Kitab Al-Fath Ar-Rabbani, Petuah Tasawuf Berbasis Tauhid (1-3 Habis)

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nashih Nashrullah
http://www.republika.co.id/

(1)
Dalam dunia tasawuf, olah spiritual riyadhah memiliki dimensi yang sangat luas. Apalagi olah spiritual itu menyangkut dimensi yang tak tersentuh oleh indera. Jiwa, hati, dan nafsu adalah merupakan satu dari rahasia Allah yang terus coba digali oleh para pencari kebenaran.

Banyak bentuk diungkapkan guna memperjelas jalan dan mempertegas alur menuju kemurnian tauhid dan ketulusan ubudiyah. Termasuk ikhtiar yang dilakukan melalui berbagai bentuk untuk mendapatkan hakikat makna kehidupan dan arti hubungan antara seorang hamba dan Sang Khalik.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, yang dijuluki pemimpin para wali Allah (quthb al-auliya), menuangkan gagasan dan hasil kontemplasi dalam salah satu kitabnya yang bertajuk Al-Fath Ar-Rabbani Wa Al-Faidl Ar-Rahmani.

Kitab ini memuat tentang olah spiritual dalam rangka mencari keridhaan Allah SWT. Nasehat-nasehat yang tertuang dalam 62 dua majelis. Tema-tema yang diangkat berputar pada cara mengelola dan mendidik jiwa, hawa nafsu, dan membersihkan hati.

Perkara yang perlu ditekankan pertama kali adalah memahami arti tauhid yang merupakan inti dari ajaran agama. Al-Jailani menegaskan, berpaling kepada Allah SWT ketika takdir turun berarti ketiadaan agama, tauhid nihil, dan sirnalah arti tawakal dan keikhlasan. Akal manusia tidak mampu mencerna bagaimana dan kenapa Allah menakdirkan sesuatu kepada hamba-Nya. Bahkan, seringkali akal sehat dan hati kecil manusia menentang dan tidak rela dengan ketentuan yang telah diberikan kepadanya.

Oleh karena itu, Al-Jailani memberikan nasehat agar terhindar dari keburukan nafsu dengan cara terus melatih dan menempanya. Tatkala nafsu berhasil ditaklukkan maka segalanya akan menjadi baik dan berada dalam koridor kebaikan selalu. Nafsu pun akan selaras dengan segala bentuk ketaatan dengan meninggalkan maksiat. Sebagaiman firman Allah, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS. Al-Fajr: 27- 28).

Al-jailani meminta agar tetap menjaga kemurnian hati, jika hati baik maka seluruh tindakan akan baik pula seperti yang disabdakan Rasulullah dalam hadis berikut: “Ada segumpal darah di tubuh anak Adam yang apabila dia baik, maka seluruh jasadnya akan baik pula. Dan jika hatinya rusak, maka rusaklah semua jasadnya, yaitu hati.”

Agar hati selalu terjaga maka ketakwaan, tawakal, tauhid dan ikhlas beramal untuk Allah semata penting ditekankan. Selama perkara tersebut ditanamkan maka niscaya hati akan terhindar dari kerusakan.

(2)
Selanjutnya, Al-Jailani mewanti-wanti agar lebih menyibukkan diri sendiri ketimbang mengurusi kejelekan dan memperbaiki orang lain. Yang paling penting ialah membimbing dan mengarahkan diri dulu.

Tuluskan niat dan bersihkan amal hanya untuk Allah semata. Sebab, akan sangat sulit menyadarkan pihak lain tanpa berbenah terlebih dahulu. Kuncinya ada di hati bukan hanya terungkap di lisan dan tidak perlu diumbar ke khalayak.

Apabila tauhid ada bersamaan dengan syirik kecil, maka itu kemunafikan namanya. Percuma, lisan bilang bertakwa tapi hatinya durhaka ataupun lidah tak henti-hentinya bersyukur tetapi hati tetap berpaling. Sebagaimana firman Allah dalam Hadits Qudsi, “Wahai anak Adam bagaimana mungkin Aku turunkan kebaikan-Ku tetapi kejelekanmu justru mendekati-Ku.”

Ketaatan tak selalu berbuah manis di dunia. Cobaan demi cobaan akan diberikan Allah bagi hamba yang bersungguh-sungguh melakukan olah spiritual dan memurnikan tauhid. Salah satunya adalah ujian kemiskinan. Mengutip sebuah hadits, Al-jailani menyebutkan seorang sahabat datang kepada Rasulullah dan menyatakan bahwasannya dia mencintai Allah. Rasulullah bersabda, “Bersiaplah menjadikan kefakiran sebagi bajumu.” Dalam riwayat lain, “Bersiaplah dengan cobaan-cobaan.”

Bagaimanapun ujian dan cobaan perlu, tujuannya agar tak seorang pun berani mengklaim dan mengaku bahwa dirinya dekat dengan Allah ataupun mendaulat derajatnya telah mencapai tingkat kewalian.

