Indonesia Beridentitas Tionghoa

Nina Susilo
http://nasional.kompas.com/

”Kami mengusulkan pertemuan di Indonesia dan tidak hanya di China sebab, melalui acara ini, ada dua misi yang tercapai, yakni saling bertemu sekaligus mengenalkan pariwisata Indonesia,” kata Kepala Bidang Pendidikan Perkumpulan Hwie Tiauw Ka (Hakka) Surabaya Elisa Christiana.

Saat ini, menurut Elisa yang juga pengajar Sastra Tionghoa Fakultas Sastra Universitas Kristen (UK) Petra, setiap tahun sekitar 30 juta warga China menjadi turis. Akan tetapi, dari jumlah itu, hanya 300.000 wisatawan per tahun yang mengunjungi Indonesia.

Kegiatan ini akan memberi sumbangsih pada pembangunan Indonesia. Ini karena masyarakat keturunan Tionghoa harus ikut berpikir dan berperan untuk pembangunan Indonesia.

”Indonesia itu negaraku dan di sini kita berakar. Jadi, semua warga keturunan Tionghoa perlu aktif terlibat dalam pembangunan, seperti menarik investor dan berperan di pendidikan atau bidang lain,” ujarnya.

Sejauh ini, kata Elisa, beberapa perkumpulan warga Tionghoa aktif dalam kegiatan sosial. Bahkan, ada yang terjun langsung ke daerah-daerah musibah di Indonesia. Ada juga yang membuka sekolah dan bergerak di bidang pendidikan.

Kendati berpartisipasi dalam pembangunan dan merasa sebagai warga Indonesia sepenuhnya, identitas sebagai keturunan Tionghoa tidak semestinya lenyap.

Saat ini, menurut Elisa yang senang mengajar sejak kuliah, mayoritas generasi ketiga keturunan Tionghoa mulai kehilangan identitas. Ini berbeda dengan dua lapis generasi awal.

Generasi pertama masih kental dengan identitas dan budayanya. Keturunan selanjutnya, yang kini berusia paruh baya, lebih berasimilasi dengan budaya Indonesia dan Barat meskipun umumnya masih mengenyam sekolah berbahasa mandarin sampai tahun 1965.

Elisa mencontohkan dirinya berada di generasi kedua. Dia pindah dari sekolah berbahasa Mandarin ke sekolah Indonesia pada 1966.

Tidak mudah

Proses mengganti nama sebagai usaha beradaptasi dengan situasi politik pun terjadi untuk sebagian besar warga keturunan Tionghoa.

Hal ini, ucap Elisa, merupakan proses yang tidak mudah. Pasalnya, ada peribahasa ”duduk tidak mengubah nama, berdiri tidak mengubah marga” dalam prinsip hidup warga Tionghoa.

Berbeda dengan generasi pertama dan kedua, warga keturunan Tionghoa generasi ketiga sudah tidak punya nama Tionghoa, tidak mengetahui desa asal leluhur, dan lebih merasa Indonesia.

Masalahnya, secara fisik tetap terlihat perbedaan dan masyarakat akan menganggap mereka sebagai keturunan Tionghoa. Kenyataan sebagai keturunan Tionghoa harus diterima.

Jadi, harus diakui pula bahwa warga keturunan Tionghoa ini lahir, tumbuh, menghirup udara Indonesia, dan makan nasi serta minum air di Indonesia.

Karena itu, warga keturunan Tionghoa harus menyadari dirinya 100 persen Indonesia meskipun memiliki identitas dan budaya tambahan sebagai keturunan Tionghoa.

”Pengenalan dan penerimaan diri membuat tidak terjadi kontradiksi dalam diri generasi keturunan Tionghoa selanjutnya,” tutur perempuan yang sedang menyelesaikan studi magisternya yang kedua, S-2 kependidikan, di Universitas Negeri Surabaya.

Pengenalan ini bisa dilakukan juga oleh perkumpulan-perkumpulan warga Tionghoa di Indonesia.

Elisa pernah mendata perkumpulan warga keturunan Tionghoa di Indonesia mencapai sekitar 100 organisasi, baik berdasarkan marga, kampung, almamater, nasionalisme, olahraga, maupun kesenian.

Menulis

Tradisi dan identitas ini tidak pudar dalam diri perempuan kelahiran Surabaya, 14 Oktober 1955, ini. Sebagai keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Indonesia, Elisa menerima dirinya dan berkarya sesuai dengan minatnya: mengajar serta berbagi dengan orang lain.

Profesi asisten dosen dan pengajar les dijalani sejak Elisa kuliah di Sastra Inggris UK Petra.

Namun, larangan ayahnya untuk menjadi guru membuat dia bekerja di sektor swasta belasan tahun sebelum mendapatkan beberapa murid les lain.

Sekitar tahun 2000, Elisa memilih mengajar sebagai jalan hidupnya dan keluar dari perusahaan tempat dia bekerja.

Tahun 2001, dia menjadi pengajar Jurusan Sastra Tionghoa di UK Petra. Su- paya sesuai dengan jurusannya, kuliah sampai magister kembali dilakoni di Huaqiao University, Quanzhou, China.

Elisa diterima di Huaqiao University dengan lancar kendati tidak pernah mengenyam pendidikan formal atau les bahasa Mandarin. Modalnya hanya pendidikan di sekolah dasar berbahasa Mandarin sampai kelas IV.

”Ayah membolehkan saya tidak mempelajari lagi bahasa Mandarin setelah pindah ke sekolah (berbahasa) Indonesia. Namun, ia tetap menyarankan saya menulis buku harian yang setiap akhir minggu diperiksa penulisan dan tata bahasanya,” tutur Elisa.

Kebiasaan menulis buku harian berlanjut sampai SMP. Setelah itu Elisa hanya menulis kejadian penting yang dialami selama sepekan.

Di sisi lain, Elisa tetap gemar membaca karya sastra berbahasa Mandarin. Pengetahuan bahasa dan budaya ini ditularkannya kepada para mahasiswanya kini.

Kekerabatan yang sudah ada dan identitas berikut tradisi Tionghoa bisa dikenalkan dengan memahami apa yang diinginkan serta diminati generasi muda sambil merangkul mereka.

Salah satu caranya, Elisa mencontohkan, mengundang perkumpulan-perkumpulan itu di kampusnya.

Selain itu, organisasi, budaya dan tradisi yang dibawa juga ikut diperkenalkan. Identitas sebagai warga keturunan Tionghoa terjaga seiring dengan nasionalisme sebagai 100 persen warga Indonesia.

13 Desember 2010