya, sudah tidak ada lagi.

Barangkali, kenyataan itulah yang ditangkap oleh orang Cina generasi penerus semacam 0ei Tjhian Hwat (Handoyo Wibowo). Di tengah kesibukannya mengurus bisnis toko pakaian yang cukup terkenal, ia membagi waktunya untuk menulis dan menerbitkan geguritan-nya dalam buku sastra, baik yang terangkum dalam Nurani Peduli (2000) maupun Geguritan yang akan segera direleasenya. Mengamati karya-karyanya, geguritan yang ditulisnya memiliki suasana yang sudah “cukup” nJawani. Ungkapan-ungkapannya ritmis mengikuti irama sebagaimana lazim nada yang sangat dibutuhkan dalam tembang-tembang Jawa (macapat). Misalnya, dalam geguritannya yang berjudul Emut sebagai berikut: pikiren sampun ting semramawut/dienteni kakanthi lega lulut/ati uwis ketrucut/diecekel gelem nurut/ati-ati lan emut/ojo nganti mrucut/ning apa iya sumbut//.

Penggurit yang lebih senang disebut memakai nama Cina-nya: Koh Hwat itu menyampaikan gagasannya dalam bahasa Jawa (sastra Jawa) karena ia merasakan bahwa dengan menulis puisi Jawa ia dapat melahirkan rasa jiwanya dengan lebih selaras.

Menurut pengakuannya, dengan memakai bahasa Jawa, ia merasakan ada persoalan-persoalan batin yang lebih pas jika diungkapkan dalam sastra Jawa. Oleh karena itu, sangat tepat pernyataan Suryanto Sastroatmodjo, budayawan Jawa, yang mengungkapkan bahwa puisi adalah sebuah pemeliharaan terhadap budaya baku the inner and locus yang secara tidak langsung mengajak dialog para penghuni belantara sepi. Oei Tjhian Hwat telah mencanangkan gurit-gurit merdu, sekaligus lantang menghentak. Lebih jauh dikatakan, bahwa penyair ini sebenarnya juga memperjuangkan sebuah rasa kangen terhadap tugu-tugu dan pilar kebersamaan (bukan Cuma kata-kata hebat solidarity) yang menggebrak.

Puisi-puisi pendek mirip haiku dengan postulat tegar, dirangkum pigur spritual dan impresi individual-telanjang bulat-utuh hadirnya, menyapa para pejalan zaman kini. Ia ibarat reformasi hidup, yang mengembalikan Alam pada anak-anak Alam, dan sirkel-sirkel rasa nalar nan pradah keharibaan intuisi, lepas dari penyenggol kepolosannya. Via media bahagia telah lepas dari terungkap ke-asmara-an yang terlalu megah, kenes, cumlorot, atas nama penyangga kultur Jawa yang jadi kanvas diri.

Kiranya tepat pernyataan Suryanto Sastroatmojo tentang penyair yang suka berderma suka-eklas kepada sesama ini bahwa penyair ini sebenarnya juga memperjuangkan sebuah rasa kangen terhadap tugu-tugu dan pilar kebersamaan. Dalam sebuah perjumpaan dan orasi sastranya di Sanggar Seni Sastra Kulon Progo, 27 Januari 2002, ia menyatakan bahwa menulis geguritan adalah menumpahkan kepedulian rasanya kepada sesama dalam bentuk kalimat dan seni. Lewat sastra, ia mereguk suatu suasana yang tidak ditemukan dalam dunia materi. Menulis geguritan adalah pengelanaan terhadap jati dirinya yang tidak ingin dikamuflase. Dikatakannya dengan berani dan jujur: ia lebih senang dipanggil dengan nama Cinanya daripada dengan nama Handoyo Wibowo. Persoalannya bukan pada masalah Cina dan Indonesia, tetapi lebih pada kejujuran dan keberanian untuk menerima kenyataan. Barangkali bukan sebagai promosi kalau ia lebih senang dipanggil Koh Hwat dari pada Pak Handoyo. Dengan dipanggil seperti yang disebutkan pertama itu, ia merasakan bahwa ia tidak ingin bersembunyi di balik namanya untuk tujuan-tujuan tertentu, bisnis upamanya. Sehingga pantulan rasa kangen itu terpantul dalam geguritannya yang berjudul Gathuk.

Di situ, Koh Hwat mencoba untuk memahami apa arti dari sebuah persambungan. Ia mencoba, sebagaimana Tan Khoen Swie, untuk merasakan keindahan kebatinan Jawa. Jika Tan Khoen Swie mencoba menerjemahkan keindahan itu melalui bagaimana menyebarkan melalui percetakannya, sebaliknya Koh Hwat mencoba untuk menghadirkan keindahan itu melalui sentuhan geguritannya.

Kehadiran seorang penggurit Cina sebagaimana Oei Thjian Hwat memang sebagai sesuatu yang wajar dalam dunia kesastraan Jawa, tetapi kesungguhannya untuk mencoba mempelajari kejawaan secara jujur dan eklas telah memberikan peluang kepadanya untuk dapat menempatkan sesuatu yang selama ini dipergunakan sebagai komoditas politik:SARA. Melalui sentuhan geguritannya dan interaksinya dengan kesastraan Jawa, ia telah mencoba untuk belajar memahami rimba misteri kemanusiaan di alam raya kebudayaan Jawa. [kedaulatan rakyat/100202]

*) Drs Dhanu Priyo Prabowo, MHum, pecinta sastra dan budaya Jawa, tinggal di Desa Kebonrejo, Temon, Kulonprogo .
SUMBER: Arsip Milist Budaya Tionghoa , Februari , 2004, Kedaulatan Rakyat , Februari, 2004
Dijumput dari: http://web.budaya-tionghoa.net/home/893-cina-sastra-jawa-dan-oei-tjhian-hwat-