RR Miranda
http://www.suarakarya-online.com/

Sore hari. Dingin.Maklum, hujan baru saja mengguyur bumi. Tidak ada senja yang kuning keemasan, yang ada langit sedikit lebam. Di dekat jendela, disebuah lantai gedung pencakar langit, Retno asyik mengisap sebatang rokok. Sesekali ia mengisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya perlahan-lahan. Pandangan matanya menembus jendela, mengamati kendaraan yang memadati jalanan kota. Sementara di pinggangnya, melingkar tangan Ferdy.
“Sayang,aku akan segera menceraikan istriku,” bisik lelaki itu.
“Benarkah?”
“Yup. Sudah final.”
“Hal itu sudah sering kau ucapkan,”
“Tapi kali ini sungguh-sungguh.”

Retno mematikan rokok. Sesaat kemudian, ia berbalik badan dan menatap Ferdy. Lelaki berkumis itu balas menatap. Hanya tatapan mereka berdua berbeda. Dari tatapan Retno, melesat ribuan anak panah. Sementara tatapan Ferdy adalah ruang hampa.
“Aku serius. Setelah itu kita menikah.”
“Aku juga menginginkan itu.”
“Tunggu saja, akhir bulan ini sudah beres.”

Retno tersenyum getir. Maklum, bukan sekali ini ia mendengar janji manis itu. Janji-janji bertabur bintang yang keluar dari mulut Ferdy sudah sering ia denger.
“Janji yang manis, gampang diucapkan,”
“Ya, aku tahu, tapi kali ini aku serius.”

Beberapa saat Retno terdiam lagi. Kedua bola matanya bergantian menyerang mata Ferdy, lelaki yang sudah menjadi suami sahabatnya, Salma. Ia mencoba menggali apa yang tersembunyi di dalam mata lelaki yang sering membuatnya gelisah itu.
“Baik. ini yang terakhir…”

“Terima kasih sayang. Kamu memang wanita terbaik.” Kedua telapak tangan Ferdy mengusap-usap lengan Retno. Wajah Ferdy cerah. Maklum, baru saja ia meruntuhkan benteng pertahanan Retno, perempuan yang telah membuat hatinya becabang.
“Tapi aku gak mau merebut suami orang. Apalagi suami sahabatku sendiri.”
“Tidak sayang, aku yang menginginkanmu.”
“Aku bisa dinilai perusak rumah tangga.”
“Sayang, jauh sebelum kita bertemu, pernikahan kami sudah hancur. Aku tidak bahagia.”
“Aneh. Tidak bahagia bisa bertahan lima tahun.”

Retno merajuk. Kesal. Cemburu dan manja mengalir dalam suara lirihnya. Ferdy menarik napas panjang. Biasanya bila kekasihnya merajuk, wajahnya memerah, tatap matanya redup, namun mengeluarkan energi magnet yang tak dapat ditolak. Ferdy menyukai keadaan itu.

“Jangan begitu dong. Masalahnya rumit. Kini aku sadar, aku telah salah memilih Salma sebagai istriku. Aku terpaksa menikahinya karena desakan.”
“Terpaksa bagaimana?”

“Desakan orangtua. Mereka sangat ingin menimang cucu. Maklum aku anak sulung, usiaku tidak muda lagi.Mareka takut aku terus membujang.”
“Alasan yang dibuat-buat… ”

“Sudah deh, masalah itu rumit. Aku harus membahagiakan orang tuaku, tapi sebenarnya aku juga ingin menikmati jalan pikiranku sendiri. Tapi aku tidak tahu jalan keluarnya.”
“Ya sudah kalau begitu.”
“Maksudmu?”

Loh, katanya aku harus percaya kalau kamu akan menceraikan istrimu.kalau rumahtanggamu tidak bahagia. Kamu nikah bukan karena kehendakmu, kalau…”

Sebuah sentuhan lembut mendarat di bibir Retno. Sentuhan bibir dari lelaki yang tak pernah bisa ia tolak keinginannya.

