Menilik Kegelisahan pada Penulis Muda

Sartika Sari
http://www.analisadaily.com/

“saya merasa diri saya benar-benar seorang penyair: asyik bermain-main kata sampai di dalamnya tersusun dunia yang bermakna.” (Sapardi Djoko Darmono, Eneste 1984:134)

Begitu beragamnya kepuasan yang ditemukan ketika menjelmakan emosi dalam sebentuk puisi. Ya, salah satu karya sastra ini memang kerap menjadi wadah pelipur. Tentu saja, di baliknya setiap penulis memiliki dorongan psikologis yang tidak sama. Berbagai dorongan tersebut bisa saja muncul dari kondisi kejiwaan ataupun keadaan lingkungan yang kemudian menjadi inspirasi pada proses kreatifnya.

Bicara tentang proses kreatif kelahiran sebuah karya puisi, agaknya banyak keunikan yang ditemukan ketika membaca puisi-puisi yang ditulis oleh para penulis muda-rentang usia 17- 20 tahun. Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri jika akhirnya hal ini menjadi sebuah kejenuhan. Wajar saja, itu merupakan asumsi pribadi pembaca yang secara psikologis juga berada pada level yang berbeda-beda.

Membaca puisi-puisi remaja, seperti melihat kepolosan, kejujuran, bara emosi dan kesederhanaan yang menurut hemat saya sekali lagi sebagai suatu keunikan. Keadaan ini sejalan memang dengan kondisi psikis penulis muda yang cenderung berada dalam titik kegalauan dan masih labil. Di sana terdapat suatu keresahan lain yang muncul ketika secara pribadi menjadi penikmatnya. Ini berkaitan dengan motivasi dan imbasnya adalah pada keberlanjutan karya. Mengapa?

Dalam suatu pengamatan mini pada sesama rekan, saya mendapati kejujuran ikhwal latar belakang kemunculan sebuah puisi dan sebenarnya ini bukan sesuatu yang baru lagi.

“Menulis jika mood saja.” Anggapan demikian rasanya sudah tenar dan pada beberapa kalangan, menjadi sebuah kebiasaan. Hal ini juga kerap melanda para penulis muda berbakat. Empat dari lima penulis yang memberi keterangan, mengaku masih cenderung mengikut pada mood. Seperti jika pada situasi sunyi dan saat-saat sedih, bahagia dan kondisi hati yang terenyuh, barulah bisa mengalirkan sebuah puisi. Hal ini mengakibatkan intensitas menulis kerap terganggu karena mengalami kesulitan dalam menemukan ide untuk menulis. Tidak ada yang salah memang, karena menulis kapanpun, dimanapun adalah hak pribadi seorang penulis. Apa jadinya jika ketergantungan pada mood pada akhirnya akan menghambat kreatifitas?

Berlanjut pada wujud puisi. Secara sederhana, ketika diidentifikasi dengan berpijak pada pernyataan J. Ellema dalam petica (Noor, 2005:45). Tema-tema cinta birahi dan luapan emosi dalam puisi-puisi penulis muda (rentang usia 17-20 tahun) cenderung berada pada tingkatan kejiwaan anorganis yang merupakan tingkatan kejiwaan terendah. Pada tingkatan ini, bila tercipta dalam karya sastra berupa pola bunyi, irama, baris sajak, mengutamakan permainan diksi dan pemikiran ke depan tentang karya yang akan dibaca di depan panggung atau sekedar dibaca di dalam kamar.

Kemudian pada tingkatan kejiwaan vegetative yang merupakan tingkat kedua. Dalam karya sastra berupa rangkaian kata yang membentuk suasana mesra, senang, sedih dan sebagainya. Permainan bunyi kurang, tetapi sentuhan menggebu-gebu sering terjadi.

Masih dalam konteks membaca kegelisahan pada penulis muda. Dalam suatu kesempatan, Acep Zamzam Noor memberikan pandangan perihal kondisi penulis. Dia menyatakan, ada dua kondisi penulis. Penulis yang rajin dan penulis yang kreatif. Penulis yang rajin tentu sangat mengutamakan intensitas menulis. Berbeda halnya dengan penulis kreatif yang belum tentu rajin. Kondisi ini tentu berkaitan dengan kepribadian penulisnya. Dari suatu penelitian tentang pendapat para ahli psikologi Indonesia mengenai ciri-ciri kepribadian kreatif (Munandar, 1977) diperoleh urutan ciri-ciri sebagai berikut: (a) Imajinatif, (b) berprakasra (dapat memulai sesuatu sendiri), (c) mempunyai minat yang luas, (d) mandiri (bebas dalam berpikir), (e) rasa ingin tahu yang kuat, (f) kepetualangan, (g) penuh semangat, (h) percaya diri, (i) bersedia mengambil resiko, (j) berani dalam keyakinan.

Penulis muda adalah kantung-kantung imajinasi yang sangat potensial. Tentu jika benar-benar serius memasaknya. Sangat disayangkan jika kepotensialan itu dibiarkan terbenam. Kiranya kita butuh keseriusan berlatih dan kesungguhan dalam menulis.

Masalah mood, sebagai pribadi yang beranjak dewasa sepertinya kemampuan mengatur diri sudah mesti kita miliki. Termasuk dalam menulis. Lebih baik jika perlahan kita belajar menyadari bahwa segala sesuatu dapat dijadikan sebuah ide dan inspirasi untuk ditulis.

Jika hanya berdiam diri dan menanti ide datang, bahkan yang lebih parahnya tidak menyadari kedatangannya, tentu masing-masing kita merasakan kesukaran. Semua ini bertujuan agar nantinya, perjalanan menulis menemui hasil yang maksimal dan tidak menjadi musiman. Ya, bukan tidak mungkin pencapaian kekhusukan dalam puisi juga akan kita miliki.

Kembali lagi, semua punya pilihan. Menulis adalah kebebasan. Menjadi penulis yang rajin adalah hal yang sangat bagus. Penulis kreatif juga pilihan yang baik. Tetapi, bagaimana dengan penulis kreatif yag rajin? Luar biasa bukan?

12 Feb 2012