PPH: Kisah Tragis dari Lampung

Khudori Husnan *
http://www.kompasiana.com/draimatari
Judul : Perempuan Penunggang Harimau
Penulis : Muhammad Harya Ramdhoni
Penerbit : BE Press
Tahun Terbit : Januari 2011

Berlatar sejarah provinsi Lampung periode awal, novel ini menegaskan kembali arti penting tragedi dalam seni bertutur. Tragedi dimaknai sebagai pertarungan dua kekuatan dahsyat yang satu sama lainnya berupaya saling membinasakan. Tiap-tiap kekuatan mencerminkan keseimbangan kebaikan dan kejahatan. Tragedi dalam novel dituturkan secara apik dengan mengemas secara berimbang dendam, intrik, cinta, kesetiaan, pengkhianatan, dan peperangan.

Tragedi menurut filosof dan sastrawan Albert Camus lahir ketika pendulum peradaban berada pada pertengahan antara masyarakat yang mengalami penyucian di satu pihak dan sebuah masyarakat baru hendak diciptakan di lain pihaknya. Tragedi, oleh karenanya, menandai suatu tahapan transisi historis krusial.

Para pelaku dalam tragedi berikhtiar untuk dapat meloloskan diri dari kerangkeng tatanan peradaban lama dan berusaha menggapai tatanan baru yang dapat memuaskan hasrat-hasratnya. Tewasnya Sekeghumong, ratu Sekala Bgha di tangan salah seorang pengikut ajaran “Jalan Yang Lurus” sebagaimana dikisahkan di novel ini dan menjadi nafas hampir keseluruhan isi novel, menandai suatu periode baru yang disimbolkan dengan diubahnya nama Ibu Negeri Sekala Bgha dari Bunuk Tenuar menjadi Al Liwa.

Tragedi adalah narasi panjang ihwal kemenduaan. Di satu sisi ia bersisi pengalaman akan kenestapaan tapi di sisi lain memuat kabar gembira. Dalam suatu pengalaman tragis manusia menyadari hakikat dirinya sebagai mahluk bermuka ganda; di satu pihak tak berdaya dan rapuh tapi di lain pihak ia mampu mencapai keagungan dan kejayaan baru.

“Pepuing lama tak menyisakan apa pun selain kesedihan berkepanjangan disebabkan segala kebesaran telah direnggut paksa. Tamadun kuno itu diinjak-injak tanpa ampun. Kasta dilenyapkan, perhambaan ditegah dan isak tangis rakyat jelata yang dipaksa beralih Tuhan terdengar menyayat hati. Juga kisah orang-orang pemberani yang menolak meninggalkan agama dan igama leluhur.” (hal. 485)

Kisah tragis itu bermula ketika perempuan penunggang harimau karena kepongahannya terlibat dalam suatu pertikaian mendalam dengan tatanan ilahi, dengan apa yang diyakini sebagai leluhur. “Leluhur telah lama menujum bahwa masa berkuasa Sekala tinggal setabuh canang. Perempuan penunggang harimau tak hirau. Ia tepikan isyarat abu.” (hal. 177)

Sekeghumong akhirnya luluh-lantak oleh kekuatan-kekuatan yang oleh dirinya sendiri tak dapat dipahami dan diterima sepenuhnya tetapi pada saat bersamaan tak dapat diatasi melalui suatu pertimbangan-pertimbangan taktis dan strategis.

Dari segi substansi novel ini memuat unsur-unsur paling penting dari tragedi (misalnya seperti diterangkan Dorothea Krook dalam Elements of Tragedy, 1969) pertama suatu laku mencemooh tatanan moralitas, kedua penderitaan demi suatu laku penyelamatan, ketiga kebajikan yang bermuasal dari penderitaan, keempat penerimaan akan martabat kemanusiaan serta pengakuan akan adanya suatu tatanan moralitas keilahiahan.

Keunggulan novel ini penulis novel tak semata mengandalkan imajinasi dalam proses kreatifnya. Reaksi dan penggambaran tokoh-tokoh dalam novel direka mengacu pada data-data historis jadi bersesuaian dengan latar belakang kejadian sebenarnya.

Sayangnya hasrat untuk menyusun pemaparan realistis sering kali justru melahirkan uraian terlalu panjang dengan menginjeksikan istilah-istilah konseptual seperti “legendaris” (hal. 90) “imajinasi” (hal. 91), “peradaban” dan “bermutu tinggi” (98), “segenap energi positif” (203) “fanatik” (414) dan “histeria” (hal. 442).

Kendati demikian, terlepas dari beberapa kelemahan teknis tersebut, di tengah kurangnya novel-novel bergenre tragedi novel ini penting dibaca tak hanya oleh para pecinta novel di tanah air tapi juga oleh para sejarawan yang memusatkan perhatian pada pra-sejarah Lampung.

28 November 2011
*) pembaca, penerjemah, penulis dan pegiat di http://jakartaesque.blogspot.com
Dijumput dari: http://media.kompasiana.com/buku/2011/11/28/pph-kisah-tragis-dari-lampung/