* * *

Matahari seolah sengaja mencengkerankan jarinya di pungung kota. Handoyo bergegas keluar dari mobil sedan yang baru diparkirnya. Bahkan ia tak sempat menutup kembali pintu mobilnya.

“Tunggu. Kamu jangan emosi begitu dong.”
Oh, rupanya pria setengah baya itu tengah mengejar Retno, istrinya, yang lebih dulu turun dari mobil.
“Pokoknya saya minta cerai. Titik.”
“Memangnya ada apa? Kita bicarakan masalahnya.”
“Semua sudah jelas.”
“Apanya yang jelas?”
“Mas nggak sayang lagi.”
“Kata siapa? Jangan nuduh sembarangan.”
“Buktinya Mas jarang pulang.”
“Aku kan sibuk ngurus banyak proyek di daerah.”
“Alasan. Dulu juga Mas banyak proyek, tapi pulang. Sekarang kok jarang pulang.”
“Sekarang Mas menghandle proyek besar milik Asing. Jadi waktu harus lebh banyak di lapangan.”

Air muka Retno tak berubah, dingin, tak acuh dengan penjelasan Handoyo. Malah seolah ia tengah mempersiapkan senjata dan perisai di tangannya.
“Mas bohong. Saya merasakan sesuatu yang beda.”
Retno menggeser duduknya menjauhi Handoyo yang berupaya mendekatinya. “Mas punya istri baru, kan?”

Handoyo terkejut. Ia merasakan sebuah tombak beracun menancap di jantungnya. Namun perasaan itu diredamnya. Ia mengatur napasnya. “Ngawur kamu.”
“Tapi benar kan Mas sudah nikah lagi di daerah?”
“Curigamu itu jangan berlebihan. Aku sudah tua.”
“Iya tua tua keladi.Mentang mentangpoligami digembar-gemborkan kembali,Mas seolah dapat angin.”

Lelaki yang suah beruban itu terdiam. Ia meregangkan ikatan dasi yang masih melilit lehernya. Tatapannya tak lepas dari Retno, perempuan yang lebih pantas menjadi anaknya.
“Bener kan Mas punya istri baru?”

Kali ini Handoyo tidak mengelak. “Tapi aku kan bisa adil, bertanggungjawab. Kebutuhanmu tetep terpenuhi. Lagian, cuma kamu perempuan yang aku sayangi.”
“Sudah deh, dimana-mana sama.Lelaki suka gombal.”
“Sungguh. Cuma kamu perempuan yang ada di hatiku.”
“Simpen aja rayuan itu,Mas!”

Leher Handoyo merasa tercekik. Urat-urat yang ada di lehernya menyempit. Lehernya tercekik, lalu terlilit sikap Retno yang terus berubah drastis

Retno, istrinya yang selalu ia rindukan, telah banyak berubah, jauh dari Retno saat pertama ia kenal. Tidak ada lagi Retno yang mesra, manja dan kekanakan.
“Sayang kamu telah berubah. Tidak seperti dulu.”
“Namanya orang hidup, pasti berubah, Mas.”
“Ya, tapi perubahanmu jauh sekali…”

“Terserah pendapat Mas. saya memang perempuan. Tapi saya punya harga diri, tidak ingin terus dinjak-injak dan dirugikan.”
“Dirugikan siapa? Kebutuhan kamu semua terpenuhi.”

“Mas pikir cukup puas dengan materi saja? Mas, saya juga butuh kasih sayang dari Mas. Tapi sepertinya saya sudah tidak bisa mengharapkan lagi. hati dan kasih sayang Mas sudah buat yang lain.”

Suara Retno bergetar. Tampak di kedua sudut matanya rembesan air. Garis lingkar kelopaknya memerah. Handoyo salah tingkah. Bingung melihat Retno bersedih.
“Baiklah aku akan sering pulang buatmu.”
“Maaf, saya sudah telanjur ingin pisah.”
“Masak, kamu tega. Aku kan masih sayang kamu.”
“Telanjur,Mas. Tadi pagi saya sudah daftarkan gugatan cerai di pengadilan agama.”

