Menoleh Sejarah Sastra yang Terbungkam

Ahmad Ramlan
http://www.analisadaily.com/

Karya sastra yang baik selalu memberi pesan kepada pembaca untuk berbuat baik. Di samping sastra, filsafat dan agama juga mampu menumbuhkan jiwa humanis pada diri manusia, Budi Darma (dalam Purba, 2008: 26).

Karya sastra berperan besar dalam mempegaruhi kehidupan manusia. Pengaruh karya sastra tidak hanya tampak ketika pengarang masih hidup, bahkan ketika pengarang telah tiada. Karya sastra tidak berhenti pada teks, tetapi memiliki potensi luar biasa dalam mempengaruhi cara berpikir dan bertindak. Apalagi jika karya menjadi ikon sejarah yang menginspirasi lahirnya kesadaran dan sikap kritis berbentuk pergerakan, perjuangan, perlawanan, bahkan simbol kebebasan.

Supardi Djoko Damono, mengemukakan, di Rusia novel Doctor Zhivago karya Boris Pasternak, awalnya bebas dapat dibaca oleh siapa saja. Setelah dilarang karena penulisnya memberikan kritik tajam pada pemerintah. Sama halnya dengan Pasternak, Anna Akhmatova dan Alexander Solzhenitsyn pun mendapat kecaman dari pemerintah. Karena karya mereka dianggap tak sejalan dengan pemerintah, bahkan dianggap mengancam pemerintahan.

Kegeraman terhadap karya sastra juga menimpa Salman Rusdie, sastrawan Inggris keturunan Pakistan. Dia dituntut hukuman mati oleh Ayatullah Rohullah Khomeini, karena karyanya berjudul The Satanic Verses yang dianggap menghina agama dan umat Islam. Khomeni tidak sendiri, karena umat Muslim Pakistan bergerak bersama untuk mengutuk Rusdie. Justru Rusdie mendapat perlindungan dari pemerintah Inggris, atas karyanya.

Dalam sejarah sastra Arab dikenal pula sastrawan yang dianggap kontroversial, yaitu Najib al-Mahfudz. Karya sastra Mahfudz banyak mendapat kecaman dari berbagai kalangan, karena terus fokus pada protes dan kritik sosial yang dia gaungkan melalui karyanya. Karya sastranya banyak mengangkat tema pertentangan kemanusiaan yang dihadapkan pada masalah kerohanian.

Membungkam karya anak negeri

Di Indonesia juga mempunyai peristiwa heroik pemusnahan massal baik buku maupun karya sastra. Contoh, aksi pemusnahan karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Pram merupakan tokoh yang dibenci sekaligus diburu oleh rezim Soeharto. Pada zaman revolusi fisik Pram pernah dipenjara oleh Belanda di Bukit Duri (1947-1949). Karena keikutsertaannya dalam perjuangan.

Dimulai karya Pram berjudul Hoakiu Di Indonesia, pada masa pemerintahan Orde Lama. Larangan buku tersebut karena Pram dituduh berkhianat dengan menjual negara ke RRC. Ketika itu Menteri Luar Negeri Soebandrio sedang bermusuhan dengan RRC. Ide buku itu berangkat dari penindasan terhadap warga Tionghoa. Dengan PP No. 10 tahun 1958. Pemerintah melarang warga Tionghoa berdagang di desa-desa. Akhirnya sikap diskriminasi itu berujung pada pembunuhan warga Cina di Jawa Barat.

Larangan beredarnya karya Pram itu berlanjut sampai pemerintahan Orde Baru. Pram lama dipenjara (1967-1979) kurang lebih 11 tahun. Sebagai tahanan politik, dia pun dibuang ke Pulau Buru. Pemerintah Orba melarang karya Pram beredar di Indonesia. Segala yang berbau Pram dianggap membawa ajaran marxisme.

Semua kegiatan kesusastraan dianggap tidak sejalan dengan selera, sikap dan ideologi penguasa. Kemudian dipasifkan, dibungkam, hanya karena penguasa negeri ini tak berkenan terhadap penulis karyanya. Pelarangan itu justru membuat karyannya diterjemahkan dalam berbagai bahasa asing, yang beredar di mancanegara.

Karya Pram yang diterjemahkan antara lain: Cerita Dari Blora dalam bahasa Rusia tahun 1956, juga diterjemahkan dalam 18 bahasa asing lainnya. Selanjutnya Bumi Manusia, juga terbit di Australia, Amerika, Kanada dan Inggris. Gadis Pantai adalah karya yang sering dicetak ulang, sebanyak 14 kali di Belanda, hingga 1995. Judul yang banyak dicetak ulang antara lain: Tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca.

Tetralogi Bumi Manusia juga hampir tak dapat diselamatkan seperti karya Pram lainnya yang dibakar oleh tentara. Jasa Max Lane, seorang pastor Jerman warganegara Australia, berhasil menyelundupkan Tetralogi Bumi Manusia dan menerbitkan di luar negeri. Tak heran jika Pram pernah berkata, “Karya saya sudah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa, tapi saya tidak pernah dihargai di Indonesia.”

Pahitnya perjalanan dan semua itu dibalas dengan karya besar yang mampu menembus dunia. Dari penjara inilah karyanya dikenal sampai luar negeri. Pram memang ditakdirkan untuk menulis. Di penjara sekalipun baginya tak ada kata berhenti untuk menulis. Termasuk mencari cara untuk bisa menulis. Saat di Bukit Duri larangan bagi tahanan untuk menulis.