Pentingnya tauhid ditegaskan beberapa kali dalam majelis pencerahan yang dia adakan. Diantaranya pada majelis ke-24, sang penulis menyerukan agar tidak menyekutukan Allah dalam urusan pengaturan alam semesta. Hanya Allah-lah yang mempunyai kekuasaan dan kehendak mengatur alam dan segala isinya. Atau pada majelis ke-26 sebagai contoh, Al-Jailani memberikan nasihat agar tidak mengeluh kepada makhluk sebab tempat mengadu satu-satunya yang paling tepat adalah Allah.

Demikian juga seruan yang termaktub dalam majelis ke-36, kembali ditekankan agar tak henti-hentinya mengikhlaskan segala amal perbuatan hanya bagi Allah. Bahkan, tauhid kembali ditekankan pada majelis terakhir tepatnya pada hari Jumat bulan Rajab 546 H di Al-Madrasah dengan redaksi yang sangat tegas dan gambalang, yaitu bab tauhid. Al-Jailani mengatakan untuk menauhidkan Allah sampai tidak terdapat sedikit pun unsur syirik di hati.

(3)
Metode Penulisan

Al-Fath merupakan kumpulan nasihat-nasihat yang disampaikan oleh Al-Jailani kepada para muridnya. Terlihat jelas dari corak penulisannya yang menggunakan gaya bahasa wahai anakku (ya ghulam).

Lafal ya ghulam diulang berkali-kali dan tak jarang dipakai sebagai jeda antara tema nasihat yang satu dan yang lainnya dalam majelis yang sama. Pada dasarnya, Al Fath tak hanya ditujukan kepada para muridnya, nasihat-nasihat tersebut pada hakikatnya juga diperuntukkan sebagai bahan interopeksi dan perbaikan bagi dirinya sendiri.

Petuah itu disampaikan di majelis ilmu yang dia gelar di tempat dan waktu yang berbeda-beda. Menariknya, Al-Jailani mencatat tempat dan waktu penyelenggaraan majelis lengkap dengan hari, tanggal dan tahun.

Namun, Al-Jailani tidak menuliskan tiap majelis yang pernah dia selenggarakan satu per satu. Sedangkan jumlah keseluruhan majelis yang dia ‘rekam’ sebanyak 62 kali. Salah satu bentuk ta’addub (etika) di sebuah majelis ilmu adalah melantunkan doa baik di pertengahan ataupun pengujung majelis.

Al-Jailani telah menauladankan keluhuran Islam dalam forum ilmiah. Sebagai contoh, doa yang sering dia kutip di penutup majelisnya adalah doa, “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”(QS. Al-Baqarah: 201).

Tetapi sayang, layaknya kitab-kitab tentang fadhail atau seruan dan keutamaan suatu ibadah dan amal kebajikan tertentu, Kitab Al-Fath memuat banyak hadits lemah (dhaif). Bahkan, tak sedikit pula mengutip hadits palsu.

Murka yang Terpuji
Pada Majelis ke-31 yang diselenggarakan pada tanggal 18 Jumadil Akhir 545 H, Al-Jailani menjelaskan ternyata tidak semua kemurkaan itu dilarang. Bahkan terdapat kemurkaan yang terpuji dan diridlai oleh Allah, yaitu tatkala rasa murka ini didasari atas kecintaan kepada Nya.

Sosok Mukmin ideal seyogianya bersikap tegas, bukan untuk menonjolkan kemampuan dirinya akan tetapi ketegasan yang dia tunjukkan adalah karena Allah untuk memperkuat agama. Mukmin sejati akan marah besar apabila batas-batas agama dilanggar sebagaimana kemurkaan macan jika hasil buruannya direbut binatang lain.

Tetap berhati hati, tegas Al-Jailani, jangan sampai menampakkan kemurkaan seolah-olah karena Allah padahal kenyataannya kamuflase belaka. Jika ini terjadi, maka bukan tidak mungkin kemunafikan akan menghinggapi. Sebab, kemurkaan yang diperuntukkan karena Allah akan tetap langgeng dan semakin bertambah sempurna. Berbeda dengan kemurkaan yang ada bukan karena-Nya.

Berusahalah, agar tiap amalan dan kemurkaan tetap ditujukan karena Allah. Banyak cara yang bisa dilakukan agar terjaga selalu, antara lain memerhatikan koridor syariat atau mengikuti dorongan hati yang tetap disesuaikan dengan tuntunan syariat. Berzuhudlah. Demikian saran Al-Jailani. Berzuhud dalam arti meninggalkan godaan dunia dan manusia akan membuat hati tenang. Cari dan mintalah ketenangan itu kepada Allah karena tak ada yang mampu anugerahkan rasa tenang kecuali Dia.

Tidak usah resah dengan tindakan orang munafik, titah Al-Jailani. Hadapi dengan penuh kebijaksanaan dan tak banyak komentar. Kecuali jika secara terang-terangan mereka melakukan maksiat dan melanggar ketentuan Allah, maka tidak ada kata diam, karena berdiam diri atas kemaksiatan haram hukumnya. Selama mampu melakukan amar makruf nahi munkar kerjakanlah. Di situlah ladang berbuat kebajikan telah terbuka lebar di depan Anda, sebab itu jangan disia-siakan. Bersegeralah lakukan sesuatu!
***