Sastra dan Respons Estetik Pembaca

Donny Syofyan
http://padangekspres.co.id/

Teks hanya punya arti bila ia dibaca. Karena itu, membaca adalah prasyarat penting bagi segenap proses interpretasi sastra. Titik sentral dalam pembacaan karya sastra adalah interaksi antara struktur karya tersebut dan penerima atau pembaca. Tidak mungkin untuk mendeskripsikan tanggapan pembaca tanpa menganalisis proses pembacaannya. Dalam hal ini, pembacaan terhadap teks menjadi sesuatu yang amat penting.

Menurut teori fenomenologis, kajian terhadap karya sastra bukan sekadar teks aktual tapi juga tindakan yang terlibat dalam merespon teks tersebut. Secara sederhana, karya sastra punya dua kutub; artistik dan estetik. Kutub artistik berkenaan dengan teks penulis, dan yang estetik terkait dengan konkretisasi yang diperoleh pembaca.

Persyaratan utama memahami interaksi teks dan pembaca bisa dilihat pada dua struktur utama dalam fiksi, yakni verbal dan afektif. Aspek verbal berfungsi untuk memandu reaksi dan mencegah terjadinya kecenderungan arbiter, adapun aspek afektif dalam rangka pemenuhan apa yang telah dibentuk sebelumnya oleh bahasa teks. Efek estetik dalam pembacaan menyatakan bahwa makna suatu teks bukanlah entitas yang bisa didefinisikan tapi suatu peristiwa yang dinamis.

Karenanya tugas seorang penerjemah harus melibatkan efek potensial yang muncul bukan sekadar terhimpit pada satu teks saja. Pola interpretasi tradisional hanya berdasarkan pencarian makna tunggal yang berdampak bukan saja mengabaikan karakter sebuah teks sebagai suatu peristiwa tapi juga pengalaman pembaca yang diaktifkan oleh peristiwa tersebut.

Resiko yang dihadapi oleh penganut teori respons estetik adalah munculnya bentuk subyektivisme yang tak terkendali atau kesembarangan yang subyektif. Tren ini berakibat timbulnya sifat dan kecenderungan judgemental dalam menilai suatu karya sastra, seperti mengatakan suatu karya bagus atau tidak. Sebagai misal, bagaimana bisa rasa sayang dan benci timbul bersamaan ketika membaca Paradise Lost? Padahal objeknya sama. Penekanan yang berlebihan pada efek yang dihasilkan suatu karya sastra terhadap pembaca akan memebentuk apa yang yang dinamakan “Affective Fallacy”, suatu kerancuan dan kebingungan yang lahir antara suatu makna yang hadir (represented meaning) dalam karya sastra dan akibat yang dihasilkannya (potential effect). Namun keduanya dianggap sah karena bekerja dalam proses pendefinisian suatu karya sastra meskipun teradinya pengabaian konkretisasi. Boleh jadi signifikansi dan makna karya sastra itu sendiri menjadi hilang. Ada berbagai pembaca berkaitan dengan efek yang dilahirkan suatu karya sastra dan respons yang muncul atasnya.

Pertama, pembaca sebenarnya (real reader). Pembaca yang menerima dan membangun citra mental tertentu tatkala membaca suatu karya sastra. Pembaca jenis ini muncul dalam pengkajian sejarah tanggapan-tanggapan, yakni ketika perhatian studi sastra dipusatkan pada cara karya sastra yang diterima oleh masyarakat pembaca khusus. Kategori pembaca yang sebenarnya telah mendapatkan perhatian besar selama ini.Biasanya tanggapan pembaca kontemporer dikaji dalam penelitian eksperimental, yang secara material berbeda dengan pengkajian terhadap pembaca ideal dan pembaca implisit.

Pembaca sebenarnya pada umumnya terlihat pada kajian-kajian sejarah tanggapan. Apapun tanggapan pembaca pada pelbagai dimensi ruang dan waktu amat dipengaruhi norma-norma yang berlaku saat itu, terlepas dari kenyataan bahwa karya sastra memiliki kode budaya dari suatu masyarakat. Tentu saja kajian terhadap pembaca nyata ini sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dokumentasi sehingga reaksi-reaksi historis itu bisa terbaca dan terpantau.