Handoyo bengong. Ia tak mempercayai apa yang didengarnya. Kini di lehernya terdapat bongkahan batu yang mengganjal pernapasannya. Sesak. Lelaki yang mulai keriput di garus matanya itu tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Bahkan ia sangat tidak percaya ketika Retno berdiri lalu pergi ke kamarnya tanpa sedikit pun menoleh kepada dirinya.
* * *

Pagi hari yang cerah. Matahari baru sedikit memperlihatkan senyumnya. Wajah Retno juga demikian. Bahkan lebih cerah dari pagi yang berpelangi. Apalagi saat terdengar suara mesin sebuah mobil memasuki pekarangan rumahnya. Retno berjalan setengah melayang, bergegas menuju pintu rumah. Rupanya Ferdy yang datang. Retno membuka pintu dengan senyuman.
“Kita jadi menikah, kan?”
Ferdi tak acuh. Ia berjalan menaiki teras rumah.
“Kok, diam saja? Mas, kita jadi menikah,kan? Retno mengulangi pertanyaan yang sama.

Ferdy yang berdiri di depan pintu bergeming. Wajahnya tanpa ekspresi. Matanya mencoba menghindari tatapan Retno.Bola matanya mencoba berlari jauh.
“Sepertinya tidak.”

Retno kaget bukan main. Ia seolah mendengar bunyi geledek yqng menggelegar persis di telinganya. Perlahan, senyumannya lenyap.
“Kenapa?”
“Rencana kita tidak bisa kita wujudkan.”
“Kok bisa?”
“Aku tidak tega menceraikan istriku.”

Retno merasa bumi yang dipijaknya berputar ssngat cepat tidak karuan. Langit pagi yang biru berubah jadi ungu. Pangi yang cerah menjelma jadi badai dahsyat. Retno terempas jauh ke awang-awang.
“Maafkan aku, semua tidak sesuai dengan rencana.”

Kini Retno tertunduk. Layu, bagai bunga yang tidak pernah disiram. Aliran darah di tubuhnya tiba-tiba berhenti dan membeku. Hanya, tampak di tepian matanya rembesan air kesedihan.
Bendungan jiwa Retno mulai rapuh, dan siap memuntahkan air bah kekecewaan.

“Sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak bisa mewujudkan mimpi indah kita. Hatiku ternyata hanya untuk Salma, meski aku tak bisa melupakanmu.”
“Tempo hari kamu tidak bilang begitu,” Retno berpura-pura tegar.

“Memang. Tapi setelah aku renungkan, Salma telah banyak berkorban. Ia mengorbankan hati dan kebahagiaannya untuk aku. Lelaki yang tidak tahu diri. Ternyata pengorbanan cinta itu memang indah.”
“Tapi aku juga sudah berkorban. Aku telah menyingkirkan semua penghalang rencana kita.”
“Sayang, mungkin benar kata pepatah. Cinta itu perlu pengorbanan.”
“Kamu lelaki yang tega, tak punya perasaan.”

Retno menutup muka dengan kedua tangannya. Namun jari-jarinya yang lentik itu tak mampu menahan derasnya air matanya.
Retno menangis terisak.

“Lama kusadari kalau sesungguhnya istriku seorang perempuan hebat dan tangguh. Selama ini aku sering mengkhianatinya, tapi ia tetap saja bersabar dan tetap memberikan yang terbaik. Sekalipun aku sengaja menyakitinya, ia tetap melayani. Ia tetap tersenyum manis. Akhirnya aku malu hati sendiri.”

Ferdy berbalik lalu meninggalkan Retno. Langkah Ferdy perlahan, namun pasti, turun dari teras rumah. Ia tak menolah lagi kepada Retno. Suara deru mesin mobil Ferdy lama kelamaan menghilang jauh dari pekarangan rumah Retno. Sementara Retno tetap menangis. Dan tak seorang pun tahu kapan Retno akan berhenti menangis. ***

/28 Januari 2012

Categories: Cerpen