Konon Pram mencari cara untuk bisa menulis dalam penjara, yaitu memakai arang yang diruncingkan. Dia menulis sambil jongkok di atas kaleng margarine, beralaskan sepotong papan dan meja ambin yang bisa digunakan untuk tempat tidur. Dia pun menulis, kala malam terungkap di ambin tempat tidurnya dengan penerangan pelita.

Pram adalah seorang humanis dan nasionalis. Dia sangat cinta kepada kemanusiaan dan bangsanya. Karya-karyanya selalu membela kemanusiaan, tentang anak bangsa karena penjajahan dan penindasan. Dari kecintaanya pada kemanusiaan ini, lahirlah karya Pemburuan, Keluarga Gerilya, Gadis Pantai, dan Di Tepi Kali Bekasi.

Gadis Pantai, termasuk karya yang belum rampung digarap. Karena Gadis Pantai terdiri dari III jilid, hanya satu yang selamat (jilid I), sedangkan jilid II dan III raib akibat vandalisme politik 1965. Sayangnya bagian yang tersisa (jilid I), juga sempat dihangus oleh keputusan Jaksa Agung rezim Orba pada 1987.

Gadis Pantai merupakan novel yang mengisahkan tentang imajinasi Pram terhadap sosok nenek dari pihak ibu. Seorang nenek yang mandiri dan sangat dicintainya itu sungguh memukau. Dalam novel itu, juga disuguhi pengalan sejarah bangsa ini.

Sebuah masyarakat feodalistis yang kelewat kental, gaya pemerintahan otoriter, disajikan secara apik dan apa adanya. Trilogi Gadis Pantai rampung ditulis Pram tahun 1962. Apa daya baru jilid I yang diterbitkan, sebagai cerita bersambung pada surat kabar Lentera pada 1962-1965. Jilid II Gadis Pantai bercerita tentang perjuangan kaum nasionalis dan jilid III berkisah tentang perjuangan kemerdekaan (Bramma, 2010: 144).

Malang memang nasib Gadis Pantai, yang justru diselamatkan negara tetangga. Naskah tersebut yang dalam edisi pembebasan itu, didapat dari dokumentasi Australian National University (ANU), dalam bentuk fotokopi mikrofilm. Hal ini menandakan betapa negara lain sangat menghargai karya anak negeri, padahal saat itu sedang terjadi pemusnahan massal di Indonesia.

Hal senada juga dialami oleh penulis dan penyair lainnya. Ki Pandjikusmin dan WS Rendra, yang juga mengalaminya. Ki Pandjikusmin dengan cerpennya Langit Makin Mendung, mendapat kecaman dari pemerintah dan dituntut untuk diadili 1968. Karyanya dianggap menyinggung sendi-sendi kepercayaan agama. Juga menyebabkan B.H. Jassin ikut diseret ke pengadilan pada 1969-1970.

Pelarangan dan pencekalan pun mewarnai WS Rendra. Dia sempat menghebohkan khalayak ketika menyelenggarakan “Perkemahan Kaum Urakkan”, di Parangtritis, Yogyakarta, Oktober 1971. Pada 1973, Rendra menghebohkan kembali dengan pementasan drama Mastodon dan Burung Kondor, di tengah maraknya gerak protes mahasiswa. Pementasan itu menggemparkan karena berisi kritik sosial tajam dan amat berani menurut ukuran masa itu. Sampai lahir gelombang reformasi, yang membuat karya sastra dapat terbit dengan bebas.

* * *

Peran dan cita-cita nasional telah diekspresikan oleh pengarang Indonesia dalam bentuk puisi, cerpen, novel, dan drama. Jauh sebelum Sumpah Pemuda dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945. Mulai era kolonial sampai reformasi, yang terus diekspresikan dalam karya tulis/ sastra. Begitulah peran tentang sebuah karya dan jerih payah mereka untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan.

Hal ini menggambarkan tentang kekuasaan pemerintahan yang otoriter, yang acap menghalalkan segala cara untuk menyelesaikan masalah, menjadi ciri khas meski sering dibalut dengan senyuman. Alangkah bijaknya jika masyarakat dan pemerintah ramai-ramai mencari serta mengumpulkan karya anak negeri yang pernah disita oleh rezim Orde Lama dan Orde Baru. Seperti puisi, cerpen, novel dan naskah drama, kemudian menerbitkannya kembali sebanyak-banyaknya. Semua itu merupakan aset karya anak negeri dan khasanah berharga sastra, yang patut dijaga.

Generasi penerus bangsa ini, tentu membutuhkan gambaran yang utuh tentang sejarah bangsa ini. Penting dirasa memeberikan karya sastra yang utuh pada siswa di sekolah, seperti puisi, cerpen, dan novel (karya Pram misalnya).

Bukankah kita selalu mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya sendiri. Betapa pun pahitnya sejarah itu, yang jelas merupakan pelajaran berharga bagi masa depan bangsa ini kelak. Kita harus membuktikannya dengan sejati. Bukan untuk menutup luka lama, yang tersimpan di dada.

Pemaparan di atas memberi gambaran peranan sastra dalam menjaga kedamaian hidup. Pada rezim pemerintahan Indonesia saat ini, berpeluang untuk terus meneriakan suara lantang, bagi para hunamis. Khususnya yang mengeluti dunia sastra, dalam memperjuangkan bangsa ini. Diperlukan pemikiran yang revolusioner, agar sejarah pembungkaman tak terulang kembali.

*) Penulis, mahasiswa FBS UNIMED. /20 Jun 2011