Menilik Buletin Sastra Mata Aksara

Nanang Rusmana

http://www.kompasiana.com/nanangrusmana

Percepatan perkembangan dunia IT memang seringkali merepotkan jika tidak dengan bijak menyikapinya dan dengan kecepatan yang setara dengan perkembangan dampak yang ditimbulkannya. Dunia menjadi sangat begitu sempit, begitu dekat, begitu cepat menerima akses informasi di manapun dan kapanpun. Jika dahulu mau berkomunikasi harus menunggu pak Pos datang mengantarkan surat selama beberapa hari, kini hanya dalam waktu hitungan detik surat sudah bisa sampai langsung kepada penerimanya. Beberapa efek negative dari perkembangan IT juga lebih cepat lagi sampai menuju kelompok masyarakat yang memang kurang bijak dalam mengelola produk teknologi IT. Masih ingat tentunya, beberapa saat lalu, ketika Menkominfo siap melakukan pencabutan ijin sebuah operator telepon seluler yang dapat dengan mudahnya mengupload dan mengunduh video berbau pornografi. Ada satu hal yang dilupakan dalam keputusan ini adalah, bahwa setiap produk IT, apapun namanya seperti pedang bermata dua, ada sisi negativ dan sisi positivenya.

Kehadiran Facebook dan Blog, dalam dunia sastra Indonesia, juga memiliki dua sisi yang jika terlambat mengantisipasinya, maka akan menghasilkan berbagai dampak yang tentunya tidak baik bagi perkembangan dunia Sastra Indonesia. Jika dibiarkan liar, maka akan menghasilkan sebuah era baru Sastra Indonesia yang sulit didefinisikan arah dan tujuannya. Kita ingat beberapa dekade ke belakang, hal serupa pernah terjadi kepada dunia Seni Rupa Indonesia, ketika masa Booming Post Modernisme melanda dunia Seni Rupa kita yang membuat sebuah “kekagetan” bahkan beberapa pelukis Senior geleng geleng kepala menyaksikan begitu besarnya dampak dari booming Post Modernisme. Dalam dunia Sastra Indonesia, Booming Sastra Facebook (Mata Aksara menyebutnya : Euforia sastra Facebook) akan memiliki dampak yang sama seperti dunia seni Rupa kita beberapa dekade ke belakang jika saja , kalangan terbatas yang merasa memiliki nasionalisme untuk tetap memajukan Sastra Indonesia dan Mumpuni dalam pengetahuan tentang Sastra , segera turun tangan dan berusaha memberikan arah terhadap perkembangan yang dinamakan Euforia Sastra Facebook.

Patut diberikan apresiasi yang tinggi, atas terbitnya edisi Perdana Buletin Sastra Mata Aksara. Sebuah nafas baru yang memberikan angin segar ke dalam sebuah ruang. Ketika setiap orang dapat dengan mudahnya mengakses dan mempublish sebuah karya di Facebook dan Blog, masalah yang terjadi adalah sebuah pertanyaan, sudah benarkah karya karya yang dipublish tersebut? layakkah untuk dijadikan bahan rujukan menjadi sebuah karya sastra? Mengingat begitu mudahnya dan pahamnya semua kalangan ketika mencari karya yang dinamakan Puisi, hanya dengan tuliskan di Google, maka tidak sampai dalam hitungan detik, layar komputer ataupun Handphone dengan mudahnya memberikan ratusan tulisan yang dinamakan Puisi. Puisi-puisi yang ditulis oleh berbagai kalangan dan berbagai latar belakang pendidikan , bahkan yang tak pernah bersinggungan dengan dunia sastra pun, bisa saja menuliskan dan mempublishnya lalu dinamakan Puisi. Tentu kita gembira dan bersyukur atas tingginya animo masyarakat ke dalam dunia sastra. Sebuah dunia dalam pengetahuan yang bagi sebagian orang memang sangat tak masuk dalam hitungan, bahkan dilirik pun oleh sebelah mata sungguh sangat menjijikan, katanya. Sejujurnya masih saja ada banyak generasi kita yang masih memiliki pandangan bahwa Sastra adalah rendah dan hina. Lebih terhormat , lebih bergengsi jika membicarakan teknologi, Ilmu, Science, asal bukan sastra, katanya. Terkadang, ketika saya sendiri menuliskan Puisi , cemoohan dan sindiran yang tajam dengan tanpa diberi aba aba bisa langsung dalam hitungan detik sampai ke telinga! itulah dunia kita, dunia yang penuh keganjilan dalam berbudaya. Sebagian orang menganggap budaya hanyalah : Teknologi dan Science.

Dilihat dari nama nama indah yang bertengger di halaman depan buletin ini, mulai dari Kang Maman S Mahayana , M Djoko Yuwono, Mas Handoko F Zainsam, Abah Yoyok, Novanka Raja, serta pak Dimas Arika Mihardja yang siap menjadi agen of change dari Jambi, Mas Imron Tohari yang apresiated atas terbitnya Buletin ini, Mas Ghufron Cholid yang siap sedia mengirimkan karya karya puisinya sebagai bentuk apresiated atas buletin sastra ini, saya yakin, Buletin Ini menjadi sebuah langkah baru yang akan membawa dampak yang baik dan mengawal perkembangan Sastra Indonesia kini dan masa akan datang. Memang masih terasa sangat awal untuk bisa dikatakan sebagai Agen Of Change, dan masih banyak waktu yang akan membuktikannya. Tetapi setidaknya, hal ini adalah sebuah langkah awal yang sangat positif dalam mengawal Euforia Sastra Facebook.

Melalui buletin Sastra ini, setidaknya, anda dapat memahami dengan bahasa yang ringkas bagaimana dan seperti apa karya sastra puisi ataupun cerpen yang baik yang sesuai dengan kaidah kaidah Sastra Indonesia.

Selamat Atas terbitnya Buletin Sastra Mata Aksara. Semoga melangkah jauh mengawal Sastra Indonesia selamanya. Salam Semangat !

Jakarta,17 – 04 – 2011
Dijumput dari: http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/04/17/menilik-buletin-sastra-mata-aksara/#