Kedua, pembaca hipotesis (hypothetical reader), dibagi menjadi dua; pembaca ideal (ideal reader) dan pembaca kontemporer (contemporary reader). Pembaca ideal dipersepsikan adalah penulis sendiri. Hanya saja gagasan ini kerap dibantah karena proses pembacaan melibatkan komunikasi dan berbagi antara pengirim dan penerima pesan. Sementara proses sharing ini tak mungkin terjadi karena penulis sudah mengetahui apa yang ditulisnya. Komunikasi hanya berlangsung mulus bila proses take and give berjalan dengan baik. Bila salah satu pihak sudah tak bisa lagi menerima karena sudah memiliki wawasan atau mengetahui apa yang akan diterimanya, maka mustahil komunikasi akan berlangsung. Karenanya pembaca ideal dianggap fiksional.

Tidak gampang membuat suatu kriteria tentang dari dan di mana pembaca ideal itu. Walaupun ada juga kecenderungan untuk mengatakan bahwa pembaca ideal itu berasal dari kalangan filolog, orang terpelajar, dan kritikus itu sendiri. Walaupun menurut pertimbangan lain bahwa pembaca ideal itu suatu hal yang secara struktural tidak mungkin ada sejauh komunikasi sastra itu dilakukan, pembaca ideal merupakan sebuah konstruksi hipotetis yang dibentuk oleh seorang kritikus (teoretikus) dalam proses interpretasi. Pembaca jenis ini mungkin dibentuk oleh seorang penulis, misalnya ketika ia merencanakan alur. Konsep pembaca ideal ini dengan konsep superreader-nya Riffaterre, yaitu kelompok informan yang selalu muncul bersama-sama pada isyarat dalam teks, dan dengan demikian terbentuk melalui reaksi-reaksi umum mereka atas keberadaan satu fakta stilistika. Superreader seperti halnya tongkat pendeteksi yang digunakan untuk menemukan kadar potensi makna yang dikodekan teks.

Seorang pembaca ideal harus memiliki sebuah kode yang identik dengan kode pengarang. Para pengarang, bagaimanapun, secara umum mengodekan kembali kode-kode umum yang berlaku di dalam teks mereka, dan dengan pembaca ideal akan juga membagi perhatian berdasar proses ini. Jika hal ini dapat terjadi, maka komunikasi akan menjadi sangat berlebihan karena seseorang hanya akan mengomunikasikan sesuatu yang belum dibagi oleh pengirim dan penerima.

Pembaca kontemporer dikelompokkan menjadi beberapa tipe: pembaca real dan historis yang terkonstruksi dari pengetahuan sosial dan historis suatu waktu; kedua adalah pembaca hipotetis yang diramalkan atau diperhitungkan dari peran pembaca yang ditetapkan atau tersimpan di dalam teks yang hampir berlawanan secara diametris dengan pembaca kontemporer adalah pembaca ideal.

Menurut teori psikoanalisis, pembaca dilihat sebagai orang yang bermimpi atau berfantasi dalam proses pembacaan sehingga proses pembacaan tersebut menjadi sarana pemenuhan keinginan seseorang. Dengan demikian, resepsi pembaca amat ditentukan oleh budaya pembaca. Artinya, mimpi ini amat tergantung pada latar belakang budaya. Misalnya, film Star Wars yang sukses di Amerika biasa-biasa saja di Indonesia. Hal ini karena unsur-unsur dalam cerita, semisal unsur sinematografik tidak menimbulkan mimpi-mimpi bagi penonton. Sebaliknya Harry Potter dan Titanic mempesona banyak kalangan di dunia tanpa menimbang ras dan bangsa. Ini ini semua menunjukkan bahwa unsur-unsur universal amat menarik semua orang, sementara unsur-unsur lokal cuma menarik penonton atau pembaca dengan budaya yang sama.***

_________22/01/2012
*) Penulis merupakan Dosen FIB Universitas Andalas