Mendongeng dengan Musik

Sofian Dwi
http://www.seputar-indonesia.com/

Dongeng kisah Cupak dan Gerantang dipentaskan ulang oleh puluhan anak di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pekan lalu. Sebuah pertunjukan untuk mengenalkan dongeng daerah kepada anak-anak melalui drama musikal.

Bagi warga Nusa Tenggara Barat (NTB) ataupun warga Bali, kisah Cupak dan Gerantang barangkali sudah tak asing lagi bagi sebagian anak. Orang tua kerap mendongengkan kisah dua anak berbeda karakter ini sejak masa kanak-kanak.Tak heran jika sebagian anak sudah paham betul dengan alur ceritanya.

Opera Jelajah Anak Indonesia (OJAI) membangun karakter Cupak dan Gerantang dalam sebuah drama musikal berbalut tari-tarian tradisional. Minggu (12/2) lalu drama musikal ini dimainkan puluhan anak, lengkap dengan narasi dari Tom Ibnur dan maestro tari Lombok Abdul Hamid. Beberapa kali mereka membawakan narasi dalam bahasa Lombok yang kental. Dalam drama musikal OJAI, Cupak dan Gerantang, dikisahkan tentang seorang pangeran Gatam yang baik hati, pintar, dan dermawan.

Ia ditemani oleh tukang kebun istana yang memiliki sifat iri dan culas.Tetapi,keduanya selalu saling mengingatkan ketika mereka khilaf. Di atas panggung, kisah dimulai manakala Putri Amora, putri sahabat ayah Gerantang, tiba-tiba hilang dari kerajaan langit.Dia diculik oleh seorang raksasa bernama Menaru ke Hutan Hitam di kerajaan bawah atau bumi. Putri Amora melarikan diri manakala ia tidak sependapat dengan ibunya yang terlalu memaksakan kehendak.

Raja Kerajaan Langit lantas meminta bantuan ayah pangeran Gatam.Karena sifatnya yang memang suka menolong, Pangeran Gatam menawarkan diri untuk membantu mencari ke hutan. Ia pun ditemani oleh seorang tukang kebun istana. Saat sedang mencari di hutan, keduanya bertemu Amak dan Inak Bangkol, pasangan yang belum mempunyai anak. Karena tersesat,keduanya lantas menginap di rumah pasangan suami-istri tersebut. Akan tetapi,mereka tidak mengaku sebagai putra kerajaan.

Mereka pun menyamar sebagai Cupak dan Gerantang.Keduanya lantas diangkat sebagai anak. Namun, karena Gerantang adalah Pangeran Gatam yang baik hati, sopan, dan jujur, dia kerap mendapat perlakukan yang baik dari penduduk Desa Sayang-Sayang. Karena itulah, Cupak merasakan ada perlakukan yang berbeda dari penduduk setempat sehingga Cupak yang panjang akal akhirnya hendak menjebak Gerantang. Tujuannya agar Gerantang diusir dari Desa Sayang- Sayang dan Cupak mendapat simpati dari warga. Rencana pun disusun.

Karena Gerantang sering memetik buah jeruk, kali ini Cupak membantu memetiknya.Tapi, dasar culas, ia pun menaruh ulat buah ke dalam keranjang sehingga buah jeruk yang semula segar mendadak penuh dengan ulat buah. Setelah Gerantang memberikan buahbuahan kepada penduduk kampung, mereka mendadak sakit, terutama anak-anak. Gerantang dipersalahkan.Gerantang pun diusir.Cupak menang. Tapi, apa yang terjadi kemudian, pekerjaan Gerantang dibebankan kepada Cupak. Pekerjaan Cupak makin berat, dia pun menyusul Gerantang ke dalam hutan untuk meminta kembali dan meminta maaf.

Ketika sampai di tengah hutan keduanya bertemu.Cupak meminta maaf. Di sinilah kisah menjadi seru, manakala mereka berdua bertemu Putri Amora dan Raksasa Menaru. Karena salah paham, mereka bertempur melawan Menaru. Setelah diusut,Putri Amora ternyata bukanlah diculik oleh Menaru,melainkan Putri Amora sengaja kabur bersama Menaru yang bisa berubah wujud menjelma sebagai monster yang menakutkan.

Atas bujukan Gerantang, Putri Amora dan Cupak akhirnya kembali ke kerajaan langit. Kisah asli dari dongeng ini sebenarnya penuh dengan perkelahian dan pertumpahan darah. Namun, karena drama musikal ini dimainkan oleh anak-anak, cerita pun disesuaikan. Sutradara pementasan ini, Randhy Prasetya, mengatakan, dia sedikit melakukan penyesuaian agar kisah ini bisa dinikmati anak-anak.

Salah satunya pesan moral Cupak dan Gerantang di mana mengandung pesan bahwa segala kejahatan itu pasti akan kembali kepada kebaikan. “Cupak sebenarnya kakak yang jahat. Kami menghindari hal itu.Namun, nilai yang memperlihatkan antara baik dan buruk tetap dipertahankan,” katanya.

19 February 2012