Puisi-Puisi Dody Kristianto

__Seputar Indonesia, 29 Mei 2011
Kunang

sepelik babon para padri,
ia pasti kembali
meratapi lampu mati
sampai ia tikam
semua yang pergi
untuk jubah api
yang tak kunjung
ia dapati

Makam

telentang tenang
setabah badan rembulan
tapi sekilap pedang
bosan menunggunya
tubuh terakhir
di persimpangan

Mabuk

rumah mambang
di muka kami
sungguh tenang
teramat lengang
di tengah kolam
dalam badan kami

tapi benar
hanya bangau, sekawanan,
penghuni kitab kami
sedang terbang ke bulan

hingga
selindapan hujan
yang serumit
bimbang
dalam doa kami
tak jadi digemparkan
tak jadi digegarkan
di atas otak kami
yang menerus kejang

Pening

Bintang-bintang tumbang di atas kepala
kota melangkah, pepohon menjulurkan lidah
ke dalam tanah

sepasang tatap terkelupas lepas
melebihi sekawanan telur kumbang
yang menetas sendiri di keheningan kolam

Pusing

berapa panjang jarak menuju kata
berapa kata tertinggal di tengah kota
berapa kota telah karam pada tatap mata
tatap yang menyimpan segala jarak
ikan-ikan berloncatan kepada kata
kata meriang yang alpa pada rumah.