Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia

Katrin Bandel *
http://boemipoetra.wordpress.com/

Berakhirnya Orde Baru membawa perubahan yang cukup berarti bagi dunia penerbitan di Indonesia. Antara lain, pasar buku kini diramaikan dengan berbagai macam buku yang pada zaman Orde Baru sulit atau tidak mungkin diterbitkan. Buku-buku lama yang disingkirkan penguasa kini diterbitkan kembali, buku-buku baru dengan tema yang sebelumnya dianggap tabu, bermunculan. Continue reading “Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia”

Warung, Kalung, Tenung

Jusuf An
kompasiana.com/jusuf_an

Siapapun bisa memulai usaha warung kelontong meski dengan modal sedikit. Sungguh gampang. Kerjanya cuma kulakan ke pasar, menunggu dan melayani pembeli, dan bisa membuka dan menutup warung sesuka hati. Cukup buka warungnya, layani pembeli dengan santun, tetap tersenyum meski dagangan diutang, maka usaha kita akan dapat bertahan lama. Ya, siapa pun bisa melakukannya. Tetapi di kampung kecil macam ini, ada saja yang tega membuka warung baru persis di sebelah warung yang telah sepuluh tahun lamanya berdiri. Continue reading “Warung, Kalung, Tenung”

Bidadariku

Daisy Priyanti
suarakarya-online.com

Semenjak kematian ibu dan ayah, aku hanya hidup berdua dengan Ri. Dua adik perempuanku yang lain, Lily dan Nan, ikut tewas dalam kecelakaan itu. Kalau saja Senin pagi itu aku tidak menghadiri pemakaman kakek, tentu tubuhku akan hancur terbakar pula seperti mereka. Continue reading “Bidadariku”

Jeng Niniek dan Mas Apung

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Ini kisah yang unik yang kuharap tidak akan terjadi pada diriku. Aku tidak pernah menduga hal ini bisa terjadi, tetapi pada suatu malam aku dibikin terbengong-bengong dengan sebuah panggilan telpon melalui HP ku yang bukan blackberry, apalagi telpon genggamku itu berwarna kuning. Aku memegangnya di tangan kiri dan mendengarkan ocehan dari seberang sana dengan telinga kiri. Continue reading “Jeng Niniek dan Mas Apung”

Tradisi dan Bakat Individu

Saut Situmorang

Seorang komentator sastra dari Jakarta, Nirwan Dewanto, pernah membuat pernyataan asersif bahwa novelis Ayu Utami tidak terlahir dari sejarah sastra Indonesia. Latar-belakang pembuatan klaim ini, mudah kita duga, adalah reaksi luar biasa yang timbul dalam sastra Indonesia setelah publikasi novel pertama Ayu, Saman, dari kalangan “kritikus” sastra di Indonesia, yang dalam komentar mereka rata-rata memakai istilah-istilah superlatif seperti “dahsyat”, Continue reading “Tradisi dan Bakat Individu”

Bahasa »